Monday, August 7, 2017

Ambimoron, Oksivalensi, dan Jangan Kamu Nikah Muda (3)


Pikiranku kacau. Aku tak tahu harus bicara apa. Beberapa saat lalu, memoriku seperti mempermainkanku. Ia sengaja memunculkan potret masa laluku dan Dhani yang sudah kukubur dalam-dalam. Seperti saat kami menghabiskan satu minggu penuh untuk berkelahi dan bercumbu, hanya karena kami menentukan siapa teman ospek yang boleh kami balas pesannya. Atau saat ia tak suka caraku menghabiskan limit kartu kreditku dengan membeli sekardus koleksi buku baru, lalu ia membalas dengan membeli koleksi buku yang sama untuk dirinya sendiri. Masalah-masalah sepele macam itu biasanya memang kami lanjutkan dengan keputusan bodoh, dan ditutup dengan seks yang membabi buta.

"Ra, begini.." dadaku sesak dipenuhi kenangan tentang Dhani. Aku bingung, ini kah saat yang tepat untuk berdamai dengan diriku sendiri?

Zara dan aku sama-sama mematikan rokok untuk memulai proses menyimak dan pengakuan, sesuai peran kami masing-masing. 

"Kau pernah dengar orang tua Dhani sibuk sekali berbisnis sampai Dhani nggak pernah merasa dekat dengan mereka?"

"Ya, dia sering cerita padaku. Apa hubungannya?" Zara bertanya heran.

"Faktanya, mereka nggak sesibuk itu. Dan... tiap kali Dhani bilang mereka pamit keluar untuk bisnis, mereka semacam... mencari tempat untuk melampiaskan.. kau tahu, hal-hal liar yang kini kau alami."

"Maksudnya?"

"Hmm, Dhani pernah cerita beberapa kali ia mengikuti orang tuanya diam-diam. Di loteng, di basement, di mana pun yang menurut mereka aman, ternyata Dhani mengendap-endap di belakang mereka. Ia juga bilang, sekasar apapun ayahnya memperlakukan ibunya, ibunya kelihatan happy-happy saja. Memang nggak jarang dia lihat ibunya menangis, tapi tiap kali ditanya, ibunya berkilah 'Ini tangisan bahagia'. Begitu." 

"Dan... apa ia pernah melakukannya padamu?"

"Pernah, dulu sekali. Memang, pada awalnya dia memperlakukanku kayak binatang. Tapi, aku pun punya memori yang nggak kalah buruknya. Kau tahu kan, sebab ibuku menceraikan ayahku? Berbeda dengan orang tua Dhani, orang tuaku saling memaki dan berkelahi di depanku dan abangku. Sebelum ibuku menggugat cerai, terjadi perkelahian hebat. Abangku sempat naik darah sampai memukul tenggorokan ayahku, makanya dengar-dengar ia jadi sulit bicara sekarang. Ia bilang padaku, kalau suatu hari nanti aku mengalami hal yang sama, jangan ragu untuk melawan."

"Terus?"

"Tentu aku melawan. Nggak ada yang mau diperlakukan kayak anjing. Mungkin kau bisa ikut kelas beladiri, Muay Thai atau Krav Maga mungkin." aku mencoba melawak.

"Hahaha yang benar saja, aku yang kayak tuyul busung lapar ini bisa apa sih? Kena sekali chockslam aku langsung jadi serbuk energen." Zara balas melawak, masih garing seperti biasa.

"Kau ini, coba dulu. Tapi kalau aku dulu sih mudah saja, orang macam Dhani jadi culun tiap takut kehilangan. Dulu aku sempat meninggalkannya dan sengaja lost contact selama dua bulan, sampai akhirnya dia datang ke rumahku lalu memohon-mohon kayak unta kehausan. Dia mengaku kapok dan sangat tersiksa dua bulan aku nggak ngasih kabar apapun. Yah, karena aku masih sayang, kubilang saja kalau ia berani melakukannya sekali lagi, aku bakal benar-benar pergi dan nggak kembali. Untungnya sih setelah itu nggak pernah lagi ada kejadian kayak gitu, dan sayangnya aku harus terpaksa ikut ibuku kabur ke Montreal. Jadi.. yah, begitulah. Aku nggak nyangka Dhani juga melakukannya padamu."

"Benarkah? Ah, Oyaak.. terima kasih. Aku lega akhirnya aku bisa buka mulut soal ini. Tapi aku lebih lega karena aku bisa buka mulut padamu. Nggak salah waktu kupikir kau adalah satu-satunya orang yang tepat buat masalahku ini. Maaf aku nggak bisa kasih kamu apapun kecuali ucapan terima kasih dan sebotol Cold Brew Toraja. Kuharap kau masih mau ngobrol denganku kapan-kapan sampai masalah ini selesai."

"Halah, santai saja Ra. Kupikir aku lah yang harus berterima kasih karena kau mau buka-bukaan padaku. Kau tahu? Aku sangat merindukan saat-saat kayak gini. Boleh lah, kita harus banyak ngobrol begini."

Aku dan Zara melanjutkan obrolan sampai Resonance hampir tutup. Sesudah itu, aku pamit pulang sementara Zara masih ingin mengawasi pegawai-pegawainya lebih lama lagi. Hingga malam, kafenya tak begitu ramai. Aku menutup pamitku dengan menyemangatinya menggunakan kata-kata standar yang intinya mendoakan kesuksesan bisnisnya. Berkali-kali aku melakukannya, tapi baru kali ini aku sungguh-sungguh memaknainya.

***

Enam tahun berlalu sejak pertemuanku di Resonance. Aku sudah pindah ke Bandung dan kini bekerja di sebuah firma arsitektur. Hari ini akhir bulan dan aku baru saja selesai menonton film terbaru Christopher Nolan. Setiap akhir bulan, kantorku memberi libur ekstra tiga hari bagi karyawannya untuk mengurangi beban kerja berlebih karena belakangan kantorku sedang mengerjakan proyek besar. Karenanya, aku punya waktu luang untuk sekedar menonton film di bioskop atau bermalas-malasan di apartemen.

Bioskop hari itu penuh sekali, aku cukup beruntung mendapat satu tiket. Saat berjalan keluar, aku melihat sesosok wanita yang sangat kukenal. Zara. Begitu pun saat ia melihatku, ia langsung mengenaliku.

"Kita nggak pernah ngobrol lagi sejak terakhir di Resonance." tukas Zara.

"Iya maaf aku nggak pernah membalas chatmu. Aku sedang sibuk magang waktu itu."

Kami ngobrol sambil berjalan menuju tempat kami memarkirkan mobil. Zara cerita soal Resonance yang sukses besar dan kini ia memasrahkannya kepada bawahannya. Sayang obrolan kami tak berlangsung lama, ia mengaku sedang terburu-buru karena suami baru dan anak laki-lakinya yang masih TK menunggunya di rumah. Sambil membawa tas plastik besar berisi belanjaan bulanan, sesekali ia tertawa lepas saat menceritakan tingkah laku anaknya yang masih polos. "Aneh-aneh ya anak kecil jaman sekarang. Masih TK kok cinta-cintaan." kelakarnya. Zara kelihatan bahagia menjalani kehidupan barunya. Tak lupa, aku sempat membantunya memasukkan belanjaan ke bagasi mobilnya. Setelah selesai memasukkan barang, ia melambaikan tangannya padaku dan berpamitan. Ia memintaku untuk menghubunginya lagi setelah tahu kami sama-sama tinggal di Bandung sekarang.

Aku masuk ke mobil lalu diam sebentar. Pikiranku membawaku kembali ke Resonance, ke pertemuan itu, ke waktu di mana aku memutuskan untuk tidak jadi berdamai dengan diriku sendiri. Antara penyesalan dan kelegaan telah berbohong pada Zara. Menyesal karena berbohong itu, yah, perbuatan yang salah. Lega karena, kebohonganku membuat Zara menggugat cerai Dhani dan akhirnya ia bisa hidup bahagia dengan suami barunya.

Sambil memacu mobilku pelan-pelan, aku merenungkan peristiwa itu. Seandainya saat itu aku memilih untuk jujur. Tentang kegemaranku pada seks liar, tentang ide mendominasi satu sama lain. Tentang Dhani yang gemar mendominasi ternyata pada satu waktu bisa pula bertekuk lutut setelah aku berhasil membalik keadaan. Tentang sensasi aneh tapi nikmat saat aku yang menjadi dominan atas dirinya.

Aku bisa saja bercerita kalau aku mulai paham kenapa Dhani gemar melakukannya dan memang kami sesekali berbincang soal itu setelah seks. Biasanya, sambil menghisap beberapa linting ganja yang kami pesan, aku mengajukan ide untuk terus melanjutkan hubungan dengan cara seperti itu. Pernah suatu ketika hubungan kami dingin-dingin saja, aku dan Dhani malah merasa ada yang aneh. Kami secara sadar menginginkan hubungan yang berapi-api dan setuju untuk terus melakukannya. Tidak sehat memang, masing-masing menjadi terlalu berlebihan dalam menjunjung konsep kepemilikan. Kau tahu, itu sebabnya aku dan Dhani sama-sama tak punya teman sejak SMA hingga kuliah.

Sesampainya di apartemen, aku masuk ke dapur dan membuat dua gelas kopi. Satu untukku dan satu untuk Dhani yang masih sibuk dengan leptopnya.

"Tadi aku ketemu Zara."

"Apa dia tanya soal aku?"

"Nggak, kayaknya dia nggak tahu."

"Bagus lah."

Dhani menyeruput kopinya tapi buru-buru menaruhnya di atas meja. Masih terlalu panas, katanya. Ia menutup leptop dan menyalakan sebatang rokok. Bangkit dari kursinya, ia mengambil gitar, lalu berjalan ke arah kasur dan berbaring di sebelahku. Dijepitnya rokok yang ia nyalakan di antara jari manis dan jari tengahnya. Sambil mengatur posisinya, ia mulai memetik senar gitar dan melantunkan verse kedua lagu kesukaan kami.

I look at the world and I notice it's turning
While my guitar gently weeps
With every mistake we must surely be learning
Still my guitar gently weeps

Aku menenggak kopiku sambil memejamkan mata seiring Dhani bernyanyi. Kupikir aku harus bersyukur karena telah melakukan langkah yang benar. Sekali lagi memberi kebahagiaan bagi dua orang terdekat yang kumiliki.

Tak lama aku membalas Dhani dengan menyanyikan bagian reffnya.

I don't know how you were diverted
You were perverted too
I don't know how you were inverted
No one alerted you

***

Kepada Dhani Harrison dan Sola Káradóttir. Bapakmu memang luar biasa.

Listening to : The Beatles - While My Guitar Gently Weeps

Part 1 | Part 2

0 comments:

Post a Comment