Wednesday, June 7, 2017

Ah, Bapak Juga Udud...


Kami berempat dikumpulkan dalam satu ruangan.

Berdiri di sebelah kananku, seorang pria menggendong anaknya yang masih bayi. Sekilas, penampilan mereka biasa saja : sang ayah mengenakan kaos abu-abu polos dan anaknya memakai sweatshirt putih dengan pola gambar-gambar bertema iptek seperti roket atau pesawat ulang alik. Pakaian sang anak agak kedodoran sehingga harus dilipat tiga kali pada bagian lengannya. Diam-diam, kutengok nama yang terpampang di name tag si ayah. Namanya panjang, sampai mesti disusun dua baris atas-bawah. Tulisannya sudah pudar, jadi hanya sedikit yang bisa kubaca : ky di akhir bagian atas dan ke di akhir bagian bawah. Tak mau repot-repot, kupanggil saja dia KyKe. 

KyKe mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Ayah muda ini terlihat trendi saat merokok, terutama saat asap putih tebal mengepul hingga menutupi separuh wajahnya. Saat aku menengok, yang terlihat hanyalah kepulan asap dan sepucuk rambut jambul yang tak kalah nyentrik dibanding gelang Bali yang dipakai anaknya. Kilau mata KyKe angkuh sekali, ia tak segan merokok meski sedang menggendong anaknya. Setahuku, merokok dekat anak berbahaya bagi mereka. Kulihat peringatan itu di mana-mana. Namun seketika itu, aku hanya diam saja.

Di sebelah kiriku berdiri pria paruh baya, lebih tua lima tahun dari KyKe sepertinya. Tatapan matanya dalam, ia pasti sedang berpikir bagaimana caranya berurusan dengan penemuan tak biasa ini. Lagaknya sok jagoan, pikirku. Bagaimana tidak? Malam-malam begini dia bangga sekali pamer lekuk bodi di kuburan. Tanpa sehelai sutra pun yang melekat, dengan percaya diri ia menyalakan sebatang rokok. 

Dihisapnya dalam-dalam rokok tersebut sambil membayangkan skenario awal terjadinya peristiwa ini. Baru pada hisapan kedua, dimensi sirep mulai membawanya jatuh lebih dalam. Terlebih dahulu ia memaparkan, ritualnya akan dimulai dengan memejamkan mata. Kalau sudah begini, ia bakal diam sejenak selama semenit. Lalu saat matanya tiba-tiba melotot nanti, ia akan menyalak kasar sebagai pertanda ia sudah kembali sadar. Tak ada yang tau apa yang dilakukannya di dalam sana. Sebelum menyalakan rokok dan memulai ritualnya, ia sempat peringatkan kami agar tak perlu khawatir jika ia "pergi tidur" nanti. Ia bilang, dalam gelap dunianya, ia berusaha mencari petuah pada arwah leluhurnya soal matinya Pak Surya. 

Tak lama kemudian..

"Kau unta ungu mandul!!" serunya pertanda ritual selesai. Matanya terbelalak seakan tahu sesuatu. Kami mencoba tidak kaget merespon aksinya. "Barusan aku diberitahu Ki dan Nyi Boro, kalau Pak Surya ini sudah mati tiga hari lamanya."

"Pantas saja. Minggu lalu aku berpapasan dengannya di dekat rel yang agak menikung itu, kau tahu kan? Ia batuk hebat, keras sekali, berulang-kali. Aku sempat menyapa tapi ia tak bisa dengar karenanya," ujar Sam yang berada di seberangku.

Sam adalah yang termuda di antara kami. Dengan tubuh semampai dan kulit seputih riak yang kau keluarkan dari tenggorokanmu saat batuk berdahak, tak heran ia jadi favorit kebanyakan orang. Selain itu, ia pribadi yang optimis. Ia dikenal sebagai orang yang tak suka basi-basi serta selalu maju terus jika ada kesempatan apapun terbuka baginya. Meski begitu, sosoknya juga tak sempurna. Sam sempat berbisik pada KyKe, ia kadang merasa tak percaya diri dengan penampilannya, terutama pada bagian bibir yang menurutnya adalah malapetaka. Bibirnya memang mengerikan. Bibir atasnya kering dan kusam tak berona sedangkan bibir bawahnya bengkak-bengkak. Bekas luka kehitaman yang sudah kering tapi dipaksa untuk selalu basah turut menghiasinya pula. Pada bagian tengah bibir bawahnya, menyembul benjolan besar dengan nanah yang menetes sesekali jika pecah. Di sekitarnya, terukir guratan-guratan halus yang sama keringnya, bak menunggu giliran untuk ikut pecah di kemudian hari. Mengenai ucapan Sam atau segenap keluh kesahnya, aku hanya diam saja.

"Lalu bagaimana? Apa tidak sebaiknya kita pindahkan dia sebelum tempat ini tutup lima menit lagi?" KyKe panik.

Tubuh Pak Surya terkulai tak berdaya seperti jasad seorang anonim di ruang otopsi yang tak dirindukan keluarganya. Eh tunggu, ketika kami melentangkan badannya yang masih tengkurap, raga Pak Surya memang nampak seperti jasad anonim di ruang otopsi! Sontak kami berempat terpelanting ke belakang. Menjijikkan, dada Pak Surya mengaga lebar seperti sepatu Converse All-Star yang lima tahun dipakai bermain sepak bola tanpa jeda. 

Dada Pak Surya disobek membujur dari pangkal leher hingga pengujung diafragma. Kau bisa lihat berbagai macam jeroan yang tak dapat kau temui di pasar pagi : paru-paru yang teramat pekat, jantung kering tak berdarah yang terlanjur kaku kekuningan, atau potongan kulit sawo matang berceceran. Potongan itu, masih menyatu dengan daging yang tak lagi segar di langit-langit tenggorokan. Semua lengkap, kecuali tulang-tulang rusuk yang hilang dari tempatnya.

Sam muntah, banyak sekali. Saat ia menoleh, kuperhatikan sisa-sisa muntahan yang masih menetes dari mulutnya makin memperbusuk bibir busuknya lebih busuk lagi. 

KyKe menutup mata bayinya, takut wujud naas Pak Surya dan penampakan bibir Sam menjadi memori pertamanya. 

Pria telanjang yang mengaku titisan Ki dan Nyi Boro menyalak, "Biji sukun!! Demi Sang Hyang Sangkan Paran, ini di luar kendaliku! Dasar kucing erotis otak kutu, siapa pula yang tega membelek dada seorang penjaga gudang tua? Biadab!"

Aku bergeming, tak bersuara. Kutukan apapun yang kumuntahkan juga akan percuma, toh segala makianku hanya akan berbuah diam, seberapa kuatnya aku berseru.

Sambil terengah-engah, Sam meneriakiku, "Hei Arum! Andai tenggorokanmu belum bolong seperti sekarang, kira-kira serapah apa yang bakal kau teriakkan?"

Aku mengeja jawabanku sebisanya menggunakan sandi tangan.......


*

Listening to : Anri - Dancing Blue

Sunday, May 14, 2017

Makanan Pedas (Kecuali Seblak) dan Situs Perjodohan Online


Aku pertama kali mengenalnya lewat situs perjodohan online. Awalnya aku hanya ingin mencari teman makan, sampai kutulis itu di biografi singkat yang tertera di profilku. "Mencari teman makan. Bukan makan seafood, termasuk ikan air tawar. Lebih disukai jika suka makanan pedas (kecuali seblak), atau berkuah, dan bermecin." Hasilnya lumayan juga. Cocoknya selera makanan memang kadang sejalan dengan selera humor. 

Lori misalnya. Kami makan ayam geprek dengan kuah tongseng pada satu waktu. Ia sosok perempuan muda kekinian yang terlampau nasionalis. Kudengar semua kata sandi akun media sosialnya, terutama yang mengharuskan kombinasi angka, huruf, dan huruf besar, berisi tanggal hari-hari peringatan nasional, seperti hari kemerdekaan, sumpah pemuda, hingga kesaktian pancasila. Ia penggila pesimisme, dan mengamini pernyataan legendaris Soe Hok Gie yang diambil dari Friedrich Nietzsche, yang diambil dari seorang filsuf anonim Yunani, Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan, yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Bahagialah mereka yang mati muda. Kurang lebih begitu. Cita-cita nya, pun, mati karena hipotermia di Gunung Semeru. Peniru, dunia ini dipenuhi peniru, pikirku. Sayangnya, sudah lima kali ia memuncaki Mahameru, tapi tak sekalipun berniat mati. Belum umur 27, alasannya. Jadi, dia ini mau masuk klub yang mana, sih?

Di lain hari, aku makan siang di warung Indomie bersama Nadia. Ia mengaku bekerja di sebuah kantor percetakan digital, bertugas membagikan nomor antrean, mempersilakan duduk, memanggil nama, mengambilkan permen, juga sesekali bercengkerama dengan pengunjung tetapnya. Nadia orang yang menarik, meski kubilang diperlakukan bak robot, ia malah tersenyum kambing, menyebut dirinya sendiri kaleng besi yang dikutuk untuk selalu bahagia dengan pekerjaannya. Baginya, bertemu orang-orang baru tanpa menjalin relasi lebih lanjut adalah taktik tersendiri untuk mengobati gangguan kecemasan yang ia derita. Maklum, ia terpaksa bersahabat dengan kekhawatiran berlebih acapkali seseorang mencoba menjadi temannya. Entah, mungkin ia mengidap trauma atau apalah, aku tak ingin mencampuri privasinya.

Hari ini, sekitar dua jam yang lalu, aku makan dengannya, dengan Tania. Dari semua perempuan yang kukenal lewat situs perjodohan itu, Tania lah yang paling cocok menemaniku makan soto babat, hanya saja hari ini aku sedang tidak ingin makan soto babat.

"Jadi yang benar sai-fai atau sai-fi?"
"Kau kuno, jaman sekarang orang mendebatkan wai-fai dan wai-fi."
"Lho, fiction dibaca fiksyen, bukan faiksyen."
"Dan fidelity dibaca fideliti, bukan faideliti, apalagi faidelitai."
"Hei, jangan mengolok. Aku tahu te-ye dibaca ti"

Percakapan enteng macam ini lah yang kusukai dari Tania. Lori terlalu serius dan Nadia terlalu sensitif. Salah berkata-kata, bisa-bisa aku harus mengeluarkan kemampuan khususku : mengalah. Mengalah itu sulit lho, aku harus membaca 613 halaman buku Seni Mengalah Kontemporer, Panduan bagi Pria Pegiat Online Dating terjemahan Aris Suwandi dan mengulangnya tiga kali dalam sebulan agar ilmunya benar-benar khatam. Sungguh, mengalah menguras banyak tenaga. Apalagi setelah mengalah, aku juga diharuskan berikhlas. Itu artinya aku harus membaca edisi kedua buku Aris Suwandi (kali ini karangannya sendiri) yang lebih tebal 170 halaman. Lagipula manusia tolol mana yang bilang ikhlas itu gampang? Ikhlasin aja udah. 

"Aku akan (kraus) bunuh diri saja (kraus). Rencananya besok (kraus) aku pergi ke kantor seperti biasanya (kraus) tapi langsung bergegas ke roof top", seorang wanita berpolo biru kedodoran di meja sebelahku meracau kesal.

"Lalu?", rekan kerjanya, tentu dengan setelan serupa (kurasa itu seragam kantor), menimpali. Ia tampak tak tertarik sedikitpun menanggapi temannya meracau. Namun, sebagai teman kantor yang baik, kurasa ia memaksa dirinya untuk lebih bersimpati terhadap temannya.

"Aku tinggal lompat (kraus) dan yah... kau dan seisi kantor (kraus) tak akan pernah mendengar keluhanku lagi. Mayatku akan tercerai-berai (kraus) di depan lobi dan si keparat itu (kraus) akan kaget saat membaca surat (kraus) yang akan kuselipkan di saku kanan celanaku", katanya menyudahi. Raut wajahnya tetap serius, meski sembari mengunyah gorengan kering khas warung.

Bodoh, batinku. Orang macam apa yang menceritakan rencana bunuh diri keras-keras di warung gulai ayam? Lagipula rencana itu tak ada spesial-spesialnya. Mungkin akan lebih baik kalau rencananya lebih rumit. Misalnya, mencongkel gigi geraham dengan pecahan botol kecap lalu makan garam tiga toples tanpa minum dan diakhiri dengan memasukkan gantungan kunci berbentuk koala ke dalam pantat. Pengunjung lain bisa saja tertegun saat menguping. Di masa ini, orang suka yang rumit-rumit tanpa harus mengetahui maksudnya.

"Ngomong-ngomong, aku pernah lho, mau bunuh diri," Tania seperti tahu apa yang kupikirkan. "Aku pernah berencana mengikat tubuhku di roket Taepodong II, berharap mati perlahan karena kedinginan atau kehabisan oksigen setelah memasuki stratosfer, lalu memejamkan mata dan menyimpan keindahan potret bumi dari ketinggian 20.000 meter sebagai memori terakhirku".

"Ntap, itu baru rencana bunuh diri yang komprehensif. Rencana yang terencana, itu baru rencana! Kenapa batal kau lakukan?"

"Yang benar saja! Tiket ke Pyongyang mahal, lagipula Taepodong II hanya tinggal propaganda usang. Bahkan Amerika melabelinya Penis Putih Raksasa yang Tak Bisa Ereksi, apa asyiknya mati menempel di penis impoten raksasa?".

Saat itu juga, kekalutan dan rasa takjub menyelimutiku dalam waktu bersamaan. Luar biasa, tak kusangka para penikmat makanan pedas (kecuali seblak), atau berkuah, dan bermecin yang bukan seafood, termasuk ikan air tawar, memiliki tendensi suicidal yang tinggi. Ini fakta mengejutkan. Seharusnya kutulis saja penemuan ini ke dalam sebuah artikel clickbait kekinian, Hati-hati, Inilah Bahaya Jika Kamu Tidak Makan Seafood, Termasuk Ikan Air Tawar, Tapi Suka Makanan Pedas (Kecuali Seblak), atau Berkuah, dan Bermecin! Aku yakin, artikel ini pasti menghasilkan traffic yang luar biasa besar. Orang yang hidup di abad ke-21 memang suka hal-hal trivial seperti itu. Atau apesnya, tidak lolos kurasi karena judulnya terlalu panjang. Yang pasti, fakta kecenderungan bunuh diri pemuda-pemudi generasi ini hampir bisa dipastikan disebabkan oleh jenis makanan yang kusukai.

"Heh! Kenapa melamun? Lagi mikirin soal mati ya?", ujar Tania sambil menowel tanganku.

Tunggu... Penulis-penulis yang dianggap hebat selalu membunuh karakter kesayangan mereka dalam fiksinya sendiri. Apa spesialnya kematian? Apa memang tak ada yang lebih asyik dari kematian? Apa akhir harus selalu diakhiri dengan kematian? Apa romantisnya kehampaan setelah nafasmu berhenti berhembus dan darahmu berhenti mengalir? 

Mungkin aku hanya tak paham seni yang dikandung kematian. Bagiku, ia hanya tidak hidup. Layaknya pepatah pengusung optimisme, kosong hanya berarti tidak berisi dan gelap hanya berarti tidak bercahaya.

Kalau dipikir-pikir, aku ini lumayan narsistik. Dan kalau aku ingin menganggap diriku sehebat penulis-penulis yang dianggap hebat, aku akan membunuh karakter-karakter kesayanganku. Aku akan membunuh Lori dengan ayam geprek cabe 200 biji hingga lambungnya menyusut menyerupai usus dan ususnya mengembang menyerupai lambung. Aku akan membunuh Nadia dengan Indomie goreng dobel kadaluarsa lima tahun yang ia temukan tak sengaja di gudang printer kantornya saat sedang jaga malam, dan Tania -maaf aku membunuhmu sebelum membuatmu lebih spesial- dengan soto babat yang mangkuknya dicuci dengan air bekas limbah rumah sakit di sebelahnya, kabarnya air itu mengalir dari ruang perawatan khusus hepatitis yang luber sejak seminggu lalu. Karena kesal, aku akan mengabulkan keinginan perempuan meja sebelah, dengan kematian membosankan yang sudah ia rencanakan matang-matang. Serta temannya -yang tidak begitu penting di kisah ini- dengan mati tersedak gorengan kering khas warung gulai ayam yang dibungkus dari sisa sehari sebelumnya karena kaget mengira temannya hanya bercanda. 

Dan aku. Aku akan membunuh aku dengan kematian yang lebih dahsyat dari segala cara mati yang pernah diciptakan manusia : hidup.

***

Listening to : Father John Misty - Ballad of the Dying Man

Tuesday, October 25, 2016

Senja di Manggarai


Kereta terakhir berangkat dari Stasiun Manggarai. Hujan kembali datang setelah tak lama pergi. Di antara tembok-tembok penuh graffiti, aku bertanya kepada diriku sendiri, mengapa harus diriku? Mengapa selalu diriku? Rasa kesal sekaligus penasaran menusukku bergantian. Aku ingat momen selebrasi gol Mario Balotelli ke gawang Manchester United yang kontroversial itu, memamerkan kaos bertuliskan "Why always me?" disertai mimik wajah yang penuh emosi. Kini, aku tahu rasanya.

Lima jam yang lalu, aku pergi ke bioskop dengan Mila, rekan kerjaku. Sepanjang menonton film, terdengar kikikan khasnya beberapa kali. Jika kuingat-ingat, suara itu terdengar di bagian film yang tidak lucu sama sekali, setidaknya buatku.

Seusai nonton, kutanya dia soal hal yang menggelitiknya sepanjang film.

"Memangnya apanya yang lucu? Tadi itu film drama thriller, tapi kau tak ada tegang-tegangnya".

"Siapa bilang aku tak tegang? Kau harus tahu, tak mudah menulis skenario film secantik itu. Plotnya sangat rapat, detailnya hampir sempurna. Aku tertawa saking kagumnya".

"Jadi, maksudmu tak ada hal yang lucu?

"Bukan begitu, aku hanya heran, apa yang dibayangkan orang-orang itu waktu menulis filmnya. Maksudku, kau tau lah, setiap detik, banyak hal yang tak sadar kau lakukan secara otomatis, seperti rasa risih melihat air embun dari botol minum dingin yang menggenang di atas meja, lalu kau mengambil tissue untuk mengelapnya, kemudian kau curi-curi pandang memperhatikan proses kapilaritas tissue yang mulai basah itu. Orang-orang ini, cukup peka memasukkan hal-hal semacam itu ke dalam frame demi frame," kata Mila dengan tempo cepat, tangannya bergerak-gerak mencoba membuat rekaan visual tentang apa yang Ia jelaskan.

"Aku mengerti. Ternyata kau suka yang seperti itu", timpalku sedikit ketus. Sejujurnya aku suka pembahasan seperti ini, tapi aku terlalu lelah untuk melanjutkannya.

Mila memang cerewet. Di sela-sela kecerewetannya, aku paling suka cara hidungnya kembang kempis setiap kali cekikikan. Apalagi jika angin kencang meniup rambutnya dari belakang ke depan hingga menutupi wajahnya. Dengan rambut seperti ditambah kikikan khasnya, bentuk Mila seperti Sadako yang sedang tersedak kacang polong.

***

Kami berdua berjalan kaki melewati jalan aspal yang becek, lalu berhenti di sebuah warung makanan Jepang. Aku memesan miso ramen dengan irisan daging sapi, sementara Mila membuka bekalnya. 

Antrean masakan saat itu lebih panjang dari biasanya, jadi kami hanya duduk menunggu sambil menyalakan smartphone masing-masing. Sudah jadi aturan tak tertulis bagi kami, tidak ada smartphone di antara kami selagi menonton.

"Kau sudah tau, setelah ini kau mau apa?", Mila membuka obrolan sambil memasukkan smartphone-nya ke tas kecilnya. "Maksudku, setelah kau resmi resign tadi sore".

Aku hanya diam dan menggelengkan kepala. Giliranku memasukkan smartphone ke dalam saku.

"Hey, apa pun keputusanmu, jangan pernah kau sesali", hibur Mila. Tiap kali Mila berkata bijak, senyumnya selalu mengikuti. Tak ada orang yang tak merasa teduh dibuatnya. Wanita ini istimewa.

"Tidak, hanya saja, terlalu banyak yang terjadi belakangan ini. Semuanya masih terngiang di kepalaku".

Aku tidak bohong. Kemarin, adikku masuk rumah sakit setelah dikeroyok teman-temannya di sekolah barunya. Ini sudah ketiga kalinya, hanya saja kali ini yang paling parah. Tengkorak belakang adikku retak dan tiga tulang rusuknya patah. Polisi juga memberi tahu bahwa tulang mata kakinya pecah akibat pukulan benda tumpul. Sebelumnya, adikku harus pindah-pindah sekolah karena alasan serupa. Penyebabnya pun mudah ditebak. Dua tahun lalu, aku mendengar berita tentang kemunculan ayahku yang sejak kecil sudah menghilang dari hidupku. 

Yang kutahu dari ayahku hanyalah, ia tumbuh sebagai yatim piatu yang memiliki pendirian keras. Ibuku sering bercerita tentang betapa gagahnya ayahku membela diri jika orang lain menghina apa yang ia yakini. Ibu juga menggambarkan ayahku sebagai sosok idealis yang berani menentang segala tindakan opresi orde baru di kampungku saat itu. Dari cara ibu bercerita, sudah jelas ia masih dan akan selalu mengagumi ayah, meski ayah memilih meninggalkan ibu dan anak-anaknya tanpa pamit.

Tiba-tiba, aku menjumpai wajahnya yang sudah samar dalam ingatanku lewat video YouTube yang dikirim oleh teman pesantrenku di kampung. Tidak lama setelah ledakan bom di Manhattan, New York, awal tahun itu, tampak ayahku dan beberapa temannya mengklaim teror itu sebagai buah tangannya. Gedung yang dikenal sebagai Wall Street Building itu luluh lantak, dengan korban lebih dari 500 jiwa. Seluruh dunia berkabung. Berita soal itu pun tersebar luas, semua orang membicarakannya. Di Indonesia, tentu hal ini menjadi sebuah sensasi. Apalagi karena dalang teror di ibukota ekonomi dunia itu ternyata seorang warga Indonesia.

Imbasnya, saat itu ibuku harus berurusan dengan pihak intelejen, polisi, wartawan, hingga semua orang yang hanya sekedar ingin memastikan kabar itu. Tak hanya itu, ibuku kehilangan pekerjaannya. Bukan dipecat karena mantan suaminya adalah seorang teroris kelas kakap, tapi karena terlalu sibuk menghadiri pertemuan dengan orang-orang yang ingin mengorek informasi lebih dalam lagi. Lebih parah lagi, seketika itu juga, keluarga besar kami seakan tidak ingin berurusan dengan kami. Mereka membiarkan kami menanggung beban ini sendirian.

Saat itu, ibuku tidak ingin anak-anaknya terlibat lebih jauh dalam kondisi ini. Ia melarang wartawan mewawancaraiku atau adikku, yang bahkan belum akil balik. Ia tidak tega menambah tekanan dua orang bocah yang masih tenggelam dalam kekalutan yang tak bisa dijelaskan.

Semenjak kejadian itu, ibu dan adikku harus pindah-pindah rumah. Di saat yang sama, aku sudah pindah ke Depok untuk kuliah di Universitas Indonesia. Sebagai anak tertua, aku merasa berkewajiban memberi sumbangsih lebih bagi keluargaku, terutama di masa-masa sulit kala itu. Aku sempat bekerja sambilan menjadi barista di coffee shop ternama di dekat kampus. Aku harus menjalani kuliah di siang hari, dan mengambil shift ekstra tiap malam. Untungnya, kehidupan sosialku tak terhambat karena teman-temanku juga sering datang ke tempatku bekerja, apalagi pekerjaanku bisa dibilang santai.

Belakangan ini, ibuku masih disibukkan dengan urusan ayahku sementara aku bekerja sebagai financial advisor di sebuah firma keuangan. Setiap siang, kami saling menelepon menanyakan kabar masing-masing. Baik aku maupun ibuku saling memberi kabar baik satu sama lain, meski kami berdua tahu, kami sama-sama berbohong. Di tengah apa yang menimpanya, ibu selalu menekankan betapa penting menjaga kesehatan. Dari yang kutahu, ibu sendiri lah yang memaksakan diri untuk membela habis-habisan mantan suaminya itu. Meski sudah berpisah, tetapi ibu selalu berpikir ayahku masih lah orang yang sama. Hal itu menguras tenaganya. Terakhir kali kulihat foto ibu di media, aku seperti tidak mengenalinya. Berat badannya menyusut drastis, kantung matanya semakin jelas terlihat. Kerutan-kerutan di sekujur wajahnya terlihat jelas mengintip dari balik makeup-nya. Namun, satu yang tidak berubah, matanya yang tajam menyimpan semangat untuk membuktikan sesuatu.

Kukira tidak ada yang lebih buruk dari semua hal yang sudah kulalui. Tapi aku salah. Kejadian itu bermula kemarin siang. Berita tentang meninggalnya ayahku menggema di semua media. Ayahku dikabarkan tewas saat drone operasi gabungan sekutu menggempurnya di pinggiran kota Al Raqqa, Syria Utara. Foto tubuh ayahku yang sudah terkoyak-koyak berlumuran darah dan debu tersebar di mana-mana. Hal itu tentu menjadi berita gembira bagi kebanyakan warga di seluruh dunia dan sejujurnya begitu pula bagiku, tapi tidak untuk ibuku. Seketika itu juga, Ibu menangis tak berdaya. Di waktu yang sama, teman-teman adikku mengolok-oloknya di sekolah. Mereka merayakan kematian ayahku tepat di depan muka adikku. Meski adikku juga benci kepada ayah, lama-kelamaan kalimat yang dilontarkan teman-temannya membuatnya geram. Tak tahan diperolok, Ia bangkit melawan. Tapi apa daya, Ia malah babak belur. Ada yang bilang, bahkan beberapa guru ikut memukulinya. Kondisi ini memaksaku untuk cepat-cepat pulang dan aku tahu ini saatnya aku turun gunung untuk mengurus keluargaku. Maka dari itu, tadi pagi aku putuskan untuk resign saja. Untung atasanku mengerti keadaanku, jadi aku tak perlu mengikuti kebijakan resignation notice seperti karyawan kebanyakan. Aku bisa langsung berhenti bekerja.

Bagiku, nonton film bersama Mila adalah satu-satunya jalan untuk menjaga kualitas spiritualku tetap pada treknya. Bagiku, bersama Mila adalah satu-satunya sumber penghiburan yang bisa menutup kekalutan yang sedang kulalui. Lagipula, jadwal penerbanganku masih dini hari nanti.

"Hey! Jangan bengong! Makananmu sudah datang", Mila membangunkanku dari lamunan. "Aku memang tak bisa membayangkan apa yang kau rasakan, makanya aku di sini untuk menghiburmu. Jadi jangan malah membuatku ikut bersedih".

"Maaf, Mil. Aku juga bingung harus bagaimana."

"Sudah, habiskan dulu makananmu, lalu antar aku ke Manggarai. Sebagai tanda perpisahan, kita harus foto untuk kenang-kenangan! Aku tak mungkin mengunjungimu jauh-jauh ke Aceh, bukan?".

"Memangnya kenapa?"

"Hmm...", Mila berhenti sejenak, "Bukankah kau pernah bilang masuk ke kampungmu saja aku tidak boleh, ya?".

"Boleh saja, asal kau pakai kerudung. Semua orang akan menyangkamu Muslim".

"Kau bercanda, tidak ada Muslim yang memiliki ini", kata Mila sambil menunjukkan tattoo salib mungil di pergelangan tangannya.

"Hahaha... Kau tutupi saja dengan jam tanganmu", jawabku terkekeh.

***

Dua jam berlalu sejak kami berada di warung itu. Langit yang tadinya kemerahan sudah berubah gelap. Lampu-lampu jalan dan kendaraan bermotor mulai memenuhi jalanan Menteng. Bisingnya mesin-mesin mobil serta klakson yang saling bersahutan menjadi hal yang akan selalu kurindukan dari Jakarta, selain Mila tentunya. Aku dan Mila berjalan perlahan menyusuri trotoar yang mulai kering menuju stasiun Manggarai. Beberapa anak kecil berlarian mendahului kami. Kulihat salah satunya memakai kaos biru muda bergaris putih bertuliskan Messi dengan nomor 10 di punggungnya. Salah satu anak lainnya memakai kaos merah dengan nama Ibrahimovic.

"Lihat, Messi dan Ibrahimovic sekarang sudah akur", kata Mila cekikikan.

Mila suka sekali dengan Messi, sedangkan aku mengidolakan Ibrahimovic. Messi dan Ibrahimovic dikabarkan tidak pernah akur, meski keduanya saling mengagumi. Begitu pula aku dan Mila.

"Kalau kita, kapan akurnya?"

"Tentu bisa, kau tahu syaratnya."

"Kau tahu kan, buatku yang kafir ini, itu bukan pokok masalahnya. Aku harus melangkahi dulu mayat ibuku sebelum bisa pindah agama.", jawabku bercanda.

"Kau ini, jaga bicaramu."

Meski kami memeluk agama yang berbeda, hal itu tidak menjadi masalah besar bagi kami masing-masing. Aku dan Mila sama-sama bukan pemeluk agama yang taat. Bahkan, lelucon soal keyakinan kami pun sudah menjadi santapan kami sehari-hari. Tentunya, terkadang lelucon ini bisa berakhir menjadi debat yang tegang dan panjang. Tapi, kami selalu menikmatinya. Kami sadar, satu-satunya yang menjadi penghalang hubungan kami hanya orang tua kami. Kami sering bercanda, siapapun yang kehilangan orang tuanya lebih dulu, Ia lah yang harus pindah agama. Oleh karena itu, berteman seperti ini pun tidak masalah walaupun rasa kagum memang tumbuh di antara kami.

Kami berdua tertawa kecil hingga pintu masuk stasiun. Selama beberapa saat, tidak ada satu pun kalimat keluar dari mulut kami. Kami hanya saling menatap, menghabiskan sisa-sisa waktu terakhir bersama dalam diam, berusaha memahami perasaan satu sama lain lewat keheningan, berusaha memetakan segala kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan, dan pada akhirnya kami hanya bisa tersenyum.

"Cukup lah, keretaku sudah di sini. Aku pamit, Rif. Ingat, kau harus kuat!", kata Mila mencairkan suasana sambil menyiapkan kartu tiket elektroniknya.

Aku hanya bisa tersenyum sambil melambaikan tangan. Hanya itu yang bisa kulakukan meski aku tahu, setelah ini aku mungkin tak akan bertemu lagi dengan Mila.

"Oh iya, Rif. Kabari aku jika kau benar-benar pindah agama! Hahaha selamat tinggal!", tungkas Mila diakhiri dengan kikikan pamungkas, yang mungkin terakhir kali kudengar langsung.

Mila berlari masuk ke dalam stasiun sambil melambaikan tangan. Aku membalasnya dengan membentuk gestur telepon di samping telinga. Bibirku membentuk isyarat bahwa aku akan meneleponnya sesampainya aku di kampung.

Tak lama, smartphone-ku bergetar. Muncul wajah pamanku di layar smartphone. Pamanku dari keluarga ibu menelepon. Terakhir kali aku menjumpainya, wajahnya yang penuh amarah lah yang mengeluarkan kata-kata kasar kepada ibu, berkali-kali mengemukakan rasa malunya karena hal yang dilakukan ayahku. Saat itu pula, disaksikan puluhan orang, Ia dengan emosi mengusir kami dari keluarga besarnya. 

Aku tidak menjawab panggilan telepon pamanku. Hingga beberapa kali kutolak panggilan teleponnya, akhirnya Ia mengirim pesan singkat.

"Arif, cepat pulang. Terjadi sesuatu di rumah sakit."

Perasaanku tak enak. Aku segera melupakan masalah pamanku dan segera meneleponnya.

"Assalamualaikum. Maaf, Paman. Kenapa adikku?"

"Walaikumsalam Rif. Bukan adikmu. Ibumu...."

Ibuku ditemukan di sebelah adikku yang masih koma di rumah sakit, tertelungkup kaku dengan mulut berbusa tanpa meninggalkan sepucuk surat pun kecuali sebuah gelas dan sebotol pembasmi serangga di kamar mandi rumah sakit. Tak ada lagi sorot mata tajamnya, juga, tak ada lagi kobaran semangat yang terpancar dari dalamnya. Yang ada hanya sepasang bola mata penuh dengan rasa putus asa. Tatapan kosong yang seolah memberi tahu tiada masa depan yang bisa ia perjuangkan, meski ia sadar kehadiranku dan bahkan adikku yang tengah sekarat.

Tubuhku gemetar. Mulutku komat kamit seperti ingin mengucap sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa. Udara di sekitarku menjadi lebih dingin dari biasanya. Rasa kesal dan penasaran menusukku bergantian. Kesal, pada orang-orang yang bertindak konyol karena sesuatu yang kau sebut "cinta" yang terlalu erat pada orang lain. Penasaran, soal alasan rasional seseorang yang mengatasnamakan "cinta" untuk melakukan tindakan-tindakan konyol. Seperti ayahku pada keyakinannya. Seperti ibuku pada mantan suaminya. Seperti adikku pada harga dirinya.

Kenapa harus diriku? Kenapa selalu diriku? Bukan... Kenapa harus orang-orang di sekitarku?

Entah apa yang harus kusampaikan pada Mila yang baru beberapa menit lalu mengucapkan salam perpisahan buatku, dan di saat yang sama aku kehilangan orang tuaku tanpa sempat berpamitan. Aku harap ini hanya bagian dari plot sempurna yang Mila ceritakan.

Yang jelas, beberapa menit lalu, aku memang sudah memetakan kondisi ini dari segala kemungkinan yang bisa terjadi saat menatap mata Mila. Akhirnya, yang bisa kulakukan hanya tersenyum dan berjalan pulang, tanpa menengok ke belakang.



***

Listening to : Nogizaka46 - Sayonara No Imi

Friday, July 29, 2016

Surat Cinta Sarjana Muda


Apa yang lebih buruk dari sarang tawon yang tiba-tiba ada di slider korden jendela kamarmu?

Mungkin ada. Banyak, malah. 

Koloni semut yang biasa lewat jalur itu kini harus memutar lebih jauh agar terhindar dari keluarga serangga predator itu. Bersyukurlah mereka, meski kelasnya teri, tawon lah penguasa rantai makanan.

Tunggu.... Tawon tak memangsa semut. Ingat A Bug's Life? Mereka cuma memperbudak semut!

Mari kita revisi : Bersyukurlah mereka akan punahnya cicak. Ketidakseimbangan alam yang digadang-gadang terjadi karena perubahan iklim akhirnya benar-benar datang. Konon katanya bangsa reptil tidak tahan panas, setidaknya itu yang kupelajari ketika nonton Jurassic Park, bukannya National Geographic. Separuh dari mereka mati dalam kurun setahun setelah organisasi sains internasional menyepakati patokan suhu kamar kini berada di angka 31 derajat Celcius, naik 1 derajat dari tahun lalu.

Hanya sedikit yang tahu, suhu harian di Tel Aviv bahkan telah mencapai 45 derajat Celcius. Kau boleh bertanya, untuk apa Tuhan menjanjikan tanah Kanaan pada orang Israel, jika belum genap 3500 tahun pun tanah terjanji terasa lebih dekat dengan neraka?

Tidak semua manusia bersedih. Perubahan Iklim yang ekstrem dipandang sebagai sesuatu yang menggembirakan bagi segelintir orang, seperti sales otomotif misalnya, atau bosnya, terutama. Kenaikan permintaan kendaraan roda empat melonjak naik dari tahun ke tahun, berbanding lurus dengan kebutuhan dimensi ruang, bagi masyarakat kota, khususnya.

Berbahagialah kalian wahai putra-putri Adam, jika warisan dalam bentuk rumah masih jadi tradisi keluarga kalian. Atau setidaknya, nama kalian lah yang terlanjur tercatat pada moda investasi jangka panjang yang dikelola oleh perusahaan Venture Capital ternama.

Kini kita semua tahu, tikus got pun harus rela berbagi tempat berteduhnya dengan ratusan kecoa terbang. Keberanian mereka menyeberang jalan raya -dan tergencet hingga tercerai berai- yang termahsyur itu kini tinggal legenda. Lebih banyak kendaraan yang berhenti dibanding yang melaju. Orang-orang yang dulu selalu mengutuk situasi macam ini, sekarang jadi terbiasa karenanya. Secara empiris, waktu tempuh bertambah berkali-kali lipat lebih lama. Secara bisnis, negaramu kini tak berkembang.

Menyetel musik dengan volume kencang tidak lagi menjadi tren. Tetanggamu bisa menggorokmu tiba-tiba, seperti yang terjadi di rusun sebelah baru-baru ini. Bercengkerama hingga tengah malam pun mereka tidak berani. Setidaknya, meminimalisir kebisingan jadi norma yang terlalu diagungkan.

Ah, nikmatnya menyedot seplastik nutrisari jeruk dingin saat kau tak tahu apa yang akan kau lakukan untuk hidupmu 24 jam ke depan. Akankah kau lagi-lagi sengaja melewatkan siangmu yang panas dengan terbang ke dunia imajiner, atau tetap menunggu email balasan tim rekrutmen dan terus menerus mengutuk dirimu sendiri?

Oke, mungkin itu lebih buruk dari sarang tawon di slider korden jendela kamarku.



***

Listening to : First Aid Kit - Walk Unafraid