Monday, August 7, 2017

Ambimoron, Oksivalensi, dan Jangan Kamu Nikah Muda (1)


Apa kau tau istilah yang tepat untuk sesuatu yang kau cintai sekaligus benci di waktu yang sama? Aku yakin setiap orang punya satu. Soal cinta dan benci, keduanya berada di kutub yang berbeda, tapi biar bagaimanapun bisa serempak dirasakan. Benarkah, ambivalensi? Benarkah, oksimoron? Entah istilah tepatnya, kata-kata memang terbatas untuk menjelaskan hal-hal tertentu. Yang kutahu, aku sedang menyanyikan salah satunya.

I don't know how, you were diverted
You were perverted too
I don't know how, you were inverted
No one alerted you

Suara George Harrison menderau samar dari speaker mobil, derasnya hujan di luar membuatku menekan tombol volume up beberapa kali. Aku menyanyikannya dengan lantang sambil mengutuk jalan yang macet. Beribu memori seakan bangkit dari kubur begitu While My Guitar Gently Weeps meracau dari playlist acak. Seribu memori baik, seribu memori buruk. Maaf George, aku terlanjur cinta namun sekaligus benci dengannya.

Sudah lama aku tak mengemudi. Apalagi sendirian, di tengah jalanan Jakarta hari Jumat sore. Kalau saja bukan karena Zara, sahabatku -bukan, mantan sahabatku, atau satu-satunya mantan sahabat, atau mantan satu-satunya sahabat yang pernah kumiliki- mengajakku minum kopi di kafe baru miliknya, mana mungkin aku mengiyakan.

Ngomong-ngomong, aku sudah sebulan di sini tapi baru kali ini aku pergi keluar. Maklum, aku tak punya banyak teman dan pada dasarnya aku memang kesulitan mencari teman baru. Selain itu, aku juga butuh waktu bersenang-senang untuk diriku sendiri selepas kuliah. Dengan mengiyakan ajakan Zara, hitung-hitung aku sekaligus mencoba beradaptasi di lingkungan baru.

Dibilang lingkungan baru pun tidak juga, aku tinggal di sini hingga pertengahan kuliah, tapi Jakarta terlalu banyak berubah. Selama tiga tahun di Montreal, aku menangisi penggalan-penggalan memori memuakkan yang kupunya tentang Jakarta : deru klakson kendaraan yang memaksaku bangun tiap subuh, panas matahari jam tujuh pagi, menghabiskan sarapan di mobil saat macet berangkat sekolah, atau menikmati akhir pekan sendirian dengan jalan-jalan tak tahu arah di mall. Sungguh, merindukan hal-hal yang tak lagi kau miliki memang menyiksa, semuak apapun kau pada mereka.

Yah, rindu menghasilkan fantasi kusut yang hanya didesain untuk hal-hal memuakkan yang tak kaumiliki. Terbukti baru sebulan aku pulang, semua yang kurindu akhirnya kembali kumiliki tapi sensasi yang kurasakan hanya rasa kesal tak berkesudahan. Rasanya aku ingin terperangkap saja dalam fantasi kusutku, berenang-renang menyusuri setiap pojok romansanya, tenggelam erat di peluknya, hingga tak kuasa bangkit berdiri. Kupikir aku akan lebih menikmatinya.

Beberapa saat berselang, sebuah bangunan mungil bercat putih dengan papan kayu bertuliskan Resonance merebut perhatian mataku. Aku menyalakan lampu sen, lalu pria tua dengan payung dan stik merah langsung sigap membantuku memarkirkan mobil. Ia memayungiku hingga aku masuk ke dalam kafe. Di meja kasir, Zara berlari menciumku, mengelapku jaket jeans-ku yang sedikit basah dengan tisu, mempersilahkanku duduk, lalu menggenggam erat tanganku sambil tersenyum lebar sebagai ucapan selamat datang. Ia memilih meja di pojok kafe, cukup intim karena dikelilingi pembatas ruangan yang digantungi berbagai macam pot berisi tanaman obat-obatan.

"Aaah, Oyaak! Lama sekali rasanya. Tiga tahun, kan?" sapanya sebelum melepas genggamannya. Dari sekian banyak manusia yang mengenalku, hanya Zara yang memanggilku dengan nama itu. Bahkan kedua orang tuaku tak pernah memanggilku dengan nama seimut itu.

"Berapa lama ya? Aku lupa. Eh, pakai kerudung sekarang?" tanyaku sedikit terkejut melihat perubahan drastis cara Zara membungkus dirinya sekarang.

Tak langsung menjawab, Zara memalingkan muka ke arah pelayan kafe, memberi anggukan kecil, lalu merapatkan telapak tangannya ke dekat pipi kirinya yang tirus. Pelayan datang membagikan menu sambil tersenyum mempersilakan kami memilih dan berdiri menunggu di sebelah kami. Zara menyuruhnya untuk kembali ke tempatnya saja hingga kami selesai memilih pesanan. Setelah itu, ia kembali menoleh padaku.

"Beberapa bulan sebelum menikah. Satu setengah tahun lah. Yah, tak ada yang tahu kapan hidayah dari Tuhan datang padamu, kan?"

"Nggak ada yang tahu, sih. Yang jelas, Ia tak pernah datang padaku."

"Kau ini, masih sama saja."

Aku ingin menimpali seberapa banyak ia berubah tapi untungnya aku mampu menahan diri untuk menyinggung hal itu lebih jauh. Zara yang kukenal adalah Zara yang tak mengenal kata munafik dalam kamusnya. Kamus yang ia miliki penuh dengan kosa kata cemoohan dan ia fasih menggunakannya. Istilah-istilah itu pun dilontarkan dengan jujur, tanpa niat merendahkan. Ia seringkali menjadi yang terdepan dalam mengajukan pendapat, namun sayang mulut jujurnya kurang bisa ia kontrol sehingga banyak yang terluka karenanya. Aku memang tak banyak bicara, tapi aku nyaman sekali dengan cara otaknya bekerja. Hanya dengannya aku betah membuka mulutku lebih lama. Bisa jadi itu yang membuatku dekat dengannya. Bisa jadi pula, itu alasan orang-orang menjauhi kami. Atau bisa jadi, itu lah alasan mantan pacarku selingkuh dengannya.

Kami membolak-balik halaman buku menu. Ia menutup miliknya dan melambaikan tangan ke pelayan kafe. Ia pesan Hazelnut Latte, aku Cold Brew Toraja. Tak lupa, aku minta asbak dan kami berdua sama-sama mengeluarkan sebungkus rokok Marlboro merah dari tas kecil kami.

"Loh, masih merokok?"

"Memang kenapa?"

"Kupikir sebaiknya seorang ibu jangan merokok."

"Aku belum jadi ibu. Si Dhani belum mau punya anak, ingin menikmati waktu bersama sedikit lebih lama."

Aku pertama kali tahu Dhani, mantan pacarku, selingkuh dengannya beberapa bulan setelah aku meninggalkan Jakarta. Pada waktu itu, dia menelponku lewat Skype -kami rutin melakukannya dua hari sekali dan kupikir kami berdua menikmatinya. Ia mengawali pengakuannya dengan menceritakan rasa kehilangannya atas diriku. Ia bilang, aku dan dia bagai pinang dibelah dua. Dengan sifat yang sama, dengan kebiasaan yang sama. Dengan kebutuhan yang sama, dengan selera yang sama. Ia lalu bercerita saat aku pernah bilang aku suka sekali berteman dengan Zara dan akan memacari Zara andai bisa. Kalau aku saja bisa klop dengan Zara, kenapa dia tidak? Sudah sebulan berjalan, katanya. Dengan alasan seperti itu, ia minta aku memaafkannya dan Zara sekaligus. Aku hancur saat mendengarnya, tapi apa yang bisa kuperbuat? Toh, aku juga ikhlas kalau akhirnya dua orang terdekatku bisa saling membahagiakan satu sama lain.

Setahuku, mereka pacaran dua tahun sebelum menikah. Begitu lulus kuliah (keduanya lulus dan wisuda di waktu yang sama, manis bukan?) orang tua Zara mendesak Dhani untuk segera menikahi putrinya. Padahal, Zara berkali-kali menekankan bahwa ia ingin terlebih dahulu menjadi wanita yang mandiri, yang bebas, dan tak terikat oleh nilai-nilai patriarkial keluarganya. Namun apa daya, ide itu ditolak keluarganya mentah-mentah. Makanya, beruntung lah nasibnya karena Dhani akhirnya mau menikahinya. Dengar-dengar, Zara dan Dhani menikah di saat usia mereka sama-sama dua puluh dua tahun. Zara memang tumbuh di keluarga yang konservatif, tapi Zara sendiri kerap cerita betapa muak ia pada lingkungannya. Ia merasa terkekang karena ayahnya yang pemuka adat di kampung, tak ingin dianggap punya anak seorang perawan tua. Jujur saja saat itu aku tak begitu peduli dengan urusan mereka karena aku sendiri masih hancur karenanya.

Lain cerita, Dhani tumbuh bergelimang harta. Orang tuanya memiliki bisnis properti yang cukup sukses. Sebagai anak tunggal, semua keinginannya dengan mudah ia dapatkan. Seperti dua gitar Les Paul, dua amplifier Orange, dan lima perangkat gim konsol berbeda di kamarnya. Sebuah keistimewaan yang tak dimiliki kebanyakan orang, bukan? Namun sayang keistimewaan itu mahal harganya. Orang tua Dhani jarang sekali di rumah, sekalipun di rumah, setengah waktu mereka dihabiskan untuk menerima tamu dan telepon bisnis. Mereka memang memberi Dhani kebebasan yang mutlak, tapi tidak diikuti oleh kepedulian yang tulus. Kalau kau pernah nonton Richie Rich, kira-kira begitulah gambaran masa kecil Dhani.

Pernah ia bercerita tentang anak-anak sebayanya yang mengajaknya berteman hanya karena ia punya segalanya. Kalau teman-temannya mulai bosan, mereka akan meninggalkan Dhani satu-persatu. Sering Dhani merasa kesepian, dan untuk membuat teman-temannya kembali, ia mentraktir mereka jajan atau mereka tak akan kembali sama sekali. Bagaimanapun, Dhani tak pernah punya satu hal krusial yang sewajarnya dimiliki anak-anak : kasih sayang dan ikatan yang tulus dengan orang-orang sekitarnya. Bahkan setiap keluarganya rutin jalan-jalan ke luar negeri, ia terpaksa berkeliling sendirian karena orang tuanya diam-diam punya urusan bisnis di sana.

Semakin dewasa, Dhani sadar masa kecilnya telah dibarter dengan sampah-sampah mahal yang ia miliki. Ia menjadi penyendiri, sibuk dengan dunianya sendiri, enggan berbagi dengan orang lain. Ia takut orang lain hanya akan memanfaatkannya. Ia takut, orang-orang hanya akan menambah jejak buruk rekaman sejarah hidupnya.

***

0 comments:

Post a Comment