Thursday, February 14, 2019

Es Kopi Susu



Mobil-mobil polisi, cahaya merah-biru, dan aspal malam yang basah. Aku terbangun, sirine ninu-ninu menggema hingga kamarmu.
Langkah sepatu bot, berderap riuh mengetuk lantai kayu. Kelinci-kelinci di lorong kabur dari kandang. Bermain-main dengan kotak sepatu.
Asap mengepul tinggi, api sampai di lantai tiga. Dan dia mengetuk pintu. “Halo, apa ada orang?”
Dia mengintip dari lubang di dinding.
Aku tak menjawab.
Dokter menyobek secuil kulitmu, mengambil yang ada di dalam secukupnya, lalu menjahitnya perlahan dengan benang bening tipis mengilap. Ia mengenakan setelan blus berenda hitam sedikit transparan yang bersembunyi di balik jas putihnya. Matamu mengikuti gerakan jarinya, lembut.
“Halo?”
Es kopi susu yang ia pesan untuk kita mulai mengembun. Titik demi titik air mengalir ke dasar gelas plastik. Meja berlapis kaca hitam, basah. Aku mengambil satu gelas, meninggalkan genangan air melingkar. Menenggaknya barbar, tenggorokanku yang kerontang seperti tambang tembaga di Gurun Atacama yang tiba-tiba dilanda banjir bandang hasil hujan deras sepuluh hari di Chile. Polisi mengetuk lagi.
Percuma berpura-pura, menyerah saja lah. Kami banyak di depan,” serunya.
Aku tetap diam. Kau berteriak.
“Apa itu?” katanya, diiringi suara senapan dikokang.
Telunjuk kurus si dokter mendarat di kotak tisu kering. Mengambil selembar, mengolesnya ke sekujur tangan, setelah habis mencuci. Masker sudah dibuka, operasi telah selesai. Ia memiliki mata besar di balik kacamata tebalnya. Kulitnya putih terawat, dengan senyum menipu dan pipi yang merah tanpa bubuk perona. Barangkali ia rajin ke klinik kesehatan kulit. Yah, namanya juga dokter.
Sebuah pesan masuk ke ponselmu. Notifikasi hijau dari grup yang tak begitu penting buatmu, berisi tautan asing dengan utm ig_profile_share dikirim oleh teman sebangku. Kau menekannya.
“He could only consider me as the living corpse of a would-be suicide, a person dead to shame, an idiot ghost.”
Laman Pinterest dengan ajakan untuk bergabung, kau menekan tanda X di ujung kanan atas. Kutipan Dazai tersemat di gambar langit malam bertabur bintang, dengan huruf jenis Helvetica putih tergores tegas.
“Kuhitung sampai tiga atau kami terpaksa masuk,” teriak si polisi. Gesekan jaket kulit yang ia kenakan terdengar sampai kamarmu. Gerakan-gerakan kecil ia buat, peluh mulai membasahi dahinya, tegang.
Kau meraih remot dan menyalakan tv. Saluran berita menyiarkan langsung pemusnahan sarang tawon berdiameter satu meter di Magetan, Jawa Timur, dengan melibatkan Dinas BPBD setempat. Karena struktur rumah terbuat dari kayu, kami tidak memakai api, kata kepala satuan, melainkan tembakan air yang dimodifikasi dengan pestisida.
Kau menguap, mengganti ke saluran lain.
“Satu…”
Persiapan debat pemilihan presiden republik ini telah dimulai. Dua pasang calon diwawancarai. Wartawati muda nan berani menembakkan pertanyaan yang ditangkis dengan jawaban-jawaban diplomatis yang tak inovatif.
“Dua…”
Si dokter mengatupkan tangan. Dagunya maju sedikit, menelengkan kepalanya miring ke kiri. Ia mengangguk kecil, lalu bergumam, “Kalian pilih yang mana?”
“Tiga!”
Kau menggeleng lemah. Keduanya tak menarik bagimu. Petahana kurang memuaskanmu, dan oposisi tak kunjung membawa angin baru.
“Ayolah, sampai kapan propaganda tai kucing meracunimu? Golongan putih-golongan putih sepertimu tak bakal bisa puas sampai kapanpun,” serangnya.
Pintu didobrak, kapten polisi berhasil masuk tanpa hambatan. Tiga orang lainnya bergegas maju melindunginya — barangkali ada kejutan. Ruangan itu hanya menyisakan sebuah ranjang, dua buah kursi bakso dengan cat mulai luntur, lampu meja yang redup, dan perangkat televisi tabung yang menampilkan siaran langsung debat pemilihan presiden.
Aku menyeruput sisa es kopi susu, menghabiskannya.
“Minum es kopi susu itu baik agar kau tak cepat mati, setidaknya begitu sih hasil Konvensi Asosiasi Kopi Pantai Pasifik Ke-88 di Coronado tahun lalu. Tetap tidak diminum? Baiklah kalau begitu. Aku segera bilang penjaga untuk dibukakan. Kalian membosankan, aku tak sabar keluar dari ruangan busuk ini,” keluhnya sambil menenteng dua potong lidah, dua ponsel kita, dan sisa benang jahit yang tak terpakai pada operasi kali ini.
Kau mengabaikannya, meski kau tahu ucapan dokter itu betul adanya. Aku menyodorkan satu gelas padamu, tapi kau menolaknya. Pasrah saja lah. Kita bisa apa, tanyaku padamu dalam hati.
“Ketemu! Mereka di kamar mandi. Jerat mereka dan bawa seperti yang lain,” seru sang kapten di tengah api yang mulai menjalar ke lantai empat. “Beri tahu si dokter jangan pulang dulu. Operasi belum selesai, masih banyak lidah untuk malam ini. Uhuk.”
Aku merebut remot tv darimu dan mengganti salurannya. Pemilihan presiden tinggal sebulan lagi. Dan malam itu, bertambah lagi anggota kamarmu yang gelap berjeruji.

***

Listening to: Ego Wrappin - Inbetweenies