Thursday, June 27, 2019

Empat Puluh Hari


Dulu aku tidak bisa bayangkan seandainya aku harus tidur dengan istri yang baru bisa tidur dengan lampu mati. Gelap dan sunyi, menyedihkan rasanya. Hanya sudut tertentu di kamar yang bisa kau pandangi dari matamu yang malu-malu menyembul dari balik selimut tebalmu, seperti cahaya nanar lampu penanda suhu AC di atas tirai warna krem yang tak pernah kau ganti, atau semburat pantulan lampu itu di gantungan baju besi di seberangnya. Jika lagi beruntung, secercah cahaya kuning lemah berhasil masuk melewati sempitnya lubang ventilasi yang kini tertutup kertas HVS — untung saja lemnya tidak rapi — dari lobi indekos.

Sedari kecil, ada banyak hal yang membuatku takut tidur di keadaan gelap — dan sunyi sempurna, tentu saja  bahkan sampai setelah aku dewasa dan sedang bersiap menyambut anak keduaku. Yang pertama, kasurku empuk. Saking empuknya, denyut di tulang belakang terasa kencang, menjalar dari ujung rambut hingga kuku jari kakiku, seakan tubuhku dihuyung ombak saat berlayar, atau lebih parah, digoyang bumi dengan gempanya. Kebetulan, aku berada di Yogyakarta saat gempa 2006 memorakporandakan kota kelahiranku dengan kekuatan yang tak main-main, 5.9 skala Richter selama hampir 57 detik pada jam 5:55 pagi. Jadi traumaku pada goncangan tak terduga cukup beralasan, bukan? Terlebih, instingku untuk selalu siaga menilik ada atau tidaknya gerakan pada air minum di dalam botol yang selalu kusiapkan di meja riasku tiap kali ada goncangan (istriku kerap menggerakkan kakinya saat tidur) membuatku bergantung pada hadirnya cahaya agar bisa terlelap dalam damai.

Ngomong-ngomong, tadi malam aku mendapatkannya, satu pejaman terakhir dengan lampu menyala heboh seperti sedang persiapan konser orkestra. Istriku yang perutnya seperti habis memakan galon tidak pernah menampilkan wajah sejelek itu. Pipinya merah karena gemetar hebat, mulutnya terbuka setengah dan sesekali, air mata yang mengalir deras dari kedua matanya masuk ke mulutnya. Rasa asin dari air mata atau ingus — yang mungkin merusak momen — tidak diacuhkannya dengan tetap sesenggukan dan malas mengelapnya dengan tisu. Anakku menyaksikan drama ibunya dari balik daun pintu kamar paviliun Edelweis bernomor 4. Adik iparku memeluknya erat. Namun, ia tidak menangis. Wajahnya seperti tampang aktor di panggung yang kebingungan karena lupa skenario, tidak bisa mengikuti arah cerita yang disiapkan untuknya. Ia terlalu kecil untuk tahu kalau kehilangan seorang ayah adalah peristiwa yang sama sekali tidak menyenangkan.

Hari ini adalah hari di mana keluargaku direpotkan dengan urusan pemandian jenazah, rumah duka, pemakaman, dan berbasa-basi dengan sanak saudara, atau teman-teman lama kami. Istriku belum tidur, terhitung 28 jam lamanya sejak bangun dari samping ranjang paviliun tempatku berbaring selama empat bulan. Aku suka tidur-tiduran, tapi jika kau melakukannya empat bulan penuh, punggungmu rasanya tak karuan. Delapan jam yang lalu, saat istriku dan dua orang suster memandikan jasadku, aku bisa melihat luka mengelupas di punggungku. Pantas saja, dengan berat badanku yang semakin menurun akhir-akhir ini, rasanya punggungku hanya diisi tulang belakang dan berjubah kulit tanpa daging satu gram pun.

Tujuh jam yang lalu, aku melihat jasadku sudah mengenakan setelan jas mahal (baru) yang selama hidup aku tak pernah memakainya. Setelan jas yang aku punya terakhir kugunakan saat aku menghadiri pesta pernikahan adikku, lima tahun yang lalu. Tentu, ukuran jas baru ini lebih kecil dibanding setelan yang aku punya. Semenjak tubuhku menyusut, semua pakaian yang kukenakan membuatku seperti para rapper pesisir barat Amerika tahun 90-an. Begitu selesai dimandikan, kumis dan janggutku dirapikan, dicukur habis dengan telaten oleh suster senior menggunakan pisau silet yang diiklankan David Beckham. Suster junior mengolesi permukaan wajahku dengan bedak tipis. Ah, jadi ingat masa kecil di mana sehabis mandi aku tidak boleh main ke luar rumah kalau sudah diberi bedak. Tak luput, bibirku diberi sentuhan lipstik tipis berwarna natural supaya tidak pucat.

Enam jam yang lalu, mobil jenazah dari rumah duka tiba. Aku mengamati peti seperti apa yang istriku siapkan untukku. Satu, dua, tiga. Para petugas memberi aba-aba saat menurunkan peti dari mobil jenazah. Peti itu sepertinya tidak murah. Dari ilmu perkayuan yang aku dapat saat berbisnis mebel di awal 2000-an, aku bisa menyimpulkan kalau petiku terbuat dari jati Belanda tua yang terbukti awet, juga tahan cuaca dan hama. Warnanya hitam pekat dengan sentuhan kilau yang menyenangkan seperti sebuah grand piano. Yang aku suka darinya adalah ukiran ornamen yang tidak berlebihan, tapi elegan. Aku tidak suka ukiran floral atau potret suatu kisah di kitab suci. Untungnya istriku tahu seleraku, ia memilih ukiran bergaris tipis dengan tambahan kutipan Marquez, "Make no mistake: peaceful madmen are ahead of the future." Humor rendahan seperti ini jadi salah satu dari sejuta alasan aku mencintai istriku.

Jasadku sudah dimasukkan ke peti. Tiga orang petugas menggotongnya dari kamar pemandian ke dalam ruang kayu sempit beralas beludru putih gading yang sepertinya empuk. Tutup peti disiapkan. Para tetangga yang datang jauh-jauh ke rumah sakit berebut melihatku di dalam peti. Mungkin mereka tidak benar-benar percaya kabar kematianku sampai menyaksikanku terbujur tak bernapas. Begitu tutup peti dipasang dan mur-murnya dikencangkan, mereka memalingkan muka dan berbisik satu sama lain. Sesekali berbasa-basi dengan anakku, "Wah gantengnya bapakmu habis dimandikan," atau "Jam berapa tadi?" atau "Jadi bapak sakit apa?" dan sebagainya.

Pukul empat pagi, tepat lima jam yang lalu jasadku tiba di rumah duka. Hanya butuh waktu 10 menit untuk berkendara dari rumah sakit ke rumah duka. Maklum, jalanan sepi dan pak supir mantan supir bak sayur. Begitu tiba, aku baru tahu ternyata rumah duka tidak seseram yang aku bayangkan. Banyak kucing di sini. Mungkin itu yang membuatnya tidak seram, hehe.

Ruangan tempat jasadku dibaringkan cukup besar untuk menampung 200 pelayat. Terdapat belasan meja panjang yang di atasnya telah siap dua belah piring berisi permen mint berbagai merk. Lengkap dengan dekorasi bunga seruni dan kain serba putih. Juga tiga buah foto setengah badan saat aku masih berlemak  dan berperut buncit  dengan pigura hitam dan latar belakang biru tua, kontras dengan dekorasinya. Di pintu penyambutan, istriku cukup telaten menyiapkan foto-foto saat aku balita, remaja, hingga beberapa bulan sebelum aku mati. Ia menyusunnya bak pameran foto seorang tokoh pop. Sepertinya ia kadung memprediksi kematianku dari cukup lama dan telah mempersiapkan semuanya begitu saatnya tiba.

Empat jam yang lalu, aku terbaring sendirian di rumah duka. Semua orang, baik yang kukenal maupun tidak, sudah kembali ke rumah masing-masing. Barangkali untuk mempersiapkan upacara peringatanku nanti. Ya sudah, apa salahnya orang mati ikut beristirahat? Tolong seseorang bangunkan aku jam 7 nanti.

Eh sialan. Aku kan sudah mati. Gimana ya cara tidur untuk orang mati? Kenapa belum ada buku yang mengulasnya? Pengalaman mati pertama ini sungguh membingungkan. Hmm baiklah. Aku sempat luntang-lantung, tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membabat waktu. Apa ikut pulang ke rumah saja dan melihat keadaan keluargaku? Tapi karena kupikir akan membosankan  dan siapa tahu anakku bisa melihat hantu, jadi mungkin bakal menakutinya  aku memutuskan untuk bermain kucing saja sampai upacaranya berlangsung.

Satu jam lamanya aku bermain kucing. Ternyata betul kata orang, kucing bisa melihat hantu. Mereka memahamiku seperti mereka memahami manusia hidup. Tapi tidak juga sih. Setelah kupikir lagi, mereka lebih tertarik pada jiwa yang sudah mati. Aku bisa menggiring mereka sesuka hati tanpa harus susah payah menarik perhatian mereka, memanggil pus pus seperti waktu aku masih hidup, atau menggerak-gerakkan lidi di tanah. Sekarang, cukup menatap dan membatin saja mereka langsung menurut. Asyiknya.

Sudah pukul enam. Deretan mobil pengangkut kiriman karangan bunga memenuhi lahan parkir. Mereka menurunkan pesanan dengan namaku tercantum di papan, lalu menatanya sambil lalu layaknya profesional. Membujur dari utara ke selatan, aku bisa membaca nama-nama familiar dan ucapan duka yang repetitif untukku. Bersama dengan itu satu per satu keluarga datang ke rumah duka. Istriku mengenakan gaun batik hitam yang kami beli di Pekalongan tahun lalu. Kami sengaja pilih ukuran besar, siapa tahu bisa dipakai untuk acara penting waktu menginjak hamil tua. Anakku, seperti biasa, salah kostum dengan kemeja Avengers kebanggaannya. Suka-suka dia saja lah.

Mereka berdua berdiri di pintu masuk sambil menyalami kawan yang datang mengunjungiku. Ungkapan simpatik yang tabah, yang ikhlas, dan yang kuat ya Mbak bertubi-tubi disampaikan. Entah buat istriku, buatku yang mati saja sudah terdengar klise dan membosankan. Tapi tak ada salahnya berterima kasih. Aku berdiri di samping istriku sambil mengingat-ingat nama orang yang datang. Aku merekoleksi kenangan yang timbul dari orang-orang itu. Setiap individunya menggugah kenangan yang berbeda. Teman dari masa yang satu dan masa yang lain. Beribu pengalaman bodoh, menyesakkan, dan menggelitik tawa muncul bersamaan seperti nyala ribuan lilin di peringatan tahunan korban teror Paris. Ternyata temanku banyak juga ya. Aku bangga.

Sejam yang lalu aku berjalan menengok jasadku sendiri. Berdesakan dengan orang-orang yang mendoakanku di samping peti mati, aku bisa merasakan pembusukan tubuhku yang memulai prosesnya. Sendi-sendi tubuhku mulai kaku perlahan, sama seperti dingin yang menjalar dari kaki sebelum aku mati tadi. Aku bisa mencium bau yang berbeda dari jasadku yang mulai mengeluarkan cairan kuning dari lubang telinga. Juga rona merah yang memudar dari permukaan kulitku. Aku terlihat pucat. Jiwaku terasa dingin, bergetar, dan sendirian. Dadaku sesak. Bersama orang-orang terdekat yang sedang mendoakanku, tangisku meledak. Aku belum siap melihat jasadku menyatu dengan bumi. Aku terbang menarik diri dari ruangan nestapa itu. Suara sayup sembahyang yang dikirimkan padaku kian keras dan menyesaki telingaku. Kalimat-kalimat permohonan yang terus diulang mengganggu ratapanku. Aku menjauh sejauh-jauhnya. Aku pergi. Terasing. Dan menghilang.

Di detik ini, aku masih melamun di puncak sebuah gedung di kota yang tak kukenal. Kupikir sepertinya peti sudah ditimbun tanah dan nisan sudah terpasang. Suara-suara berisik kembali mereda. Aku cuma mengenali satu suara, milik istriku. Bicaranya serak, nadanya rendah. Tanpa menangis, ia mendoakanku ketenangan, supaya bisa ikhlas tanpa melihat ke belakang. Supaya tak menahan langkahku, supaya tak menunggunya, supaya tak mengejarnya. Setelah empat bulan lamanya aku tak sadarkan diri, ia telah belajar sesuatu yang selama ini aku tak bisa menirunya. Empat bulan lamanya aku melawan apa yang menggerogotiku. Empat bulan lamanya ia telah berikhlas. Tidak adil rasanya. Sementara aku ingin mengajaknya. Ingin bersamanya. Tapi apalah, apa kuasaku untuk tak mengikhlaskan yang telah berikhlas?

Jadi, empat puluh hari lagi ya? 

***

Selamat jalan, Bapak.

Listening to: The Carpenters - Yesterday Once More

Thursday, February 14, 2019

Es Kopi Susu



Mobil-mobil polisi, cahaya merah-biru, dan aspal malam yang basah. Aku terbangun, sirine ninu-ninu menggema hingga kamarmu.
Langkah sepatu bot, berderap riuh mengetuk lantai kayu. Kelinci-kelinci di lorong kabur dari kandang. Bermain-main dengan kotak sepatu.
Asap mengepul tinggi, api sampai di lantai tiga. Dan dia mengetuk pintu. “Halo, apa ada orang?”
Dia mengintip dari lubang di dinding.
Aku tak menjawab.
Dokter menyobek secuil kulitmu, mengambil yang ada di dalam secukupnya, lalu menjahitnya perlahan dengan benang bening tipis mengilap. Ia mengenakan setelan blus berenda hitam sedikit transparan yang bersembunyi di balik jas putihnya. Matamu mengikuti gerakan jarinya, lembut.
“Halo?”
Es kopi susu yang ia pesan untuk kita mulai mengembun. Titik demi titik air mengalir ke dasar gelas plastik. Meja berlapis kaca hitam, basah. Aku mengambil satu gelas, meninggalkan genangan air melingkar. Menenggaknya barbar, tenggorokanku yang kerontang seperti tambang tembaga di Gurun Atacama yang tiba-tiba dilanda banjir bandang hasil hujan deras sepuluh hari di Chile. Polisi mengetuk lagi.
Percuma berpura-pura, menyerah saja lah. Kami banyak di depan,” serunya.
Aku tetap diam. Kau berteriak.
“Apa itu?” katanya, diiringi suara senapan dikokang.
Telunjuk kurus si dokter mendarat di kotak tisu kering. Mengambil selembar, mengolesnya ke sekujur tangan, setelah habis mencuci. Masker sudah dibuka, operasi telah selesai. Ia memiliki mata besar di balik kacamata tebalnya. Kulitnya putih terawat, dengan senyum menipu dan pipi yang merah tanpa bubuk perona. Barangkali ia rajin ke klinik kesehatan kulit. Yah, namanya juga dokter.
Sebuah pesan masuk ke ponselmu. Notifikasi hijau dari grup yang tak begitu penting buatmu, berisi tautan asing dengan utm ig_profile_share dikirim oleh teman sebangku. Kau menekannya.
“He could only consider me as the living corpse of a would-be suicide, a person dead to shame, an idiot ghost.”
Laman Pinterest dengan ajakan untuk bergabung, kau menekan tanda X di ujung kanan atas. Kutipan Dazai tersemat di gambar langit malam bertabur bintang, dengan huruf jenis Helvetica putih tergores tegas.
“Kuhitung sampai tiga atau kami terpaksa masuk,” teriak si polisi. Gesekan jaket kulit yang ia kenakan terdengar sampai kamarmu. Gerakan-gerakan kecil ia buat, peluh mulai membasahi dahinya, tegang.
Kau meraih remot dan menyalakan tv. Saluran berita menyiarkan langsung pemusnahan sarang tawon berdiameter satu meter di Magetan, Jawa Timur, dengan melibatkan Dinas BPBD setempat. Karena struktur rumah terbuat dari kayu, kami tidak memakai api, kata kepala satuan, melainkan tembakan air yang dimodifikasi dengan pestisida.
Kau menguap, mengganti ke saluran lain.
“Satu…”
Persiapan debat pemilihan presiden republik ini telah dimulai. Dua pasang calon diwawancarai. Wartawati muda nan berani menembakkan pertanyaan yang ditangkis dengan jawaban-jawaban diplomatis yang tak inovatif.
“Dua…”
Si dokter mengatupkan tangan. Dagunya maju sedikit, menelengkan kepalanya miring ke kiri. Ia mengangguk kecil, lalu bergumam, “Kalian pilih yang mana?”
“Tiga!”
Kau menggeleng lemah. Keduanya tak menarik bagimu. Petahana kurang memuaskanmu, dan oposisi tak kunjung membawa angin baru.
“Ayolah, sampai kapan propaganda tai kucing meracunimu? Golongan putih-golongan putih sepertimu tak bakal bisa puas sampai kapanpun,” serangnya.
Pintu didobrak, kapten polisi berhasil masuk tanpa hambatan. Tiga orang lainnya bergegas maju melindunginya — barangkali ada kejutan. Ruangan itu hanya menyisakan sebuah ranjang, dua buah kursi bakso dengan cat mulai luntur, lampu meja yang redup, dan perangkat televisi tabung yang menampilkan siaran langsung debat pemilihan presiden.
Aku menyeruput sisa es kopi susu, menghabiskannya.
“Minum es kopi susu itu baik agar kau tak cepat mati, setidaknya begitu sih hasil Konvensi Asosiasi Kopi Pantai Pasifik Ke-88 di Coronado tahun lalu. Tetap tidak diminum? Baiklah kalau begitu. Aku segera bilang penjaga untuk dibukakan. Kalian membosankan, aku tak sabar keluar dari ruangan busuk ini,” keluhnya sambil menenteng dua potong lidah, dua ponsel kita, dan sisa benang jahit yang tak terpakai pada operasi kali ini.
Kau mengabaikannya, meski kau tahu ucapan dokter itu betul adanya. Aku menyodorkan satu gelas padamu, tapi kau menolaknya. Pasrah saja lah. Kita bisa apa, tanyaku padamu dalam hati.
“Ketemu! Mereka di kamar mandi. Jerat mereka dan bawa seperti yang lain,” seru sang kapten di tengah api yang mulai menjalar ke lantai empat. “Beri tahu si dokter jangan pulang dulu. Operasi belum selesai, masih banyak lidah untuk malam ini. Uhuk.”
Aku merebut remot tv darimu dan mengganti salurannya. Pemilihan presiden tinggal sebulan lagi. Dan malam itu, bertambah lagi anggota kamarmu yang gelap berjeruji.

***

Listening to: Ego Wrappin - Inbetweenies

Sunday, September 17, 2017

Kue Lapis


Tak seperti nadi yang bisa digurat, memori tak bisa ditipu begitu saja. Ia terus memburumu, bahkan saat ragamu dan tanah nenek moyangmu lama menyatu.

Kali pertama tatapannya menyihirku adalah saat aku sedang antre membayar tagihan di kasir, aku untuk game online, dan ia untuk voucher akses internet. Sorot matanya yang sayu membuntutiku hingga ke kasur kamarku. Memori itu terus berulang. Berakhir saat terlelap, lalu dimulai lagi begitu terbangun, rautnya lah yang selalu mengganggu rasa penasaranku. 

Hingga siang itu, aku sadar itu bukan kali pertama aku melihatnya. Aku pernah melihatnya di bus. Kalau tidak salah, tinggal aku, dia, dan supir saat bus jalur nomor dua melaju kencang ke selatan. Gadis itu turun lebih dulu, sekitar satu kilometer dari tempatku biasanya turun. Sekilas aku melihat wajahnya, rupa murung tapi entah bagaimana tetap bersinar merebut fokus mataku. Bodoh sekali, pikirku, aku tak menyadari kehadirannya sepanjang perjalananku meski aku duduk di jok paling belakang. Begitu ia turun, langkahnya tertuju pada sebuah gang yang hanya muat untuk satu kendaraan roda empat. Naluriku memaksaku mengingat huruf-huruf yang menggantung di atas gapura gang, tapi bus keburu melaju kejar setoran.

***

Aku menghabiskan empat jam sehari di warnet itu. Salah satu sisinya dijejali para pemain game online, dan sisi lainnya untuk mengakses internet. Kebanyakan pengunjungnya adalah remaja-remaja tanggung yang kebingungan menghabiskan energi berlebih mereka begitu bel pulang sekolah berbunyi. Bak pembatas di masjid-masjid, loket kasir itu seakan memisahkan anak laki-laki di ruang game dan perempuan di area akses internet. Biasanya saat membayar tagihan lah, laki-laki dan perempuan dapat berjalan beriringan di tempat yang sama.

Saat mengantre, aku menggali ingatanku tentang rupa gadis murung. Sambil memandangi wajah sampingnya, kutemukan berbagai kecocokan dengan penggalan-penggalan ingatan yang sudah lama berlalu—rambutnya pendek sebahu, poninya tanggung hingga tak sampai menutup alis dan telinganya, matanya sipit saat tersenyum, hidungnya tidak pesek maupun mancung, bibirnya tipis juga sedikit lebar. Perpaduan gerakan bibir dan matanya dapat sekejap mengubah raut murungnya menjadi riang. Hal itu kulihat setiap ia balas menyapa kenalan yang lebih dulu menyapanya. Ia juga mengenakan seragam sekolah (rival sekolahku) yang sama seperti saat kulihat dia di bus. Segenap aktivitas pemanggilan kembali informasi itu membuat tatapanku kosong dan meninggalkan mulutku yang masih menganga. Tak sadarkan diri, terbuai paras beningnya. Begitu ia menoleh ke arahku, aku membuang mukaku dan diam-diam mengarahkan pandanganku ke bordir nama yang tersemat di seragam sekolah yang ia kenakan. "Tamara Pramodharanindra."

Tak butuh waktu lama untuk menggali informasi pribadinya. Mesin pencari saat itu belum canggih-canggih amat, meski begitu, hanya butuh dua detik untuk mengetahui bahwa Nora, teman dekatku, ternyata teman dekatnya juga. Singkat cerita, Nora mempertemukan kami di sebuah kafe. Ia langsung pulang begitu kami berdua selesai memesan minum. Nora keparat. Betul-betul jebakan yang menyenangkan. Kuurungkan niatku membahas temanku itu lebih jauh. Selain jebakan pengubah sejarah itu, tak ada yang spesial dari pertemuan pertama. Yang kuingat, seluruh informasi yang kukumpulkan tak membuat gugupku berkurang sedikitpun.

Ia menarik tangan kananku kemudian menjepitkan kedua tangannya di kedua sisi tanganku, "Lihat, kue lapis."

"Sialan."

"Padahal, kau mengaku jarang keluar rumah, tapi kulitmu sehitam babi hutan yang kelamaan nongkrong dekat api unggun."

Begitulah, aku memang lebih suka mengurung diri di satu tempat. Bukan berarti aku anti sosial, aku hanya malas menjelajahi tempat-tempat baru—atau berkenalan dengan orang baru—di mana remaja seusiaku silih berganti menggandrungi satu tempat lalu dua bulan berikutnya pindah ke tempat lainnya. Saat itu, aku masih tinggal di rumah nenekku karena orang tuaku sedang dinas di luar kota. Hal ini cukup membantuku, terutama karena nenekku lumayan konvensional, ia memaksaku belajar hingga jam sembilan malam, lalu menyuruhku tidur sejenak kemudian. Hasilnya, nilai ujianku cukup memuaskan meski aku sering bolos untuk bermain game online.

"Ngomong-ngomong, orang tuaku membekaliku kue lapis tiap hari. Kapan-kapan kau harus coba."

"Boleh," jawabku girang. Dengan bilang kapan-kapan, berarti akan ada pertemuan selanjutnya.

Tamara setahun lebih muda dariku. Ia penggemar Emily Davison, pejuang hak-hak perempuan generasi pertama, ujarnya. Konon, wanita Inggris itu menabrakkan diri pada kuda balap milik raja untuk memprotes tak kunjung diberikannya hak berpolitik perempuan. Kami ngobrol banyak soal Davison di kafe. Obrolan kami tampak begitu hidup, meski aku terlihat seperti penonton pertunjukan wayang yang duduk manis mendengarkan dalang asyik bercakap menggunakan berbagai macam tokoh.

"Kau tahu, Emily nggak langsung meninggal."

"Sebutannya tetap martir."

"Bisa dibilang begitu. Toh lima belas tahun berikutnya perempuan Inggris boleh ikut pemilihan."

***

Sebulan berlalu, kami semakin sering bertemu dan mulai bertukar informasi soal hal-hal pribadi. Tamara tampak bersemangat menceritakan masa kecilnya. Dahulu, orang tuanya secara berkala bertukar peran dalam mengasuh anak. Ibunya mengelola gedung bioskop kecil—kerap disulap menjadi gedung teater atau bahkan tempat diskusi dadakan—yang hanya dibuka untuk komunitas tertentu. Namun, karena terbatasnya tempat-tempat diskusi di kota ini, gedung itu tak pernah sepi agenda. Begitu mulai jenuh, ia memutuskan untuk istirahat tiga bulan dan memasrahkannya kepada partner bisnisnya, kemudian tinggal di rumah mengasuh Tamara. Setelah puas, ia kembali bekerja dan giliran suaminya yang banyak di rumah. Ayah Tamara seorang pengajar antropologi. Menjadi sekadar pengajar saja di universitas tentu tak memakan banyak waktu, kecuali kau sedang mengerjakan proyek penelitian. Karenanya, ia harus bisa memanfaatkan tiga bulan—jatah fokus bekerja sesuai kontrak perkawinannya—yang ia miliki untuk menyelesaikan penelitiannya sebaik mungkin. Di samping itu, ayah Tamara juga maniak sejarah. "Cuma soal Mataram Kuno, itu pun terbatas soal Wangsa Syailendra," jelas Tamara. Nama Pramodharanindra adalah pemberian ayahnya, gabungan dari Pramodawardhani, ratu Mataram Kuno yang diperistri Rakai Pikatan kemudian bersama menaklukkan Balaputradewa sebelum ia mendirikan Sriwijaya, dan pendahulunya, Dharanindra, raja yang diperkirakan memulai pembangunan Candi Borobudur dan memperluas kekuasaan Mataram hingga sebagian Indocina. Nama adalah harapan, maka nama yang berat diiringi beban yang berat pula. Meski begitu, Tamara tak terlalu memikirkannya, baginya nama hanyalah sebuah sebutan untuk membedakan manusia dengan manusia yang lain.

"Pramodawardhani lah yang merampungkan Borobudur. Bahkan, ia juga membebaskan pajak beberapa desa supaya warga mau ikut merawatnya. Monarki boleh, adil harus," kekeh Tamara memuji asal-usul namanya.

"Bisa simpan ceritanya lain kali? Kue lapismu ini enak sekali," kataku sambil mengunyah kue lapis pemberian Tamara.

"Kau memang tak suka dengar ceritaku ya?"

Mendadak raut murung yang sebulan terakhir tak kujumpai kembali menghiasi wajahnya. Aku menanyakan sebabnya, tapi ia malah menunduk dan terdiam. Akhirnya ia memberanikan diri buka mulut.

"Belakangan ini, aku merasa sedang dikuntit seseorang."

Mulutku sedang asyik memamah kue lapis dan hampir tersedak saat mendengarnya. Aku buru-buru menelannya bulat-bulat. "Lalu?"

Semua bermula saat ayahnya terlibat penelitian penting. Setahu dia, penelitian ini ada hubungannya dengan penemuan yang bikin geger baru-baru ini. Penemuan dua prasasti kuno di kawasan pembangunan bandara baru kota kami. Dua prasasti itu ditulis dalam bahasa Sansekerta. Sebagai ahli antropologi yang punya ketertarikan khusus soal Mataram Kuno, ayahnya ditunjuk untuk menyelidiki isi dua bongkah batu tersebut, dan menuturkan faedah yang bisa diambil untuk pembangunan bandara kali ini. Yang pertama diperkirakan dari abad kedelapan, yang lain abad kesembilan. Keduanya belum dinamakan, tapi kurang lebih isinya mengenai pembangunan tempat pemujaan terbesar Mataram Kuno, di pesisir selatan Laut Jawa.  Di prasasti pertama tertulis bagaimana candi raksasa mulai dibangun. Kurang lebih isinya begini,

"Ratusan petak hutan, kebun, dan segelintir rumah milik penduduk yang tak sudi mendukung pemuliaan mesti dibabat habis. Tiada yang lebih utama dari sumbangsih kaum manusia pada yang maha pemberi. Pengampunan diberikan pada mereka yang mau patuh, dengan membabat alas yang terlampau liar, memindahkan batu-batu raksasa, membuat ukiran-ukiran, atau membentuk arca-arca. Tanpa cambuk yang diayunkan, tanpa pedang yang dihunuskan. Sementara pengorbanan dibebankan pada mereka yang menolak tunduk, dengan daun-daun telinga, bola-bola mata, potongan-potongan lidah."

Prasasti yang kedua menceritakan akhir dari kisah pembangunan candi.

"Lima dasawarsa berlalu tanpa sejengkal purnama. Satu undak tersisa dan maha pemberi akan mengampuni. Cakrawala terlalu malu dan bersembunyi di balik selimutnya. Belum saatnya gelap, sang buyut enggan menerima puja dan sesembahan. Mengambil apa yang diberikan, memberi yang tak diinginkan. Saat mereka yang tak tampak menyapa dari seberang, kami pontang panting berlarian. Mereka datang. Mereka datang."

"Sebentar, hubungannya sama dikuntit?" tanyaku keheranan.

"Begini, kau tahu kan ibuku mengelola bioskop?"

"Ya, terus?"

"Setiap malam sebelum ditutup, bioskop selalu diperiksa ulang, untuk perawatan. Nah belakangan, proyektor film yang ada di bioskop jadi sering kotor. Semacam, menembakkan burik kemerahan ke pusat layar. Layarnya sih normal-normal saja. Saat dicoba putar film, bagian-bagian tertentu jadi tak terlihat. Posisinya acak, tapi bentuknya selalu sama. Tentu mengganggu, kan?"

Aku mengangguk mengiyakan.

Tamara menjelaskan seraya mengulungkan sebuah foto burik yang dimaksud. Burik itu aneh, sulit mendeskripsikannya. Seperti bekas lipatan sprei yang menempel di pipimu saat bangun tidur. Seperti lelehan putih telur di wajan yang terpisah dari intinya. Seperti darah yang terpercik di tampon saat haid hari terakhirmu. Pilih saja sesukamu.

"Ibuku sudah komplain, tapi ternyata semua komunitas screening mengaku tak memakai proyektor yang kotor itu. Mereka pakai proyektor cadangan yang gambarnya tak terlalu bagus. Karena tak percaya, ibuku memeriksa rekaman cctv di ruang proyektor. Tapi ternyata betul, mereka tak memakainya. Kotor dari sebelum pakai, kata mereka. Padahal begitu kotor langsung dibersihkan, lho. Lagipula anggota komunitas itu juga tak tahu cara membersihkannya, sih," lanjut Tamara.

Aku mengambil sepotong kue lapis lagi.

"Karena kotor lagi kotor lagi, ibuku kudu mengelapnya berulang-ulang, bikin dia pulang malam. Setelahnya, pas ibuku mau pulang, telepon kantornya berdering. Lalu ya begitu, tak ada seorangpun yang menjawab, cuma orang iseng. Sesampainya di rumah ternyata ayahku juga cerita mengalami hal yang sama—telepon iseng. Anehnya, si penelepon cuma iseng telepon ke nomor kantor mereka. Ponsel dan telepon rumah aman."

"Jadi, ini siapa sih yang dikuntit?"

"Aku belum selesai. Beberapa hari terakhir, sehabis istirahat kedua, aku dipanggil ke ruang TU. Ada telepon, katanya. Begitu kuangkat, sama seperti orang tuaku, tak ada yang menjawab. Aku sampai pesan ke petugas TU kalau ada telepon lagi buatku, diamkan saja. Aku merinding tak habis pikir. Kok aku kena juga?"

"Goblok."

Aku bergidik.

***

Hubungan kami hanya bertahan tujuh bulan. Ia memintaku putus karena mengaku ingin fokus pada ujian sekolahnya—ia memang rajin, lagi cerdas. Bertahun-tahun berlalu, kini aku sudah cukup dewasa dan tinggal di pucuk timur nusantara. Konon pembangunan bandara di kota kelahiranku sempat mandeg lama. Serangkaian isu mulai dari pembebasan lahan, besarnya potensi bencana, duit yang dikorupsi, hingga kasus hilangnya tokoh-tokoh penting yang menentang pembangunan bandara itu bertubi-tubi menghantam prosesnya.

Kebetulan, aku sedang pulang kampung dan—seperti makhluk sosial pada umumnya—memamerkan kepulanganku lewat instastory. Sebuah notifikasi pesan muncul dari layar ponselku. Nora, temanku yang mengenalkanku pada Tamara, mengajakku bertemu. Ia baru saja kembali dari studinya di Australia dan barangkali sedang menganggur. Kami ngobrol tak tentu arah macam bapak-bapak eks begundal saat masih bujang, bertukar nostalgia yang itu-itu saja, tak ada habisnya. Sudah barang tentu, Tamara tak meleset dari topik pembicaraan.

"Begitu ya, jadi sampai sekarang jasadnya belum ketemu," gumam Nora.

"Sekalipun, aku masih belum lepas, lho."

"Lemah."

"Bukan, seperti yang kubilang, bayangan Tamara sering muncul tiba-tiba. Bayangan yang sama. Tak ada lagi raut murungnya. Tak ada lagi mata sayunya. Tak tampak lagi daun telinganya. Tak terdengar lagi kecap bibirnya. Tak ada lagi sinarnya."

"Ngeri anjing."

"Mau gimana lagi, memori mempermainkanku. Tiap ia muncul, mulutnya menganga kecil. Seolah mau bilang sesuatu. Tangannya melambai lemah. Belum sempat bersuara, pudar sukmanya ditelan sadarku."

"Sepandai-pandai kau mengecoh, memori tak tertipu semudah itu."

Tiga bulan sebelum bandara itu beroperasi, polisi mengumumkan penemuan puluhan tulang belulang manusia yang hanyut terdampar di pesisir selatan Jawa. Perkiraan usia kematian mereka tak lebih dari sepuluh tahun. Hanya sedikit yang bisa diotopsi, termasuk beberapa tengkorak yang telah menguning, lengkap dengan recak yang sangat familiar. Sulit mendeskripsikan bentuknya. Seperti bekas lipatan sprei yang menempel di pipimu saat bangun tidur. Seperti lelehan putih telur di wajan yang terpisah dari intinya. Seperti darah yang terpercik di tampon saat haid hari terakhirmu. Pilih saja sesukamu.

Sontak, aku menjatuhkan kue lapisku.

***

Listening to : Joey Bada$$ - Hazeus View

Friday, September 15, 2017

Monyet Shinagawa


Oleh Haruki Murakami

Wanita itu kesulitan mengingat namanya sendiri. Biasanya masalah ini terjadi saat ada orang yang tiba-tiba menanyakan namanya. Di butik, misalnya. Saat hendak mengukur jahitan untuk gaunnya, pramuniagawati akan bertanya, "Nama Anda, Bu?" lalu sekejap pikirannya buyar. Ia mengakalinya dengan mengeluarkan surat izin mengemudi, lalu perlahan membaca tulisan yang tertera pada kolom nama—yang tentu agak aneh buat lawan bicaranya. Jika kejadian macam ini berlangsung di telepon, tanpa sadar ia menciptakan kecanggungan, harus merogoh dompetnya dulu hingga membuat orang lain bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di ujung sana.

Ia bisa ingat perkara-perkara lain. Ia tak pernah lupa nama orang lain di sekitarnya. Alamatnya sendiri, nomor telepon, tanggal lahir, dan nomor paspor bukanlah masalah. Ia bisa menyebutkan nomor telepon teman-temannya, juga milik beberapa klien penting. Dan saat ia sendiri yang mencoba mengingat-ingat namanya, ia selalu bisa. Selama ia tahu yang ia inginkan, memorinya baik-baik saja. Tapi dalam keadaan terburu-buru atau tidak siap, ingatannya bak sirkuit listrik yang korsleting. Makin ia berusaha, makin ia tak bisa mengingat namanya sendiri.

***

Namanya sekarang Mizuki Ando, nama gadisnya Ozawa. Tak satupun dari namanya unik atau keren, meski begitu ketidakunikan itu tetap tak dapat menjelaskan bagaimana namanya hilang dari memorinya. Dia telah menjadi Mizuki Ando selama tiga tahun, sejak menikahi pria bernama Takashi Ando. Pada awalnya, ia belum terbiasa memakai nama barunya. Nama itu tak terlihat dan terdengar cocok untuknya. Namun perlahan, setelah berungkali melafalkannya, ia mulai nyaman menggunakannya. Dibanding dengan kemungkinan nama-nama lain—Mizuki Mizuki, contohnya, atau Mizuki Miki (ia memang pernah pacaran sebentar dengan lelaki bernama Miki)—Mizuki Ando sebenarnya tak begitu buruk.

Saat ia mulai pikun soal namanya, usia pernikahannya telah menginjak dua tahun. Awalnya masalah ini memang cuma terjadi sebulan sekali, tapi lama-lama makin kerap. Sekarang, paling tidak ia lupa namanya sendiri seminggu sekali. Kalau dompetnya ada bersamanya, maka tidak masalah. Namun, jika satu hari ia kehilangan dompetnya, ia juga akan kehilangan dirinya sendiri, pikirnya. Sebenarnya, ia pun tak akan betul-betul menghilang—ia masih ingat alamat dan nomor teleponnya. Kasus ini tidak seperti adegan-adegan amnesia yang ada di film-film. Tapi tetap, fakta kau melupakan namamu sendiri memang menyedihkan. Hidup tanpa nama seperti terperangkap dalam mimpi yang tak kunjung usai.

Mizuki mengunjungi toko perhiasan, beli gelang sederhana, dan mengukir namanya di situ: "Mizuki (Ozawa) Ando." Ia merasa seperti kucing atau anjing, tapi tetap saja, ia terus membawa gelang itu ke mana pun. Kalau tiba-tiba lupa namanya, yang perlu ia lakukan hanya melirik pergelangan tangannya. Tak perlu panik mencari SIM-nya, tak ada lagi orang yang menatapnya aneh.

Mizuki tak memberi tahu suaminya. Ia tahu suaminya hanya akan berpikir bahwa itu artinya ia tak bahagia dengan pernikahannya. Suaminya sangat logis pada segala sesuatu. Bukannya bermaksud jahat, suaminya memang begitu—suka berteori. Suaminya juga cerewet, sekali mulai satu topik pembicaraan, dia akan terus mengoceh tanpa henti. Karena itu, Mizuki menyimpan semua masalah rapat-rapat. Tetap saja, pikirnya, perkataan suaminya—atau yang mungkin dikatakan kalau suaminya tahu masalahnya—kadang ada benarnya. Bukannya tak bahagia dengan pernikahannya, tapi suaminya terlalu rasional. Meski begitu, suaminya tak pernah menggerutu sedikitpun.

Baru-baru ini, Mizuki dan suaminya mengajukan kredit untuk membeli sebuah apartemen di Shinagawa. Suaminya, sekarang tiga puluh tahun, bekerja di laboratorium sebuah perusahaan farmasi. Usia Mizuki dua puluh enam tahun dan kini bekerja di sebuah dealer Honda, menjawab telepon, membuat kopi untuk calon pembeli, membuat salinan arsip, dan memperbarui database pembeli. Paman Mizuki, seorang eksekutif di Honda, menariknya setelah ia lulus dari sebuah perguruan tinggi khusus wanita di Tokyo. Tentu pekerjaan ini bukan pekerjaan idamannya, tapi setidaknya ia punya beberapa tanggungjawab, dan itu tak begitu buruk. Setiap para sales sedang keluar ia menggantikan mereka, dan Mizuki cukup piawai saat menjawab pertanyaan pembeli. Ia memperhatikan sales-sales itu saat bekerja, lalu menyerap semua informasi penting dengan cepat. Ia hafal perbandingan jarak yang bisa ditempuh oleh mobil-mobil yang ada di galeri dan bisa membuat siapa pun percaya bahwa Odyssey dapat dikendarai seperti minivan daripada seperti sedan pada umumnya. Mizuki juga pencengkerama handal, ia senantiasa memunculkan senyum kemenangan yang membuat pembeli merasa nyaman. Dia juga tahu cara halus mengarahkan pembicaraan ke topik-topik tertentu, pengetahuan ini ia dapat dari kesehariannya mengamati jenis karakter setiap pembelinya. Sayangnya, dia tak punya wewenang untuk memberi diskon, atau sekadar negosiasi tukar-tambah, atau menawarkan pilihan, jadi, jika calon pembeli sudah setuju untuk tanda tangan, akhirnya ia tetap mengembalikannya kepada sales, di mana sales itu lah yang mendapat komisi. Satu-satunya upah yang diterimanya hanya traktiran makan malam sekali-dua kali dari sales-sales yang kebagian jatah penjualan Mizuki.

Pernah terlintas di benaknya kalau saja ia diperbolehkan mengurusi transaksi, perusahaan dealer itu bisa menjual lebih banyak mobil. Sayangnya ide itu tak terpikirkan orang lain. Memang begitu cara perusahannya beroperasi: divisi penjualan mengurusi transaksi, staf administrasi mengurusi hal lain, dan, di saat-saat tertentu, batas-batas ini tak bisa diterobos. Tapi persoalan itu tak jadi masalah; Mizuki tidak ambisius dan memang tidak mencari jenjang karir. Ia nyaman bekerja delapan jam, berangkat jam sembilan pagi dan pulang jam lima sore, mengambil jatah liburan dan menikmati waktu senggangnya.

Saat bekerja, Mizuki masih menggunakan nama gadisnya. Untuk menggantinya, ia harus berurusan dengan segala hal merepotkan perihal sistem data di komputer. Karena itu, ia malas menggantinya. Untuk urusan pajak, statusnya pun terdaftar sebagai karyawati yang sudah menikah, tapi namanya belum diganti. Ia tahu ini bukan cara administrasi yang benar, tapi sejauh ini tak ada yang protes. Yang tertera di kartu namanya pun masih "Mizuki Ozawa." Suaminya juga tahu, Mizuki masih memakai nama gadisnya saat bekerja (ia meneleponnya beberapa kali), tapi ia tak mempermasalahkannya. Suaminya paham, ini cuma soal nyaman-tidak nyaman. Selama ia melihat sisi logis dari segala hal yang dilakukan istrinya, ia takkan mengeluh. Pendek kata, ia lelaki yang tak banyak menuntut.

***

Mizuki khawatir, lupa nama sendiri barangkali gejala penyakit ganas, mungkin Alzheimer. Dunia memang dipenuhi penyakit mematikan yang sering datang tiba-tiba. Dia bahkan baru tahu kalau penyakit macam myasthenia dan Huntington benar-benar ada. Pasti di luar sana tak terhitung jumlah penyakit-penyakit yang belum pernah ia dengar, pikirnya. Penyakit seperti itu biasanya diawali gejala sepele. Sepele tapi tak biasa, seperti -lupa nama sendiri?

Ia ke rumah sakit dan menjelaskan masalahnya. Tapi dokter muda itu—tampak pucat dan lunglai, lebih terlihat seperti pasien daripada seorang dokter—tak serius menanggapi keluhan Mizuki. "Begini, jadi apa Ibu juga lupa hal-hal lain selain nama Ibu?" tanya dokter itu. "Nggak," jawabnya. "Sekarang sih, baru nama saja." "Hmm. Sepertinya ini terdengar seperti kasus psikiatrik," kata dokter itu, suaranya tak menyiratkan ketertarikan atau simpati. "Barangkali kalau Ibu mulai lupa hal-hal lain, silakan kembali lagi. Kami bisa melakukan serangkaian tes untuk Ibu." Saat ini kami sedang banyak pasien yang penyakitnya lebih serius dari Ibu, mungkin itu maksud sebenarnya.

Satu hari di surat kabar untuk distrik lokal, Mizuki membaca sebuah artikel pengumuman pembukaan pusat konseling di kantor distrik. Artikel itu terselempit artikel lain, sesuatu yang biasanya ia lewatkan. Pusat konseling itu akan buka dua kali sebulan dan diisi para konselor profesional yang menawarkan sesi privat berbiaya murah. Penduduk Shinagawa yang berusia di atas delapan belas tahun dipersilakan menggunakan layanan ini dan dijamin kerahasiaannya. Awalnya, Mizuki meragukan kualitas segala hal yang dimiliki pemerintah, tapi apa salahnya mencoba. Kantornya sibuk di akhir pekan, tapi izin kerja sehari dalam seminggu bukanlah hal sulit. Kini ia bisa menyesuaikan jadwalnya dengan jadwal pusat konseling, di mana kurang memungkinkan bagi pekerja lain. Biaya untuk satu sesi berdurasi tiga puluh menit adalah dua ribu yen, bukan jumlah yang besar untuknya.

Saat tiba di pusat konseling, Mizuki sadar dia adalah satu-satunya klien. "Sebetulnya, program ini agak mendadak," jelas resepsionis. "Kebanyakan orang belum tahu. Begitu orang tahu, kami pasti jadi lebih sibuk."

Konselornya bernama Tetsuko Sakaki, seorang wanita gemuk berusia kira-kira akhir empat puluhan. Rambut pendeknya dicat coklat terang, wajah lebarnya dilingkari senyum yang senantiasa menenangkan. Ia mengenakan setelan musim panas berwarna pucat, blus sutera berkilau, kalung mutiara sintetis, dan sepasang sepatu hak rendah. Ia terlihat lebih cocok seperti ibu-ibu rumah tangga yang gemar menebar sapa di pagi hari daripada seorang konselor.

"Suami saya bekerja di kantor distrik," katanya memperkenalkan diri. "Dia kepala seksi di Dinas Pekerjaan Umum. Makanya kami dapat dukungan dari kantor distrik dan membuka pusat konseling ini. Kebetulan, Anda klien pertama kami. Saya tak punya janji lain hari ini, jadi santai saja, kita bisa bicara dari hati ke hati." Wanita itu berujar dalam kecepatan yang terukur; semua yang ia ucapkan mengalir pelan dan terdengar terencana.

"Senang berjumpa dengan Ibu," kata Mizuki. Padahal, saat itu Mizuki bertanya-tanya apa benar orang macam dia bisa membantunya.

"Tak perlu khawatir, saya punya gelar di bidang konseling dan segudang pengalaman," wanita itu seperti bisa membaca pikiran Mizuki.

Bu Sakaki duduk di balik meja logam polos. Mizuki duduk di atas sofa kuno yang terlihat seperti baru saja diangkut dari gudang penyimpanan. Pegas-pegasnya tak lagi responsif, bau apeknya membuat hidung Mizuki berkedut-kedut.

Mizuki bersandar ke belakang dan mulai menjelaskan kesialannya. Bu Sakaki mengangguk senada. Ia tak bertanya, juga tak sedikitpun terlihat terkejut. Ia mendengarkan Mizuki dengan saksama, dan, kecuali sesekali mengerut seolah-olah ia sedang menimbang sesuatu, wajahnya tetap tak berubah; senyum samarnya, bak bulan musim semi saat senja, tak tergoyah.

"Mengukir nama di gelang itu ide bagus, lho," komentar Bu Sakaki setelah Mizuki selesai menjelaskan. "Saya suka cara Anda mengatasinya. Tujuan awalnya memang memberikan solusi praktis, meminimalisir ketidaknyamanan. Lebih baik mencari solusi realistis daripada mengeluh, kan? Saya lihat, Anda lumayan pintar. Dan, yah, gelang itu bagus. Cocok sekali dengan Anda."

"Menurut Anda lupa nama sendiri ada hubungannya dengan penyakit ganas?" tanya Mizuki.

"Saya ragu ada penyakit yang gejalanya lupa nama sendiri," kata Bu Sakaki. "Saya agak khawatir. Dari cerita Anda, gejalanya sudah semakin parah setahun belakangan. Asumsi saya, bisa jadi gejala ini mengarah ke gejala berikutnya, atau hilangnya memori soal nama mungkin bisa menyebar ke memori lain. Jadi, mari kita selangkah demi selangkah mencari awal mula masalahnya."

Bu Sakaki mulai dengan menanyakan beberapa pertanyaan mendasar soal kehidupan Mizuki. "Sudah berapa lama menikah?" "Seperti apa pekerjaan Anda?" "Bagaimana kesehatan Anda secara umum?" Ia lalu bertanya mengenai masa kecilnya, keluarganya, sekolahnya. Hal-hal yang ia sukai, dan hal-hal yang kurang ia sukai. Hal-hal di mana ia menonjol, dan hal-hal yang menjadi kelemahannya. Mizuki menjawab setiap pertanyaan sejujur-jujurnya.

Mizuki tumbuh di keluarga biasa. Ayahnya bekerja untuk perusahaan asuransi, dan meski orang tuanya tidak begitu kaya, mereka tak pernah kesulitan soal uang. Ayahnya orang yang serius; ibunya di sisi lain adalah orang yang halus meski sesekali mengomel. Kakak perempuannya selalu jadi juara kelas, kendati Mizuki tak pernah mengakuinya. Tetap saja, Mizuki tak bermasalah dengan keluarganya. Mereka tak pernah berkelahi. Mizuki sejak dahulu tidak butuh perhatian lebih. Ia tak pernah jatuh sakit. Ia tak mempermasalahkan penampilannya, meski tiada seorang pun yang pernah memujinya cantik. Ia menilai dirinya lumayan pintar, dan selalu berada lebih dekat di peringkat atas kelas daripada peringkat bawah, tapi ia juga tak unggul-unggul amat di mata pelajaran apapun. Ia punya beberapa teman dekat, tapi kebanyakan dari mereka sudah menikah dan pindah ke luar kota, dan sekarang mereka jarang berkabar satu sama lain.

Ia tak mengatakan apapun seputar perkawinannya. Di masa-masa awal perkawinannya, ia dan suaminya memang membuat kesalahan-kesalahan yang sewajarnya dilakukan pasangan muda, tapi seiring berjalannya waktu mereka bisa menyesuaikan satu sama lain. Suaminya memang tak sempurna, tapi punya berbagai kelebihan: baik, bertanggungjawab, bersih, mau makan apa pun, dan tak pernah mengeluh. Ia juga menjalin hubungan baik dengan kolega dan atasan-atasannya.

Sepanjang menjawab pertanyaan, Mizuki tersentak oleh kenyataan betapa membosankannya hidupnya. Tak satupun peristiwa dramatis pernah menyentuhnya. Jika hidupnya adalah sebuah film, filmnya lebih seperti film dokumenter beranggaran terbatas yang dijamin akan membuatmu tidur seketika. Hamparan lanskap pemandangan meregang hingga horizon, terus berulang, tak ada habisnya. Tak ada pergantian adegan, closeup, konflik, atau sesuatu yang menginspirasi. Mizuki tahu benar, memang tugas konselor untuk mendengarkan keluhan kliennya, tapi ia kasihan pada perempuan yang mendengarkan cerita hidupnya. Jika kami bertukar tempat dan harus mendengarkan cerita seperti ini, pikir Mizuki, aku sudah terjungkal di jurang kebosanan yang terlampau curam.

Meski begitu, Tetsuko Sakaki tetap mendengarkan saksama keluhan Mizuki, sambil sesekali membuat catatan kecil. Saat mulai bicara, suaranya tak menyiratkan kebosanan sama sekali, malah terasa hangat dan menunjukkan perhatian yang tulen. Mizuki tenggelam dalam ketenangan yang asing. Ia sadar, tidak seorangpun pernah mendengarkan ceritanya setelaten itu. Waktu sesi itu selesai, setelah satu jam berlalu, Mizuki merasa seperti satu beban terangkat dari pundaknya.

"Bu Ando bisa datang di jam yang sama Rabu depan?" tanya Bu Sakaki tersenyum lebar.

"Bisa," jawab Mizuki. "Ibu tak keberatan, kan?"

"Nggak, lah. Selama Anda masih tertarik, sih. Butuh banyak sesi untuk melihat progresnya. Ini bukan seperti acara-acara curhat di radio dan penyiar menyuruh si penelepon menunggu sebentar, lalu langsung diberi solusi. Pelan-pelan saja, kita nikmati sesi-sesi kita ke depan."

***

"Punya memori yang ada hubungannya dengan nama-nama?" tanya Bu Sakaki di sesi kedua. "Nama Anda, nama orang lain, nama binatang peliharaan, nama tempat yang pernah Anda kunjungi, atau nama julukan, barangkali? Kalau punya, ceritakan pada saya. Bisa dimulai dengan hal sepele, selama ada hubungannya dengan nama. Silakan coba ingat-ingat."

Mizuki berpikir untuk beberapa saat.

"Setelah dipikir-pikir, saya tak punya ingatan tertentu yang berhubungan dengan nama," katanya. "Setidaknya belum, sih. Oh, tunggu... ada ding. Sebuah papan nama."

"Sebuah papan nama. Bagus."

"Tapi bukan punya saya," kata Mizuki. "Punya orang lain."

"Tidak apa-apa," balas Bu Sakaki. "Coba ceritakan."

"Saya sudah singgung minggu lalu, saya sekolah di sekolah swasta khusus perempuan saat SMP dan SMA," Mizuki mengawali. "Rumah saya di Nagoya dan sekolah saya di Yokohama, jadi saya tinggal di asrama dan pulang tiap akhir pekan. Saya pulang naik Shinkansen di hari Jumat dan kembali ke sekolah Minggu malam. Hanya dua jam ke Nagoya, jadi saya tak begitu kesepian."

Bu Sakaki mengangguk. "Bukannya banyak sekolah swasta bagus di Nagoya? Kenapa jauh-jauh ke Yokohama?"

"Kebetulan itu sekolah ibu saya dan dia kepengin salah satu putrinya sekolah di sana juga. Saya pikir lumayan enak kalau jauh dari orang tua. Sekolah saya dikelola misionaris, tapi lumayan bebas. Saya punya beberapa teman dekat di sana. Kebanyakan seperti saya—berasal dari tempat berbeda di mana ibu kami juga dulu sekolah di sana. Saya enam tahun di sana. Secara umum, sih, saya menikmatinya. Sayang, makanannya tidak enak."

Bu Sakaki tersenyum. "Anda bilang, Anda punya kakak perempuan?"

"Ya betul. Dia dua tahun di atas saya."

"Kenapa bukan dia saja yang sekolah di sana?"

"Dia anak rumahan, dan yah, penyakitan. Jadi dia memilih sekolah dekat rumah. Saya pikir, kalau dibandingkan, saya jauh lebih independen. Begitu saya lulus SD, orang tua meminta saya sekolah di Yokohama, saya langsung jawab oke. Naik Shinkansen tiap akhir pekan ternyata menyenangkan, lho.

"Sewaktu di asrama, saya punya teman sekamar. Tapi begitu jadi senior, saya diberi kamar sendiri. Kebetulan saya dipilih jadi perwakilan asrama. Setiap siswi di asrama punya papan nama yang digantung di dekat pintu masuk asrama. Bagian depan papan nama itu tertulis nama dengan warna hitam, sedangkan bagian belakangnya berwarna merah. Setiap keluar, Anda harus membalik papan nama Anda, kemudian membaliknya lagi saat kembali. Jadi, waktu nama yang tertera berwarna hitam, orang itu sedang berada di dalam asrama; tapi kalau warnanya merah, Anda jadi tahu orang itu sedang di luar. Kalau mau menginap di luar, atau barangkali mau pergi beberapa hari, Anda harus mencopot papan nama Anda dari gantungan. Begitulah sistem kenyamanan kami. Para siswi punya giliran jaga di resepsionis dan kalau ada panggilan telepon, kami tinggal melirik ke arah gantungan untuk mengecek keberadaan para siswi.

"Ngomong-ngomong, peristiwa ini terjadi di bulan Oktober. Satu hari sebelum makan malam, saat saya di kamar mengerjakan pekerjaan rumah, adik kelas saya Yuko Matsunaka tiba-tiba menemui saya. Dia perempuan yang paling cantik di asrama kami—kulitnya putih, rambutnya panjang, wajahnya macam barbie. Orang tuanya punya losmen yang lumayan terkenal di Kanazawa jadi saya pikir sih keluarganya cukup berada. Kami tidak sekelas, makanya saya kurang yakin, tapi konon nilainya bagus-bagus. Dengan kata lain, sepertinya dia cukup pintar. Siswi-siswi lain memujanya. Tapi Yuko sendiri orangnya ramah dan tidak sombong sedikitpun. Dia lumayan pendiam, jarang menunjukkan perasaanya. Karena itu, sulit menebak isi pikirannya. Meski banyak junior tergila-gila padanya, tapi saya kasihan, temannya sedikit."

Waktu Mizuki membuka pintu kamarnya, Yuko Matsunaka berdiri di depan pintu, mengenakan sweater turtleneck ketat dan celana jeans. "Punya waktu sebentar? Kalau boleh aku mau ngomong sesuatu," tanya Yuko. "Boleh," kata Mizuki terkejut. "Aku lagi nggak ngapa-ngapain sih." Meski ia kenal Yuko, sebelumnya Mizuki tak pernah bicara empat mata dengannya, dan tak pernah terpikir olehnya Yuko minta nasehatnya, apalagi mengenai persoalan pribadi. Mizuki mempersilakannya duduk sambil menyeduh teh dengan air panas dari termosnya.

"Mizuki, kau pernah cemburu?" kata Yuko tiba-tiba.

Mizuki dikagetkan oleh pertanyaan itu, tapi ia tetap mencoba menjawab serius.

"Hmm belum sih," jawabnya.

"Sekalipun?"

Mizuki menggelengkan kepalanya. "Duh, bagaimana ya. Kalau kau tanya tiba-tiba begitu, aku nggak kepikiran. Cemburu yang seperti apa maksudmu?"

"Seperti saat kau sayang seseorang, tapi dia sayang orang lain. Seperti ada sesuatu yang kau inginkan, tapi orang lain mengambilnya lebih dulu. Atau ada sesuatu yang kurang mahir kau lakukan, tapi orang lain dengan mudah bisa melakukannya... yah kira-kira seperti itu lah."

"Kok aku nggak pernah ya," kata Mizuki. "Kamu pernah?"

"Sering."

Mizuki bingung memilih kata. Bagaimana bisa gadis sesempurna Yuko ingin sesuatu yang lebih di hidupnya? Ia cantik, kaya, pintar, dan populer. Orang tuanya juga memanjakannya. Mizuki pernah dengar gosip kalau pacar Yuko adalah seorang mahasiswa, ganteng pula. Jadi, kira-kira apa lagi yang masih kurang?

"Kalau sering, kapan? Coba ceritakan," tanya Mizuki.

"Tak perlu," kata Yuko berhati-hati memilih kata-katanya. "Lagipula, dijelaskan panjang-panjang juga percuma. Sebetulnya aku cuma mau tanya aja sih—siapa tahu kau pernah cemburu."

Mizuki tak tahu apa yang Yuko inginkan darinya, tapi ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan Yuko sejujur mungkin. "Kupikir aku tak pernah mengalami cemburu," ulangnya. "Aku tak tahu kenapa, dan mungkin ini agak aneh buatmu. Maksudku, ini bukan seolah-olah aku begitu percaya diri atau bisa mendapatkan semua yang kuinginkan. Sebenarnya, banyak persoalan yang seharusnya membuatku frustasi, tapi, biar bagaimanapun, persoalan itu tak membuatku cemburu pada orang lain. Aku sendiri juga bingung."

Yuko Matsunaka tersenyum samar. "Menurutku, rasa cemburu tidak ada sangkut-pautnya pada keadaan-keadaan obyektif tertentu—seperti kalau sedang bahagia maka kau tak merasakannya, tapi kalau hidup sedang tak memberkatimu barulah cemburu datang padamu. Cemburu tak sesederhana itu. Cemburu seperti daging tumbuh yang menggerogotimu sedikit demi sedikit, lama-lama daging itu membesar dan semakin membesar tanpa alasan yang jelas. Sekalipun kau tahu rasa itu ada di sana, kau tak mungkin bisa menghentikannya."

Mizuki mendengarkan Yuko dengan saksama. Yuko tak pernah berbicara sepanjang ini sebelumnya.

"Sulit sih menafsirkan cemburu pada orang yang belum pernah merasakannya," lanjut Yuko. "Satu hal yang kutahu, tak mudah menjalani hidup bila dipenuhi rasa cemburu. Seperti membawa neraka kecil ke mana pun, hari demi hari. Kau seharusnya bersyukur belum pernah cemburu."

Yuko berhenti bicara dan menutup penjelasannya dengan senyuman kecil. Ia memang sungguh cantik, pikir Mizuki. Bagaimana rasanya menjadi perempuan seperti Yuko—sangat cantik sampai-sampai semua kepala berpaling padamu ke mana pun kau pergi? Apa itu sesuatu yang kau banggakan? Atau kecantikan malah seperti beban buatmu? Kendati begitu, Mizuki tak pernah sekalipun cemburu pada Yuko.

"Aku pulang ya," kata Yuko, memandangi tangannya di pangkuannya. "Saudaraku meninggal dan aku harus ke pemakamannya. Aku sudah izin ke kepala asrama. Senin pagi aku sudah kembali, kok. Tapi, sebelumnya apa kau keberatan kalau kutitipkan papan namaku padamu?"

Ia mengeluarkan papan nama miliknya dari sakunya dan memberikannya pada Mizuki.

"Aku nggak keberatan sih," kata Mizuki. "Tapi kenapa harus dititipkan padaku? Kenapa tak kau taruh saja di laci?"

Yuko menelan tatapan Mizuki. "Aku cuma ingin menitipkannya padamu," katanya. "Ada sesuatu yang menggangguku, dan aku malas menyimpannya di kamarku."

"Oke," kata Mizuki.

"Aku takut ada monyet yang mencurinya saat aku pergi," kata Yuko.

"Monyet? Mana ada monyet di sekitar sini," kata Mizuki. Tapi saat itu raut Yuko tidak sedang bercanda. Sesaat kemudian Yuko keluar, meninggalkan papan namanya, secangkir teh yang belum diminum, dan kekosongan yang aneh di tempat tadi ia berada.

***

"Senin pagi, Yuko tak kembali ke asrama," jelas Mizuki ke Bu Sakaki. "Guru kelasnya khawatir, jadi dia menelepon orang tuanya. Ternyata, Yuko tidak pernah sampai rumah. Tak satu pun anggota keluarganya meninggal, jadi tidak ada upacara pemakaman. Itu artinya, cerita dia ke saya bohong semua, kan? Hampir seminggu kemudian, pihak sekolah menemukan tubuhnya tergeletak. Saya juga baru dengar pada hari Minggu setelahnya, waktu saya kembali dari Nagoya. Konon dia mengiris pergelangan tangannya di hutan. Tidak ada yang tahu penyebabnya. Dia juga tak meninggalkan wasiat. Teman sekamarnya bilang kalau sebelum bunuh diri, dia kelihatan seperti biasa, tak seperti orang yang dirundung masalah. Yuko bunuh diri tanpa bilang apa pun ke semua orang."

"Tapi bukannya Yuko mencoba mengisyaratkan sesuatu?" tanya Bu Sakaki. "Saat dia datang ke kamar dan menitipkan papan namanya. Lalu dia juga bicara soal... cemburu."

"Betul dia bicara soal cemburu. Saya juga kurang ngeh pada awalnya, tapi kemudian saya baru sadar pasti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan ke orang lain sebelum bunuh diri."

"Pernah cerita ke orang lain kalau Yuko mendatangi Anda malam itu?"

"Tidak, saya merahasiakannya."

"Kenapa?"

Mizuki memiringkan kepalanya lalu memikirkan sesuatu. "Kalau bilang-bilang ke orang, yang ada hanya makin memperkeruh kebingungan. Menurut saya, tak ada seorang pun yang bisa mengerti."

"Maksud Anda, Yuko bunuh diri karena cemburu?"

"Kurang lebih. Seperti yang saya bilang, gadis seperti Yuko mau cemburu sama siapa sih? Semua orang sedang kacau waktu itu. Jadi saya putuskan, lebih baik saya menyimpan rahasia ini sendiri saja. Bisa Anda bayangkan suasana asrama kami saat itu—bicara sedikit tentang Yuko seperti memantik korek di ruangan penuh gas elpiji."

"Dan papan nama Yuko?"

"Ada di saya. Di kotak kardus di dalam lemari. Saya simpan bersama papan nama saya."

"Kenapa Anda simpan?"

"Keadaan di sekolah makin memburuk jadi saya tak sempat mengembalikannya. Semakin lama menunggu, semakin sulit untuk mengembalikannya begitu saja. Saya juga tak sampai hati kalau mau buang. Lalu, saya pikir mungkin Yuko memang sengaja minta saya menyimpan papan namanya. Kenapa dia pilih saya, saya kurang tahu."

"Barangkali Yuko tertarik pada Anda karena satu atau dua hal. Mungkin ada sesuatu dalam diri Anda yang menyita perhatiannya."

"Entahlah."

Bu Sakaki terdiam, menatap Mizuki beberapa saat seperti mencoba memastikan sesuatu.

"Di samping itu, Anda memang tak pernah cemburu?"

Mizuki tidak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian, ia berkata, "Saya kok nggak merasa pernah ya. Tentu banyak orang yang lebih beruntung dari saya. Tapi bukan berarti saya lantas cemburu pada mereka. Saya kira hidup setiap orang memang ditakdirkan berbeda."

"Dan karena hidup orang ditakdirkan berbeda, hidup bukan untuk dibanding-bandingkan?"

"Saya rasa begitu."

"Pola pikir yang menarik," kata Bu Sakaki sambil melipat tangannya di atas meja, suaranya yang tenang mengkhianati segenap kegirangan yang terbentuk di ruangan itu. "Jadi itu artinya, Anda takkan pernah bisa memahami rasa cemburu?"

"Kurang lebih saya paham penyebab perasaan cemburu muncul. Tapi, begitulah, saya tidak tahu kira-kira seperti apa sih rasanya saat cemburu—bagaimana cara kita menghadapi cemburu, berapa lama rasa itu bertahan, seberapa banyak kita menderita karenanya."

***

Begitu Mizuki sampai di rumah, ia memeriksa lemarinya dan mengeluarkan sebuah kotak kardus di mana ia menyimpan papan nama Yuko, juga papan namanya. Benda-benda memorabilia lawas Mizuki disatukan dalam kotak tersebut—surat-surat, buku diari, album foto, dan kartu-kartu laporan. Ia memang berencana membuang benda-benda tertentu, tapi tak pernah sempat untuk memilah-milah satu-persatu, jadi ia selalu membawa kotak kardus itu ke mana pun ia pindah tempat tinggal. Tapi saat itu, meski seberapa keras ia mencari, ia tak menemukan amplop tempat ia menyimpan papan namanya. Ia bingung. Ia yakin pernah melihat amplop itu di dalam kardus saat pertama kali pindah ke apartemen barunya. Semenjak itu, ia juga tak pernah membuka kotak kardus tersebut. Jadi, amplop itu seharusnya ada di dalam. Di mana lagi kalau bukan di dalam sana?

***

Mizuki merahasiakan sesi konselingnya dari suaminya. Ia tak bermaksud jahat, tapi menjelaskan kondisinya ke suaminya bisa berbuah lebih banyak masalah. Selain itu, kenyataan bahwa Mizuki lupa namanya sendiri lalu pergi seminggu sekali ke konselor sebenarnya takkan membuat suaminya terganggu sama sekali.

Mizuki juga merahasiakan hilangnya papan nama miliknya dan Yuko. Ia menyimpulkan, hal itu takkan membuat perbedaan signifikan pada sesi konselingnya jika Bu Sakaki tak tahu.

Dua bulan berlalu. Setiap Rabu, Mizuki mendatangi kantor distrik untuk konseling. Jumlah klien di sana mulai bertambah, Bu Sakaki terpaksa mengurangi jatah sesi Mizuki dari satu jam menjadi tiga puluh menit. Meski begitu, toh kini mereka lebih saling mengerti satu sama lain, jadi waktu bukan lah masalah. Kadang-kadang, Mizuki berharap mereka bisa bicara lebih lama, tapi, mengingat biayanya yang murah, ia tak bisa mengeluh.

"Ini pertemuan kita yang kesembilan," kata Bu Sakaki, lima menit sebelum pertemuan berakhir. "Anda masih sering lupa nama sendiri, tapi kondisinya tak memburuk, kan?"

"Untungnya tidak,"

"Bagus," kata Bu Sakaki. Ia mengembalikan pulpen hitamnya ke saku kemejanya lalu mengepal erat tangannya di atas meja. Kemudian ia diam sebentar. "Barangkali—barangkali, lho—minggu depan akan ada kemajuan pesat terkait masalah Anda."

"Maksudnya, tentang saya lupa nama sendiri?"

"Betul. Kalau sesuai rencana, seharusnya minggu depan saya sudah tahu penyebabnya, bahkan bisa memperlihatkannya kalau Anda bersedia."

"Penyebab utama saya lupa nama saya?"

"Tepat sekali."

Mizuki kurang bisa menangkap maksud Bu Sakaki. "Tadi Anda bilang memperlihatkan penyebab utamanya... maksudnya, sesuatu yang bisa dilihat?"

"Oh, jelas kelihatan," kata Bu Sakaki sambil mengusap tangannya puas. "Saya belum bisa bilang apa-apa sampai minggu depan. Untuk saat ini, saya juga belum yakin rencana saya bisa berjalan lancar atau tidak. Saya harap sih, semua baik-baik saja."

Mizuki mengangguk.

"Bagaimanapun juga, kita sudah banyak jatuh bangun menyelesaikan masalah ini, tapi syukurlah akhirnya semua ini mengarah ke sebuah solusi. Anda tahu, pepatah mengatakan, hidup itu tiga langkah maju dan dua langkah mundur? Jadi jangan khawatir. Percaya pada saya, dan Anda tunggu tanggal mainnya. Lalu, jangan lupa membuat janji baru begitu Anda keluar lewat resepsionis nanti," tukas Bu Sakaki diselingi sebuah kedipan.

***

Sepekan berikutnya, saat Mizuki memasuki ruangan konseling, Bu Sakaki menyambutnya dengan senyum terlebar yang pernah ia lihat seumur hidupnya.

"Saya sudah tahu penyebab masalah Anda," umumnya bangga. "Juga solusinya."

"Jadi, saya tidak akan lupa nama saya lagi?" tanya Mizuki.

"Dijamin. Anda tidak akan lupa nama Anda lagi. Misteri terpecahkan."

Bu Sakaki mengambil sesuatu dari tas kecil miliknya dan meletakkannya di atas meja. "Saya yakin, ini milik Anda."

Mizuki bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja Bu Sakaki. Di atas meja tergeletak dua papan nama. "Mizuki Ozawa" tertulis di salah satunya, "Yuko Matsunaka" di papan yang lain. Mizuki mendadak pucat. Ia kembali ke sofa dan duduk terdiam untuk beberapa saat. Ia melekapkan kedua telapak tangannya ke arah mulut seperti mencegah kata-kata yang tak diinginkan tercecer dari mulutnya.

"Saya sih tidak heran Anda kaget," kata Bu Sakaki. "Tapi tak usah takut."

"Bagaimana Anda bisa..." kata Mizuki.

"Menemukan papan nama Anda?"

Mizuki mengangguk.

"Saya mencarikannya untuk Anda," kata Bu Sakaki. "Dua bilah papan itu dicuri dan itulah mengapa Anda lupa nama Anda."

"Tapi, siapa yang..."

"Masuk ke rumah Anda, mencuri dua papan nama, dan untuk apa tujuannya?" kata Bu Sakaki. "Lebih baik Anda tanya langsung ke pelakunya."

"Pelakunya di sini?" tanya Mizuki terkaget-kaget.

"Oh jelas. Kami berhasil menangkapnya dan menyita papan nama Anda. Tapi, sebenarnya bukan saya sih yang menangkapnya. Suami saya dan anak buahnya yang terjun langsung. Ingat kan, saya pernah bilang suami saya kepala seksi di Dinas PU?"

Mizuki mengangguk tanpa berpikir.

"Jadi, mari bertemu pelakunya. Anda bisa bicara empat mata."

Mizuki membuntuti Bu Sakaki keluar dari ruangan konseling, turun ke lobi, lalu memasuki lift. Mereka turun ke lantai bawah tanah kemudian berjalan melalui koridor panjang yang tampak tak terurus, hingga menuju pintu yang berada di ujung.

Di dalam, berdiri seorang pria kurus, tinggi, kira-kira berusia lima puluhan, dan seorang pria yang berbadan lebih besar, kira-kira pertengahan dua puluhan, keduanya mengenakan kemeja seragam kerja berwarna hijau khaki terang. Di dada pria yang lebih tua tersemat papan nama yang terbaca "Sakaki"; sedangkan yang lebih muda "Sakurada." Sakurada sedang membawa sebuah tongkat polisi berwarna hitam.

"Bu Ando, ya?" tanya Pak Sakaki. "Saya Yoshio Sakaki, suaminya Bu Tetsuko. Dan ini Pak Sakurada, beliau kerja bersama saya."

"Senang bertemu dengan Anda," kata Mizuki.

"Apa dia merepotkanmu?" Bu Sakaki bertanya pada suaminya.

"Nggak, kupikir dia semacam menyerahkan dirinya pada situasi," kata Pak Sakaki. "Sakuradasejak pagi menjaganya, dan sebetulnya dari tadi kelakuannya biasa saja. Kalau begitu, mari kita lanjutkan."

Ada satu pintu lain di bagian belakang ruangan itu. Pak Sakurada membukanya dan menghidupkan lampu. Ia menengok sebentar ke seluruh sisi ruangan, lalu kembali menghadap yang lainnya. "Aman," katanya. "Silakan masuk."

Mereka memasuki sebuah ruangan, semacam gudang kecil; di dalamnya hanya terdapat satu kursi, seekor monyet duduk di atasnya. Tubuhnya termasuk besar untuk ukuran monyet—lebih kecil dari manusia dewasa, tapi lebih besar dari, katakanlah, anak SD. Rambutnya sedikit lebih panjang dari monyet-monyet kebanyakan, dan juga beruban. Sulit menebak usianya, tapi yang jelas ia tak lagi muda. Kedua tangan dan kaki monyet itu diikat pada kursi kayu yang ia duduki, ekor panjangnya terkulai di lantai. Begitu Mizuki masuk, monyet itu menatap matanya, lalu kembali menunduk ke tanah.

"Monyet?" Mizuki terkejut.

"Betul," jawab Bu Sakaki. "Monyet ini lah yang mencuri papan nama Anda dari apartemen Anda, kira-kira saat Anda mulai lupa nama sendiri."

Aku takut ada monyet yang mencurinya, Yuko sendiri pernah mengatakannya. Jadi saat itu Yuko memang tidak sedang bercanda, Mizuki baru sadar. Sensasi ngeri tiba-tiba menjalar liar di sekujur tulang belakangnya.

"Maafkan aku," kata monyet, suaranya rendah tapi terdengar hidup. Sangat hidup, sampai-sampai seperti ada sejentik kualitas musik yang terkandung di dalamnya.

"Dia bisa bicara!" teriak Mizuki terkejut, ia tampak tolol.

"Lalu kenapa kalau bisa bicara?" balas monyet itu, mimik mukanya tak berubah. "Ada hal lain yang harus kuakui. Saat masuk apartemenmu, aku cuma berniat mengambil papan nama, tapi aku lapar jadi aku mengambil dua buah pisang yang tergeletak di atas meja. Maaf ya, tapi dua pisang itu sepertinya sayang kalau sampai kulewatkan."

"Bajingan! Lancang sekali, ya," kata Pak Sakurada, sambil menepuk-nepukkan tongkat polisinya ke telapak tangannya beberapa kali. "Siapa tahu ada lagi barang lain yang dia curi? Kita bakar saja dia untuk cari tahu."

"Santai dulu," kata Pak Sakaki. "Pengakuannya soal pisang itu sukarela, lho. Selain itu, sejak tadi dia juga tak melawan. Buat sekarang, jangan bertindak ekstrim dulu sampai kita mengerti kejadian yang sebenarnya. Kalau ada yang tahu kita menganiaya binatang di wilayah kantor, bisa-bisa kita kena masalah."

"Kenapa kau mencuri papan namaku?" tanya Mizuki pada si monyet.

"Kenapa? Memang itu yang kulakukan," jawab monyet itu. "Aku ini monyet yang mengambil nama manusia. Itu adalah penyakit yang kuderita. Sekalinya mataku tertuju pada sebuah nama, aku bisa gila. Bukan sembarang nama, ya, kuperingatkan. Kalau ada nama yang menarik perhatianku, aku harus mengambilnya. Aku tahu itu salah, tapi aku tak bisa mengontrol diriku sendiri."

"Jadi kau juga, yang mau ambil papan nama Yuko?"

"Benar. Aku benar-benar cinta mati pada Matsunaka. Seumur hidupku, aku belum pernah setertarik itu pada seseorang. Namun jika aku gagal memilikinya, paling tidak aku harus punya namanya. Begitu sudah punya namanya, baru aku bisa puas. Sayangnya, sebelum aku berhasil melakukannya, Yuko terlanjur mati."

"Apa kau ada sangkut pautnya dengan kematian Yuko?"

"Yang benar saja," kata monyet itu sambil menggeleng kepalanya penuh empati. "Aku tak melakukan apapun. Dia hanya terlalu dikuasai kegelapan yang berasal dari dalam dirinya sendiri."

"Tapi bagaimana kau bisa tahu, setelah selama ini, papan nama Yuko ada padaku?"

"Butuh waktu lama untuk menyadarinya. Segera setelah Matsunaka mati, aku berniat mengambil papan namanya dari gantungan, tapi tak kutemukan. Tak seorang pun tahu keberadaan papan nama itu. Aku mencarinya ke sana ke mari, tapi tetap tak ketemu. Waktu itu, sama sekali nggak kepikiran kalau Matsunaka bakal menitipkan papan namanya padamu, karena kupikir kalian tidak begitu dekat."

"Memang nggak," potong Mizuki.

"Tapi suatu hari aku dapat inspirasi kalau mungkin—masih kemungkinan—dia memberikannya padamu. Menyelidiki keberadaanmu memang lama dan melelahkan. Hingga kira-kira musim semi tahun lalu, akhirnya aku tahu kau sudah menikah, dan sekarang namamu Mizuki Ando, lalu kau tinggal di sebuah apartemen di Shinagawa. Menjadi seekor monyet, artinya memperlambat proses investigasi macam itu, kau bisa bayangkan. Pokoknya, begitulah, akhirnya aku berhasil mencurinya."

"Tapi kenapa papan namaku harus kau curi juga? Kenapa nggak cuma ambil milik Yuko? Aku menderita karena kelakuanmu!"

"Aku benar-benar menyesal," kata monyet seraya menjatuhkan kepalanya dalam rasa malu. "Begitu aku melihat nama yang kusuka, aku pasti mengambilnya. Yah, agak memalukan sih, tapi namamu benar-benar menggerakkan hatiku, lho. Seperti yang kubilang, ini sebuah penyakit. Kau tahu, aku tidak bisa dengan mudahnya menahan nafsu menggebu-gebu yang muncul sesukanya. Aku sadar itu salah, tapi tetap kulakukan. Aku benar-benar minta maaf atas semua masalah yang kusebabkan."

"Monyet ini bersembunyi di kanal-kanal pembuangan di daerah Shinagawa," potong Bu Sakaki. "Jadi saya minta suami saya agar rekan kerjanya yang lebih muda bisa menangkapnya."

"Sakurada yang paling banyak berkontribusi," ujar Pak Sakaki.

"Dinas PU memang harus selalu siaga mengawasi saluran-saluran pembuangan kita dari makhluk-makhluk seperti ini," kata Sakurada bangga. "Dan rupanya, monyet ini punya markas di bawah Takanawa untuk menjalankan operasinya di seluruh Tokyo."

"Kau pikir saja, tak ada tempat bagi kami di kota," kata si monyet. "Sekarang pohon tinggal sedikit, juga tempat teduh saat matahari sedang panas-panasnya. Kalau kami keluar ke permukaan, orang-orang akan memburu kami. Anak-anak kecil melempari kami atau menembaki kami dengan senapan BB mereka. Anjing-anjing juga mengejar kami. Lalu kru stasiun televisi bisa tiba-tiba muncul dan menyoroti kami dengan lampu yang menyilaukan. Jadi, yah, mau tidak mau kami sembunyi di bawah tanah."

"Bu, bagaimana Anda bisa tahu monyet ini sembunyi di got bawah tanah?" tanya Mizuki pada Bu Sakaki.

"Banyak hal yang akhirnya menjadi jelas di mata saya," ujar Bu Sakaki. "Kurang lebih, bisa dibilang ini seperti kabut yang mulai terangkat. Saya sadar pasti ada sesuatu yang berhubungan dengan pencurian nama, dan apapun bentuknya pasti bersembunyi di bawah tanah. Yah, kemungkinan terbatas macam itu—kalau bukan di stasiun bawah tanah ya di got. Jadi saya bilang ke suami saya kalau ada sesuatu yang, kalau pun bukan manusia, tinggal di saluran-saluran itu, lalu minta dia memeriksanya. Dan, benar kan? Dia tahu-tahu membawa monyet ini."

Mizuki sekejap tak sanggup berkata-kata. "Tapi... bagaimana mungkin hanya mendengarkan celotehan saya, Anda langsung paham hal-hal macam itu?" ia akhirnya membuka mulut.

"Mungkin bukan tempat saya, sebagai suaminya, untuk bicara seperti ini," sela Pak Sakaki dibarengi sorot mata yang serius, "Istri saya ini orang sakti. Selama dua puluh tahun kami bersama, saya sering melihat kejadian aneh. Makanya saya benar-benar mengusahakan supaya istri saya bisa membuka pusat konseling di kantor ini. Saya yakin, selama ia diberi tempat agar bisa menggunakan kesaktiannya untuk kebaikan, penduduk Shinagawa lah yang akan menuai untungnya."

"Lalu, bagaimana nasib monyet ini selanjutnya?"

"Tak bisa dibiarkan hidup," celetuk Sakurada sambil lalu. "Apapun yang dia bilang aku tak percaya. Yang namanya kebiasaan buruk itu, suatu saat pasti kembali lagi. Jangan percaya pada janji dia akan berubah. Sekali saja dia begini, maka ke depannya..."

"Tunggu dulu," potong Pak Sakaki. "Apapun alasan kita, kalau sampai kelompok pecinta binatang tahu kita membunuh seekor monyet, kita bakal tak bisa berkelit. Apalagi kalau orang-orang mulai komplain, semua bisa kacau balau. Kau ingat waktu kita membantai gagak-gagak itu, ujung-ujungnya bagaimana? Saya sih maaf-maaf saja ya, kalau harus mengulang kejadian macam itu."

"Kumohon, jangan bunuh aku," kata monyet yang malang, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Yang kuperbuat memang salah. Aku tak menyangkalnya, tapi beberapa hal baik juga berasal dari perbuatanku."

"Hal baik macam apa yang mungkin dihasilkan dari mencuri nama orang?" tanya Pak Sakaki pedas.

"Aku memang mencuri nama orang. Tapi, dengan melakukannya, aku secara tak langsung membuang beberapa elemen negatif yang menempel pada nama-nama yang kucuri. Bukannya sesumbar, tapi kalau saja dulu aku berhasil mencuri papan nama Yuko Matsunaka, bisa jadi sekarang dia masih hidup."

"Maksudmu?" tanya Mizuki.

"Kalau aku mengambil namanya, barangkali aku bisa sekalian mengambil beberapa kegelapan yang mengendap dalam dirinya," jawab si monyet.

"Apa-apaan, sih," kata Sakurada. "Aku tak percaya. Nyawa monyet ini sudah di ujung tanduk—tentu dia sedang melakukan segala cara buat membenarkan perbuatannya."

"Hmm. Mungkin ya, mungkin tidak," ujar Bu Sakaki sambil melipat kedua tangannya. "Bisa jadi ada benarnya." Bu Sakaki menoleh ke arah monyet itu. "Waktu mencuri nama, kau tadi sempat bilang kau juga mengambil elemen baik dan buruk sekaligus?"

"Begitulah," jawab monyet. "Tapi aku tak bisa pilih salah satu saja. Harus keduanya, utuh, seperti apa adanya."

"Baiklah—memangnya apa saja hal-hal buruk yang dibawa namaku?" tanya Mizuki pada monyet.

"Wah, sebaiknya aku tak usah bilang,"

"Beri tahu aku," Mizuki memaksa. Ia diam sejenak. "Kalau kau menjawab pertanyaanku, aku akan memaafkanmu. Dan aku akan meminta semua yang ada di sini untuk memaafkanmu."

"Kau sungguh-sungguh?"

"Apabila monyet ini berkata jujur, maukah Anda memaafkannya?" Mizuki bertanya pada Pak Sakaki. "Secara alamiah, dia bukan binatang jahat, kan? Hanya saja, menurut saya ia terlanjur menderita. Jadi kita dengar bersama-sama penuturannya kemudian terserah saja, silakan bawa dia ke Gunung Takao dan membebaskannya. Saya pikir monyet ini tak akan mengganggu kita lagi. Pendapat Anda?"

"Saya sih tak apa-apa, selama Anda juga tak keberatan," kata Pak Sakaki. Ia berbalik ke arah monyet. "Kalau kami melepaskanmu di gunung, kau berani sumpah tidak akan menapakkan kakimu sejengkal pun ke perbatasan kota Tokyo?"

"Yes, Sir. Aku berani sumpah tak akan kembali," ujar monyet itu lembut. "Aku juga berjanji tidak akan membuat onar lagi. Lagipula, aku juga sudah tua, jadi kupikir ini tentu jadi awal baru dalam hidupku."

"Baiklah, sekarang, lebih baik kau mulai ceritakan kejelekan-kejelekan yang tersangkut di namaku" pinta Mizuki, tatapanya menusuk tajam ke mata monyet yang mungil kemerahan itu.

"Kalau kuceritakan, nanti kau terluka."

"Aku nggak peduli. Buruan."

Untuk beberapa saat, si monyet berpikir keras hingga timbul garis-garis kerutan tegas yang melintang panjang pada dahinya. "Setelah kupikir-pikir, sebaiknya kau tak perlu mendengarnya, sih," katanya.

"Sudah kubilang tidak apa-apa. Aku benar-benar ingin tahu."

"Oke. Kalau begitu, aku akan cerita," kata monyet. "Ibumu tak menyayangimu. Bisa dibilang, ia nggak pernah menyayangimu, tak semenit pun, bahkan sejak kau lahir dari rahimnya sendiri. Aku tak tahu kenapa, tapi memang begitu kenyataannya. Kakak perempuanmu juga dari dulu benci padamu. Ibumu mengirimmu sekolah ke Yokohama hanya karena ia tak ingin melihat rupa wajahmu berkeliaran di bawah atap yang sama dengannya. Sebisa mungkin, ia ingin membuangmu sejauh-jauhnya. Sebenarnya, kalau boleh jujur ayahmu bukan lah orang jahat, tapi ia bukan tipe ayah yang bisa kau andalkan, dan lagi, dia tidak cukup tegas untuk berdiri membelamu. Karena alasan-alasan ini, sedari kecil kau tak pernah memperoleh kasih sayang yang cukup. Kupikir seharusnya kau sudah punya firasat soal ini sejak lama, tapi kau terlanjur sengaja memalingkan matamu jauh-jauh dari kepahitan ini. Kau, pun, mengunci seluruh kenyataan menyakitkan ini dalam-dalam di suatu tempat kecil yang gelap di antara ujung dan pangkal hatimu lalu menutupnya rapat-rapat hingga kau sendiri kesulitan menggapainya, apalagi membukanya. Kau selalu berusaha menekan semua perasaan negatif yang seketika muncul begitu saja. Seribu kuda-kuda bertahan yang telah kau siapkan untuk melawan hal-hal seperti ini juga sudah menjadi bagian yang terlanjur menyatu dengan dirimu sekarang. Karenanya, kau tumbuh menjadi seseorang yang tidak pernah bisa benar-benar mencintai orang lain secara tulus dan ikhlas."

Mizuki hanya terdiam kaku.

"Pernikahanmu terlihat bahagia dan bebas dari masalah. Dan barangkali memang begitu adanya. Tapi kau tak pernah benar-benar mencintai suamimu, kan? Bahkan kalau suatu saat kau punya anak nanti, kupikir keadaannya tak akan banyak berubah."

Mizuki tetap diam seribu bahasa. Ia jatuh tersungkur ke lantai lalu menutup matanya. Ia merasakan seluruh tubuhnya mencoba memisahkan diri satu sama lain, tercerai berai sesuai kehendaknya masing-masing. Kulitnya, organ-organnya, tulang-tulangnya, semuanya berangsur remuk satu demi satu. Satu-satunya yang bisa ia dengar hanya suara nafasnya sendiri.

"Kontol! Mulutmu benar-benar keterlaluan, monyet!" kata Sakurada. "Bos, aku muak sekali. Kita habisi saja hewan ini!"

"Tahan dulu," kata Mizuki. "Kata-kata monyet ini memang benar adanya. Saya sudah sadar sejak lama, tapi saya sendiri selalu berusaha menutup mata dan telinga. Dia mengatakan yang sebenarnya, jadi tolong, maafkan dia. Bawa dia ke gunung dan biarkan saja dia bebas di sana."

Bu Sakaki dengan lembut menaruh tangannya di atas pundak Mizuki. "Benar, Anda baik-baik saja?"

"Saya tak apa-apa, yang penting nama saya kembali. Mulai sekarang, saya akan menjalani hidup apa adanya. Biar bagaimanapun, ini nama saya, ini hidup saya."

***

Sewaktu Mizuki mengucap salam perpisahan kepada monyet itu, ia memberikan papan nama Yuko Matsunaka padanya sebagai kenang-kenangan.

"Kau yang seharusnya menyimpannya, bukan aku," katanya. "Jaga baik-baik namanya. Dan, jangan pernah curi nama orang lain lagi."

"Tentu. Aku takkan pernah mencuri lagi, janji," kata monyet itu dengan raut serius.

"Ngomong-ngomong, kau tahu motivasi Yuko menitipkan papan namanya padaku? Kenapa dia memilihku?"

"Entahlah, aku juga bingung," jawabnya. "Tapi, karenanya, kau dan aku bisa bertemu, kan? Kurasa ini yang disebut, takdir selalu bergerak dengan cara-cara misterius."

"Mungkin saja," balas Mizuki.

"Tapi, benarkah apa yang kusampaikan menyakitimu?"

"Menurutmu?"

"Maaf ya. Padahal aku tak berniat menyampaikannya padamu, kan?"

"Tak apa. Jauh di dalam sana, aku sudah tahu. Sebenarnya memang hal itu lah yang suatu hari nanti mau tidak mau harus kuhadapi."

"Yah, mendengarnya saja aku lega, lho," kata si monyet.

"Bye bye," pamit Mizuki. "Sepertinya kita nggak bakal ketemu lagi."

"Jaga dirimu," jawabnya. "Terima kasih telah menyelamatkan nyawa yang tak berharga ini."

"Sebaiknya batang hidungmu itu jangan sampai terlihat lagi di sekitar Shinagawa," kata Sakurada memperingatkan, sambil menepuk-nepukkan tongkat polisinya ke telapak tangannya. "Kau mungkin beruntung hari ini karena Bos menyuruhku membebaskanmu, tapi kalau suatu hari aku menangkapmu lagi, kupastikan kau takkan keluar dari sini hidup-hidup."

***

"Oke, kalau begitu apa yang akan kita bahas di sesi minggu depan?" tanya Bu Sakaki pada Mizuki sambil mereka berjalan menuju pusat konseling. "Masih punya masalah yang perlu didiskusikan?"

Mizuki menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Terima kasih banyak, berkat Anda masalah saya terselesaikan."

"Anda tak merasa perlu mendiskusikan ucapan monyet tadi?"

"Tak usah, harusnya saya bisa menanganinya sendiri. Saya akan coba mereflesikan masalah itu sendiri sementara waktu."

Bu Sakaki mengangguk. "Kalau memang Anda mau memikirkannya," katanya, "saya yakin ke depannya hal itu akan banyak manfaatnya."

Dua wanita itu berjabat tangan lalu berpamitan.

Sesampainya di rumah, Mizuki mengambil papan nama dan gelang miliknya dan memasukannya ke dalam sebuah amplop coklat. Ia lalu menaruh amplop itu ke dalam kotak kardus di dalam lemarinya. Akhirnya ia kembali mendapatkan namanya kembali dan bisa melanjutkan hidupnya seperti sedia kala. Selanjutnya, mungkin segalanya akan baik-baik saja. Mungkin juga tidak. Setidaknya sekarang ia kembali memiliki namanya, sebuah nama yang memang miliknya, dan miliknya seorang.

***

Cerpen di atas dapat dibaca di The New Yorker. Diterjemahkan oleh Philip Gabriel dari Bahasa Jepang ke Bahasa Inggris.

Listening to : The Grateful Dead - Scarlet Begonias