Monday, November 19, 2012

Monday, September 10, 2012

Curhat? Bukan..

Teringat sebuah kalimat terkenal yang diucapkan Nietzsche, “He who has any why to live can bear almost any how”. Sebuah kalimat yang hampir mustahil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk memperoleh arti yang sama. Kalimat pendek yang sarat makna. Dalam bahasa saya, saya menyimpulkan artinya begini, “Ketika kita mempunyai segala alasan untuk hidup, kita dipastikan dapat menanggung hampir semua kesulitan dalam hidup kita”. Tapi coba kita negasi-kan kalimat Nietzsche tersebut, bagaimana jika kita tidak punya alasan untuk hidup? Apakah dengan ketiadaan alasan kita untuk hidup artinya kita sulit menanggung hampir semua kesulitan dalam hidup?

Menurut pemahaman saya, jika kita tidak mempunyai satu alasanpun untuk hidup, hidup menjadi hambar dengan tidak adanya rintangan berarti bagi kita. Apakah dengan demikian, hidup menjadi lebih mudah? Tanpa adanya masalah yang memberatkan kita, tanpa adanya tekanan batin yang menyiksa, tanpa adanya motivasi hidup, hanya menjalani hidup monoton yang itu-itu saja tanpa improvisasi dan inovasi yang disebabkan karena tidak adanya alasan untuk hidup tadi…

Jika kita merancu pada kalimat bijak lain, “There are five things that you cannot recover in life. The Stone...after it's thrown. The Word...after it's said. The Occasion...after it's missed. The Time...after it's gone. A person...after they die”, dan jika 5 hal di atas adalah sebuah kesalahan yang pernah kita lakukan, bagi mereka yang tidak mempunyai alasan untuk hidup, apakah “kesalahan” tidak berarti apa-apa sama sekali?

Saya pernah mengalami saat-saat dimana saya merasa tidak mempunyai alasan untuk hidup. Saya membuktikan sendiri bahwa hidup memang terasa hambar dan monoton. Namun, di suatu saat setelah itu saya seperti mendapat pencerahan, saya akhirnya memahami bahwa hidup merupakan serangkaian penyesalan terhadap hal-hal yang saya lakukan di masa lampau, dimana hal yang menarik dari sebuah kehidupan itu sendiri adalah sebuah tantangan “Bagaimana merangkai penyesalan-penyesalan tersebut menjadi pengalaman yang fungsional sebagai modal mempersiapkan diri menatap hari esok”.

Disinilah mencoba membuktikan kata-kata Nietzsche, saya menjadikan “Merangkai segala pengalaman buruk menjadi modal untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih baik di masa depan”, sebagai alasan saya untuk tetap hidup. Tidak akan ada habisnya bukan jika kita selalu membahas sesuatu yang buruk di masa lalu? Apalah arti masa lalu jika kita mempunyai  kemauan untuk menggunakannya untuk sesuatu yang lebih baik di masa depan?

Karena adanya pemikiran semacam itulah, tercipta frasa “Move on”, frasa sederhana namun sakti mandraguna, mudah diucapkan namun sangat sulit untuk dilakukan. Kecenderungan manusia untuk terus menengok ke belakang adalah sebuah batu besar yang sangat sulit dipindahkan. Tidak cukup hanya dengan sebuah alasan hidup untuk dapat memindahkan batu besar tersebut. Simaklah kembali kata-kata Nietzsche, terdapat frasa “can bear ALMOST any how”, dan bukan ditulis “can bear any how”.

Dan bagi saya, hal yang saya wujudkan sebagai batu besar tadi masih terlalu besar untuk dipindahkan oleh alasan saya untuk hidup tadi. Apakah Nietzsche mengalami hal seperti saya ketika menulis kata “almost” di kalimat tersebut? Apakah Nietzsche juga seseorang yang gagal move on? Who knows..

Listening to : Slank - Maafkan

Friday, August 31, 2012

Note to self?

Berlari..
Menghilang..
Entah pengecut atau apapun namanya
Aku tetaplah aku..
Egois? Childish?

Di sinilah aku
Di perasingan aku meratap
Di tempat penantian aku mengais
Di balik teralis aku memendam

Tunggulah..

Aku kan kembali
Aku kan buktikan
Aku kan canangkan
Bahwa aku pantas berada di sana

Listening to : Coldplay - Scientist

Tuesday, June 19, 2012

Real Heroes : Jakarta Animal Aid Network

Kalo boleh dibilang, lagi mainstream-mainstreamnya saya buat pelihara binatang. Udah sejak 3 minggu ngidam binatang, binatang apapun buat nemenin di kosan. Kebetulan kosan saya friendly ama segala jenis binatang. Selama 3 minggu ini saya browsing kesana kemari, cari ini itu, mulai dari pengen pelihara Anjing, Kucing, Kukang, Owl, Ular, Tupai terbang, Biawak, sampe Monyet Pantai. Gacuma itu, segala yang ada hubungannya dari tempat beli, cara merawat, cara makan, cara pendekatan ama majikan, tontonin semua video tutorial pemeliharaan juga udah dilakuin. Akhirnya, di sela-sela nonton pertandingan Italia vs Irlandia barusan, saya nemuin JAAN (Jakarta Animal Aid Network).

JAAN sendiri adalah organisasi sekumpulan pecinta binatang yang bertujuan untuk menyelamatkan hewan-hewan yang terlantar. Selain itu, JAAN juga bisa mengadopsikan hewan-hewan yang dirawat untuk semua pecinta binatang yang ingin merawatnya. Proses adopsi melalui JAAN tidak gratis, menurut info yang saya dapat, dulu sempat ada beberapa pengadopsi yang tidak bertanggungjawab. Untuk itu, selain dikenakan biaya adopsi, sekarang JAAN juga akan mensurvey calon adopter sebelum mengadopsi.

Menurut info-info yang saya baca di website JAAN , banyak dari binatang-binatang yang dirawat di sana mempunyai masa lalu yang buruk, entah tidak terawat, besar di jalanan, atau lebih parah lagi terancam dibunuh. Karena biaya yang dikeluarkan JAAN untuk merawat binatang-binatang ini juga tidak sedikit, maka JAAN pun membuka peluang bagi anda yang ingin berdonasi untuk binatang-binatang di sana. Bisa dengan uang, barang, mengadopsi binatang-binatang tersebut atau menjadi sukarelawan untuk merawat binatang-binatang yang terlantar.

Coba kamu baca beberapa kisah binatang-binatang ajaib ini, mereka adalah para survivor yang selamat dari cobaan hidup mereka, diselamatkan oleh organisasi ini, dan menunggu untuk diadopsi agar mendapat perawatan yang lebih baik daripada masa lalu mereka. Kalau kamu memang seorang pecinta binatang dan benar-benar berkomitmen untuk memelihara binatang, bisa langsung mengaplikasikan keinginan kamu untuk adopsi ke jaan_adopt@yahoo.com.  

Saya sendiri akhirnya coba buat berani adopsi salah satu binatang dari JAAN, tinggal tunggu waktu yang tepat. Berbuat baik untuk binatang secara mandiri pertama seumur hidup ini nih.

Untuk info lebih lengkap tentang program-program JAAN yang lain, atau ingin melihat list binatang yang siap di adopsi, bisa dilihat di http://jakartaanimalaid.com. Kalau kamu memang peduli pada binatang yang terlantar di sekitar kamu, langsung saja kontak JAAN untuk merawatnya lebih lanjut. Ingat, "Please note that this is an office and not a rescue center and that JAAN has no facilities to take in many unwanted animals. JAAN facilitates to find aid for suffering animals only". Jadi JAAN hanya bertujuan untuk merawat hewan yang menderita saja. JAAN mempunyai kantor khusus untuk kamu yang mau donasi dalam bentuk barang, yaitu di Jl. Kemang Timur 17A, Kemang, Jakarta. JAAN tidak mempunyai kantor khusus untuk merawat binatang-binatang tersebut, binatang-binatang tadi dirawat di rumah masing-masing sukarelawan JAAN. Sekian info yang bisa saya share, semoga bermanfaat. Sayangi binatang seperti menyayangi binimu sendiri, tiada diskriminasi untuk ras-ras atau spesies-spesies binatang tertentu. Tengkyuuuh !

Listening to : Scott Matthew - Felicity