Saturday, December 22, 2012

Mixtape Penghujung Tahun : Anestesi Telinga

Tahun 2012, tahun ke 19 dalam kehidupan saya. Penuh luka, duka, dan airmata. Ah sudahlah..

Oke, seperti tradisi pada umumnya, saya juga udah buat sebuah Mixtape yang isinya 12 trek rilisan tahun 2012 pengisi kehidupan saya selama setahun ini. Terimakasih untuk beberapa trek yang telah meng-anestesi telinga hingga hati saya untuk tetap tersenyum di balik terali kegalauan. Totally something, bro.. Hiks..

Here we go..

1. Blur - Under The Westway


Sebuah comeback yang manis untuk menampar wajah-wajah kangen orang-orang yang terus berada di sisi raksasa inggris ini selama masa mati suri-nya.

2. Calvin Harris - I Need Your Love (feat. Ellie Goulding)


Dua lagu duet karya Calvin Harris dalam album ini. Bersama suara renyah ala Ellie, "I Need Your Love" bisa-bisanya menjadi trek yang paling sering saya dengarkan dari album "18 Months" dan "Halcyon".

3. Blink 182 - Boxing Day


"A Fusion!" Kesan pertama dengerin trek yang jadi hit single EP mereka "Dogs Eating Dogs" ini langsung keluar gitu aja. Corak musik yang lebih catchy, dan kalo saya bilang "lebih +44".

4. Arctic Monkeys - R U Mine?


Di rilis dalam bentuk digital dan video via YouTube, track R U Mine cukup memuaskan di komunitas pecinta kuartet Alex-Jamie-Nick-Matt ini. Terlebih lagi, sudah cukup lama para monyet arktik ini tidak merilis lagu dengan tempo cepat setelah album "Suck It and See" dan "Humbug" lebih didominasi lagu dengan tempo relatif lambat.

5. Chairlift - I Belong in Your Arms



Sebuah trek dari album pertama Chairlift sepeninggal Aaron Pfenning. Suara Caroline yang berpadu dengan iringan partnernya, Patrick mengingatkan kita pada pacuan suara Karolina dan juga partnernya Johan dari Club 8. Hanya saja, lebih ngebeat. Hehe..

6. Green Day - Stray Heart.


Kaget juga, di awal quartal kedua tahun ini Green Day mengumumkan akan merilis trilogi album di penghujung tahun 2012. Diambil dari album "iDos!", Green Day menyuguhkan lagu ini dengan lirik yang kebetulan cocok dengan sikon saya. Menohok, tapi asik. Trek terbaik dari trilogi album iUno! iDos! iTre! versi saya.

7. Cloud Nothings - Stay Useless


Bekerja dengan produser sekelas Steve Albini bagi sebuah Cloud Nothings, kemudian menghasilkan trek seperti Stay Useless ini bukanlah sesuatu yang useless. Terlebih, suara Dylan yang terus-menerus menjelajahi otak saya dengan kata-kata "I need time to stop moving, I need time to stay useless" juga menjadikan Stay Useless ini trek ter-catchy sepanjang 2012.

8. Calvin Harris - Sweet Nothing (feat. Florence Welch)


DJ favorit saya berkolaborasi dengan female-singer favorit saya. Sejenak, kamar kosan saya pun berubah menjadi mini club. Eargasm!

9. Wild Nothing - Nocturne


Sebuah trek dari "Proyek Egois" Jack Tatum yang sangat setia menemani saya tidur di kuartal ketiga tahun 2012. Dengan iringan irama shoegaze yang syahdu, mari kita terlelap dengan manjanya.

10. The Walkmen - Heaven


Single pertama dari album yang berjudul sama, Heaven. Cukup sukses secara komerisal dan juga banyak mendapat kritik positif dari kritikus. Coba dengarkan, kamu bisa rasain asiknya trek ini sejak detik pertama.

11. Passion Pit - Constant Conversation


Banyak penafsiran berbeda tentang trek ini, subyektif tiap individunya. Emosional bagi saya, lirik yang ditulis Angelakos ini seperti menunjukkan bagaimana rasanya di titik terendah. Ketika ketidakpastian berjumpa dengan jalan pelarian, ketika kita hanya bisa memandang tanpa bisa bergerak. Inilah..

12. CHVRCHES - The Mother We Share


Rekanan Passion Pit dalam tour ini sukses dengan trek ini dalam merebut hati kritikus musik seperti NME, BBC dan juga Pitchfork. Berkaca pada single "The Mother We Share", full album yang rencananya dirilis tahun 2013 merupakan album yang patut ditunggu.


Silahkan buat kamu yang mau download album mixtape saya, bisa klik gambar di bawah. Semoga sama-sama bisa me-anestesi-kan telinga dan hati kamu di tahun 2013!



Listening to : Green Day - X Kid

Monday, November 19, 2012

Monday, September 10, 2012

Curhat? Bukan..

Teringat sebuah kalimat terkenal yang diucapkan Nietzsche, “He who has any why to live can bear almost any how”. Sebuah kalimat yang hampir mustahil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk memperoleh arti yang sama. Kalimat pendek yang sarat makna. Dalam bahasa saya, saya menyimpulkan artinya begini, “Ketika kita mempunyai segala alasan untuk hidup, kita dipastikan dapat menanggung hampir semua kesulitan dalam hidup kita”. Tapi coba kita negasi-kan kalimat Nietzsche tersebut, bagaimana jika kita tidak punya alasan untuk hidup? Apakah dengan ketiadaan alasan kita untuk hidup artinya kita sulit menanggung hampir semua kesulitan dalam hidup?

Menurut pemahaman saya, jika kita tidak mempunyai satu alasanpun untuk hidup, hidup menjadi hambar dengan tidak adanya rintangan berarti bagi kita. Apakah dengan demikian, hidup menjadi lebih mudah? Tanpa adanya masalah yang memberatkan kita, tanpa adanya tekanan batin yang menyiksa, tanpa adanya motivasi hidup, hanya menjalani hidup monoton yang itu-itu saja tanpa improvisasi dan inovasi yang disebabkan karena tidak adanya alasan untuk hidup tadi…

Jika kita merancu pada kalimat bijak lain, “There are five things that you cannot recover in life. The Stone...after it's thrown. The Word...after it's said. The Occasion...after it's missed. The Time...after it's gone. A person...after they die”, dan jika 5 hal di atas adalah sebuah kesalahan yang pernah kita lakukan, bagi mereka yang tidak mempunyai alasan untuk hidup, apakah “kesalahan” tidak berarti apa-apa sama sekali?

Saya pernah mengalami saat-saat dimana saya merasa tidak mempunyai alasan untuk hidup. Saya membuktikan sendiri bahwa hidup memang terasa hambar dan monoton. Namun, di suatu saat setelah itu saya seperti mendapat pencerahan, saya akhirnya memahami bahwa hidup merupakan serangkaian penyesalan terhadap hal-hal yang saya lakukan di masa lampau, dimana hal yang menarik dari sebuah kehidupan itu sendiri adalah sebuah tantangan “Bagaimana merangkai penyesalan-penyesalan tersebut menjadi pengalaman yang fungsional sebagai modal mempersiapkan diri menatap hari esok”.

Disinilah mencoba membuktikan kata-kata Nietzsche, saya menjadikan “Merangkai segala pengalaman buruk menjadi modal untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih baik di masa depan”, sebagai alasan saya untuk tetap hidup. Tidak akan ada habisnya bukan jika kita selalu membahas sesuatu yang buruk di masa lalu? Apalah arti masa lalu jika kita mempunyai  kemauan untuk menggunakannya untuk sesuatu yang lebih baik di masa depan?

Karena adanya pemikiran semacam itulah, tercipta frasa “Move on”, frasa sederhana namun sakti mandraguna, mudah diucapkan namun sangat sulit untuk dilakukan. Kecenderungan manusia untuk terus menengok ke belakang adalah sebuah batu besar yang sangat sulit dipindahkan. Tidak cukup hanya dengan sebuah alasan hidup untuk dapat memindahkan batu besar tersebut. Simaklah kembali kata-kata Nietzsche, terdapat frasa “can bear ALMOST any how”, dan bukan ditulis “can bear any how”.

Dan bagi saya, hal yang saya wujudkan sebagai batu besar tadi masih terlalu besar untuk dipindahkan oleh alasan saya untuk hidup tadi. Apakah Nietzsche mengalami hal seperti saya ketika menulis kata “almost” di kalimat tersebut? Apakah Nietzsche juga seseorang yang gagal move on? Who knows..

Listening to : Slank - Maafkan

Friday, August 31, 2012

Note to self?

Berlari..
Menghilang..
Entah pengecut atau apapun namanya
Aku tetaplah aku..
Egois? Childish?

Di sinilah aku
Di perasingan aku meratap
Di tempat penantian aku mengais
Di balik teralis aku memendam

Tunggulah..

Aku kan kembali
Aku kan buktikan
Aku kan canangkan
Bahwa aku pantas berada di sana

Listening to : Coldplay - Scientist