Monday, August 7, 2017

Ambimoron, Oksivalensi, dan Jangan Kamu Nikah Muda (3)


Pikiranku kacau. Aku tak tahu harus bicara apa. Beberapa saat lalu, memoriku seperti mempermainkanku. Ia sengaja memunculkan potret masa laluku dan Dhani yang sudah kukubur dalam-dalam. Seperti saat kami menghabiskan satu minggu penuh untuk berkelahi dan bercumbu, hanya karena kami menentukan siapa teman ospek yang boleh kami balas pesannya. Atau saat ia tak suka caraku menghabiskan limit kartu kreditku dengan membeli sekardus koleksi buku baru, lalu ia membalas dengan membeli koleksi buku yang sama untuk dirinya sendiri. Masalah-masalah sepele macam itu biasanya memang kami lanjutkan dengan keputusan bodoh, dan ditutup dengan seks yang membabi buta.

"Ra, begini.." dadaku sesak dipenuhi kenangan tentang Dhani. Aku bingung, ini kah saat yang tepat untuk berdamai dengan diriku sendiri?

Zara dan aku sama-sama mematikan rokok untuk memulai proses menyimak dan pengakuan, sesuai peran kami masing-masing. 

"Kau pernah dengar orang tua Dhani sibuk sekali berbisnis sampai Dhani nggak pernah merasa dekat dengan mereka?"

"Ya, dia sering cerita padaku. Apa hubungannya?" Zara bertanya heran.

"Faktanya, mereka nggak sesibuk itu. Dan... tiap kali Dhani bilang mereka pamit keluar untuk bisnis, mereka semacam... mencari tempat untuk melampiaskan.. kau tahu, hal-hal liar yang kini kau alami."

"Maksudnya?"

"Hmm, Dhani pernah cerita beberapa kali ia mengikuti orang tuanya diam-diam. Di loteng, di basement, di mana pun yang menurut mereka aman, ternyata Dhani mengendap-endap di belakang mereka. Ia juga bilang, sekasar apapun ayahnya memperlakukan ibunya, ibunya kelihatan happy-happy saja. Memang nggak jarang dia lihat ibunya menangis, tapi tiap kali ditanya, ibunya berkilah 'Ini tangisan bahagia'. Begitu." 

"Dan... apa ia pernah melakukannya padamu?"

"Pernah, dulu sekali. Memang, pada awalnya dia memperlakukanku kayak binatang. Tapi, aku pun punya memori yang nggak kalah buruknya. Kau tahu kan, sebab ibuku menceraikan ayahku? Berbeda dengan orang tua Dhani, orang tuaku saling memaki dan berkelahi di depanku dan abangku. Sebelum ibuku menggugat cerai, terjadi perkelahian hebat. Abangku sempat naik darah sampai memukul tenggorokan ayahku, makanya dengar-dengar ia jadi sulit bicara sekarang. Ia bilang padaku, kalau suatu hari nanti aku mengalami hal yang sama, jangan ragu untuk melawan."

"Terus?"

"Tentu aku melawan. Nggak ada yang mau diperlakukan kayak anjing. Mungkin kau bisa ikut kelas beladiri, Muay Thai atau Krav Maga mungkin." aku mencoba melawak.

"Hahaha yang benar saja, aku yang kayak tuyul busung lapar ini bisa apa sih? Kena sekali chockslam aku langsung jadi serbuk energen." Zara balas melawak, masih garing seperti biasa.

"Kau ini, coba dulu. Tapi kalau aku dulu sih mudah saja, orang macam Dhani jadi culun tiap takut kehilangan. Dulu aku sempat meninggalkannya dan sengaja lost contact selama dua bulan, sampai akhirnya dia datang ke rumahku lalu memohon-mohon kayak unta kehausan. Dia mengaku kapok dan sangat tersiksa dua bulan aku nggak ngasih kabar apapun. Yah, karena aku masih sayang, kubilang saja kalau ia berani melakukannya sekali lagi, aku bakal benar-benar pergi dan nggak kembali. Untungnya sih setelah itu nggak pernah lagi ada kejadian kayak gitu, dan sayangnya aku harus terpaksa ikut ibuku kabur ke Montreal. Jadi.. yah, begitulah. Aku nggak nyangka Dhani juga melakukannya padamu."

"Benarkah? Ah, Oyaak.. terima kasih. Aku lega akhirnya aku bisa buka mulut soal ini. Tapi aku lebih lega karena aku bisa buka mulut padamu. Nggak salah waktu kupikir kau adalah satu-satunya orang yang tepat buat masalahku ini. Maaf aku nggak bisa kasih kamu apapun kecuali ucapan terima kasih dan sebotol Cold Brew Toraja. Kuharap kau masih mau ngobrol denganku kapan-kapan sampai masalah ini selesai."

"Halah, santai saja Ra. Kupikir aku lah yang harus berterima kasih karena kau mau buka-bukaan padaku. Kau tahu? Aku sangat merindukan saat-saat kayak gini. Boleh lah, kita harus banyak ngobrol begini."

Aku dan Zara melanjutkan obrolan sampai Resonance hampir tutup. Sesudah itu, aku pamit pulang sementara Zara masih ingin mengawasi pegawai-pegawainya lebih lama lagi. Hingga malam, kafenya tak begitu ramai. Aku menutup pamitku dengan menyemangatinya menggunakan kata-kata standar yang intinya mendoakan kesuksesan bisnisnya. Berkali-kali aku melakukannya, tapi baru kali ini aku sungguh-sungguh memaknainya.

***

Enam tahun berlalu sejak pertemuanku di Resonance. Aku sudah pindah ke Bandung dan kini bekerja di sebuah firma arsitektur. Hari ini akhir bulan dan aku baru saja selesai menonton film terbaru Christopher Nolan. Setiap akhir bulan, kantorku memberi libur ekstra tiga hari bagi karyawannya untuk mengurangi beban kerja berlebih karena belakangan kantorku sedang mengerjakan proyek besar. Karenanya, aku punya waktu luang untuk sekedar menonton film di bioskop atau bermalas-malasan di apartemen.

Bioskop hari itu penuh sekali, aku cukup beruntung mendapat satu tiket. Saat berjalan keluar, aku melihat sesosok wanita yang sangat kukenal. Zara. Begitu pun saat ia melihatku, ia langsung mengenaliku.

"Kita nggak pernah ngobrol lagi sejak terakhir di Resonance." tukas Zara.

"Iya maaf aku nggak pernah membalas chatmu. Aku sedang sibuk magang waktu itu."

Kami ngobrol sambil berjalan menuju tempat kami memarkirkan mobil. Zara cerita soal Resonance yang sukses besar dan kini ia memasrahkannya kepada bawahannya. Sayang obrolan kami tak berlangsung lama, ia mengaku sedang terburu-buru karena suami baru dan anak laki-lakinya yang masih TK menunggunya di rumah. Sambil membawa tas plastik besar berisi belanjaan bulanan, sesekali ia tertawa lepas saat menceritakan tingkah laku anaknya yang masih polos. "Aneh-aneh ya anak kecil jaman sekarang. Masih TK kok cinta-cintaan." kelakarnya. Zara kelihatan bahagia menjalani kehidupan barunya. Tak lupa, aku sempat membantunya memasukkan belanjaan ke bagasi mobilnya. Setelah selesai memasukkan barang, ia melambaikan tangannya padaku dan berpamitan. Ia memintaku untuk menghubunginya lagi setelah tahu kami sama-sama tinggal di Bandung sekarang.

Aku masuk ke mobil lalu diam sebentar. Pikiranku membawaku kembali ke Resonance, ke pertemuan itu, ke waktu di mana aku memutuskan untuk tidak jadi berdamai dengan diriku sendiri. Antara penyesalan dan kelegaan telah berbohong pada Zara. Menyesal karena berbohong itu, yah, perbuatan yang salah. Lega karena, kebohonganku membuat Zara menggugat cerai Dhani dan akhirnya ia bisa hidup bahagia dengan suami barunya.

Sambil memacu mobilku pelan-pelan, aku merenungkan peristiwa itu. Seandainya saat itu aku memilih untuk jujur. Tentang kegemaranku pada seks liar, tentang ide mendominasi satu sama lain. Tentang Dhani yang gemar mendominasi ternyata pada satu waktu bisa pula bertekuk lutut setelah aku berhasil membalik keadaan. Tentang sensasi aneh tapi nikmat saat aku yang menjadi dominan atas dirinya.

Aku bisa saja bercerita kalau aku mulai paham kenapa Dhani gemar melakukannya dan memang kami sesekali berbincang soal itu setelah seks. Biasanya, sambil menghisap beberapa linting ganja yang kami pesan, aku mengajukan ide untuk terus melanjutkan hubungan dengan cara seperti itu. Pernah suatu ketika hubungan kami dingin-dingin saja, aku dan Dhani malah merasa ada yang aneh. Kami secara sadar menginginkan hubungan yang berapi-api dan setuju untuk terus melakukannya. Tidak sehat memang, masing-masing menjadi terlalu berlebihan dalam menjunjung konsep kepemilikan. Kau tahu, itu sebabnya aku dan Dhani sama-sama tak punya teman sejak SMA hingga kuliah.

Sesampainya di apartemen, aku masuk ke dapur dan membuat dua gelas kopi. Satu untukku dan satu untuk Dhani yang masih sibuk dengan leptopnya.

"Tadi aku ketemu Zara."

"Apa dia tanya soal aku?"

"Nggak, kayaknya dia nggak tahu."

"Bagus lah."

Dhani menyeruput kopinya tapi buru-buru menaruhnya di atas meja. Masih terlalu panas, katanya. Ia menutup leptop dan menyalakan sebatang rokok. Bangkit dari kursinya, ia mengambil gitar, lalu berjalan ke arah kasur dan berbaring di sebelahku. Dijepitnya rokok yang ia nyalakan di antara jari manis dan jari tengahnya. Sambil mengatur posisinya, ia mulai memetik senar gitar dan melantunkan verse kedua lagu kesukaan kami.

I look at the world and I notice it's turning
While my guitar gently weeps
With every mistake we must surely be learning
Still my guitar gently weeps

Aku menenggak kopiku sambil memejamkan mata seiring Dhani bernyanyi. Kupikir aku harus bersyukur karena telah melakukan langkah yang benar. Sekali lagi memberi kebahagiaan bagi dua orang terdekat yang kumiliki.

Tak lama aku membalas Dhani dengan menyanyikan bagian reffnya.

I don't know how you were diverted
You were perverted too
I don't know how you were inverted
No one alerted you

***

Kepada Dhani Harrison dan Sola Káradóttir. Bapakmu memang luar biasa.

Listening to : The Beatles - While My Guitar Gently Weeps

Part 1 | Part 2

Ambimoron, Oksivalensi, dan Jangan Kamu Nikah Muda (2)


Aku dan Dhani sekelas waktu SMA. Pertama kali ia mendekatiku saat pelajaran Bahasa Indonesia, di mana kami semua diminta untuk bercerita tentang liburan kami bersama keluarga. Dengan percaya diri aku menceritakan liburanku yang membosankan, berkeliling ke beberapa toko buku bekas turis di Bali. Aku sudah terbiasa tak peduli dengan label yang diberikan teman-temanku padaku. Hingga Dhani mendatangiku di akhir pelajaran, kemudian memuji ceritaku yang mirip dengan yang ia alami. Sejak itu kami sering pergi berdua dan resmi berpacaran. Tak butuh waktu yang lama bagi kami untuk saling menyesuaikan diri. Kebencian kami pada realita, pandangan kami terhadap palsunya tatanan sosial, dan bagaimana kami menyikapinya lah yang menjadikan kami cocok satu sama lain. Aku seperti melihat diriku padanya dan ia melihat dirinya padaku. Meski kami tak saling melengkapi, kami berdua serasa seperti mengencani diri kami sendiri. 

Di satu sisi, aku dan Dhani tumbuh untuk menikmati kebebasan kami, namun di sisi lain kami merasa sangat kesepian. Tentu, menjadi bagian dari keluarga konservatif yang kaku dan penuh kepalsuan hanya akan menyiksa Dhani. Aku sendiri sudah pacaran lima tahun dengannya. Aku tahu benar sebenci apa Dhani pada doktrin budaya ketimuran yang munafik, apalagi dipaksa menjadi bagian dari kemunafikan, membuatku tak yakin Dhani akan menikmati kehidupan barunya. Tak heran, aku pun paham alasan Dhani untuk tak ingin punya anak cepat-cepat. Mungkin ia hanya tak ingin masa kecil anaknya mereplika masa kecilnya. Atau mungkin ia ingin pelan-pelan menjauh dari pengaruh keluarga Zara, supaya mereka tak banyak ikut campur mengurusi anak mereka kelak. 

"Maaf aku baru mengabarimu. Aku baru tahu kau sudah di Jakarta. Dhani memberitahuku, tapi sekarang ia sedang banyak urusan, survey lahan katanya. Ia sibuk sekali belakangan, makanya aku ikut-ikutan bisnis kecil-kecilan begini. Lagipula, aku ingin bicara empat mata saja denganmu."

Ah, jadi sekarang Dhani yang mengurus bisnis keluarganya. Kupikir ia terpaksa menjalaninya, tapi dari cerita Zara, sepertinya Dhani tampak menikmatinya. Dulu ia bercita-cita untuk memiliki usaha sendiri di bidang lain, tapi nampaknya waktu memang mengubah orang.

"Nggak apa-apa. Ngomong-ngomong, apa maksudmu dengan hanya ingin kita berdua saja?" tanyaku penasaran.

"Duh, aku bingung bagaimana mengatakannya. Begini, entah kau sekarang menganggapku seperti apa, tapi aku masih menganggapmu sama seperti dulu. Dan kau adalah satu-satunya orang yang bisa kuandalkan soal ini..."

Zara melepas arloji Braun hitam dari tangan kirinya, lalu perlahan menggulung lengan blus viscouse hijau tua yang ia kenakan. Lengan mungil yang dulu putih mulus itu kini penuh dengan luka lebam kebiruan. 

"Dhani melakukan ini padaku tiap ia pulang meeting. Aku cuma tanya soal bisnisnya lalu ia menatapku penuh emosi kayak kesurupan leak yang lagi lapar. Aku takut. Aku hanya diam ketakutan sementara ia memaki tanpa henti," keluh Zara dengan volume suara yang makin mengecil dan terbata-bata. Sebentar lagi pasti tangisnya meledak.

Aku diam saja tak ingin menyela ceritanya. Benar saja, air mata mulai membanjiri pipinya yang memerah dan isak tangis membuat suaranya seperti kambing yang pura-pura kejang sesaat sebelum disembelih.

"Kalau aku sudah diam, dia bakal meninggikan suaranya lalu membanting barang-barang di sekitarnya. Biasanya aku cuma bisa meringkuk sambil menutup telingaku. Kalau sudah begitu, dia nggak segan mencengkeram tanganku keras sekali, membuka paksa kerudungku, menjambak rambutku dan bicara keras-keras di samping telingaku. Aku nggak bisa apa-apa, aku sudah pasti menangis. Nggak lama pasti dia mulai memukulku dengan bantal, atau paling parah menendangku bertubi-tubi." lanjut Zara sambil memperlihatkan pinggangnya yang juga penuh luka lebam.

"Lalu?" aku akhirnya buka mulut.

"Setelah aku menangis nggak berdaya, sorot matanya berubah dan tiba-tiba Dhani jadi peduli padaku. Ia lalu memelukku, terus-menerus minta maaf sambil mengusap tangisku. 'Cup, cup. Maaf sayang, aku khilaf terbawa emosi,' katanya. Aku balas memeluknya saat ia mencium keningku dan mengelus rambutku penuh penyesalan."

"Selama ini kau nggak cerita ke siapa pun? Ini kelewatan, Ra." tanyaku sambil mengulurkan tisu.

Ia mengisap rokoknya sebelum melanjutkan, "Dengar dulu. Selanjutnya dia bakal membelai pipiku dan menciumku perlahan. Kalau nggak kubalas ciumannya, ia akan memaksaku melakukannya. Dan kalau sudah begitu, tangannya pelan-pelan meremas dadaku dan.. kau tahu lah.."

"Tahu apa?"

"Nggak usah pura-pura bodoh, kita sudah sama-sama dua puluh empat tahun."

"Oh.."

"Ya, kami melanjutkannya dengan seks. Di ruang tengah, di dapur, di atas meja tv, di garasi mobil. Di mana pun kami bisa melakukannya. Dhani kelihatan sangat bernafsu melakukannya, aku jarang lihat nafsu sebesar itu tiap kami melakukannya secara normal."

Aku menelan ludah dan mencoba membayangkan hal lain. Mendengar cerita seks antara Zara dan Dhani lebih jauh hanya akan membangkitkan memori-memori yang tak kuinginkan.

"Maaf aku cerita ini padamu, tapi aku nggak tahan, Oyak. Dhani sekarang jarang melibatkanku dalam diskusi atau ambil keputusan soal hal-hal remeh kayak pas masih kuliah. Sekarang ia melihatku cuma sebagai properti, seperti cara keluarga besarku melihat istri-istri mereka. Aku ingin diperlakukan sebagai partner, makhluk yang setara. Bukannya budak seks yang nggak berdaya lalu disumpahi macam-macam dan selalu berakhir lemas di ranjang. Aku nggak tahan harus hidup dengan ketakutan yang sama bakal terulang esok hari." aku Zara diselingi isapan rokok dan isak tangis yang tak seirama.

"Lalu kenapa baru cerita sekarang? Pernah coba ke konsultan rumah tangga?"

"Nggak. Nggak bakal, kurasa. Aku bahkan nggak berani bilang ke Dhani. Memang kau pikir aku mau buka-bukaan soal ini? Kau pikir nanti keluargaku mau bilang apa? Keluargaku menganggapku beruntung sekali punya suami sekaya Dhani. Kalau tahu aku mau minta cerai, mereka bakal memaksaku untuk tetap diam dan bilang 'Awal nikah pasti banyak cekcoknya' atau 'Roda berputar, kadang di atas kadang di bawah' atau apalah.."

Kalau mau jujur, aku tidak kaget. Ternyata Dhani yang sekarang masih seperti yang kukenal. Selama pacaran lima tahun, kami seperti saling menyalurkan energi kami satu sama lain, entah positif atau negatif. Kami bisa dipenuhi nafsu untuk saling menguliti, dan di waktu yang sama memberikan nyawa kami satu sama lain jika diperlukan. Kami bisa dibutakan kebiadaban untuk saling menyobek arteri di pelipis masing-masing, lalu sekejap merengek manja seperti bayi yang ditinggal ibunya sepersekian detik. Termasuk soal seks, kami sama-sama kecanduan hubungan yang deras akan cinta dan amarah. Apalagi jika zat-zat haram macam amfetamin atau LSD sedang mengalir liar di darah kami, fantasi kami soal kekerasan dalam seks biasa kami wujudkan dengan makin variatif. Lucunya, meski berakhir lebam-lebam, tak satupun dari kami mengeluh. Kami cenderung menikmati setiap prosesnya.

"Kenapa kau cuma mau cerita padaku?"

"Kenapa? Ayolah, aku tahu luar dalam soal kau dan Dhani, tapi kalian nggak pernah cerita soal hal-hal kayak gini. Sola-ku sayang, ini saatnya kau jujur padaku, siapa tahu itu bisa membantuku, atau seenggaknya menenangkanku." ujar Zara sambil membenarkan lengan bajunya dan memasang lagi jam tangannya.

***

Ambimoron, Oksivalensi, dan Jangan Kamu Nikah Muda (1)


Apa kau tau istilah yang tepat untuk sesuatu yang kau cintai sekaligus benci di waktu yang sama? Aku yakin setiap orang punya satu. Soal cinta dan benci, keduanya berada di kutub yang berbeda, tapi biar bagaimanapun bisa serempak dirasakan. Benarkah, ambivalensi? Benarkah, oksimoron? Entah istilah tepatnya, kata-kata memang terbatas untuk menjelaskan hal-hal tertentu. Yang kutahu, aku sedang menyanyikan salah satunya.

I don't know how, you were diverted
You were perverted too
I don't know how, you were inverted
No one alerted you

Suara George Harrison menderau samar dari speaker mobil, derasnya hujan di luar membuatku menekan tombol volume up beberapa kali. Aku menyanyikannya dengan lantang sambil mengutuk jalan yang macet. Beribu memori seakan bangkit dari kubur begitu While My Guitar Gently Weeps meracau dari playlist acak. Seribu memori baik, seribu memori buruk. Maaf George, aku terlanjur cinta namun sekaligus benci dengannya.

Sudah lama aku tak mengemudi. Apalagi sendirian, di tengah jalanan Jakarta hari Jumat sore. Kalau saja bukan karena Zara, sahabatku -bukan, mantan sahabatku, atau satu-satunya mantan sahabat, atau mantan satu-satunya sahabat yang pernah kumiliki- mengajakku minum kopi di kafe baru miliknya, mana mungkin aku mengiyakan.

Ngomong-ngomong, aku sudah sebulan di sini tapi baru kali ini aku pergi keluar. Maklum, aku tak punya banyak teman dan pada dasarnya aku memang kesulitan mencari teman baru. Selain itu, aku juga butuh waktu bersenang-senang untuk diriku sendiri selepas kuliah. Dengan mengiyakan ajakan Zara, hitung-hitung aku sekaligus mencoba beradaptasi di lingkungan baru.

Dibilang lingkungan baru pun tidak juga, aku tinggal di sini hingga pertengahan kuliah, tapi Jakarta terlalu banyak berubah. Selama tiga tahun di Montreal, aku menangisi penggalan-penggalan memori memuakkan yang kupunya tentang Jakarta : deru klakson kendaraan yang memaksaku bangun tiap subuh, panas matahari jam tujuh pagi, menghabiskan sarapan di mobil saat macet berangkat sekolah, atau menikmati akhir pekan sendirian dengan jalan-jalan tak tahu arah di mall. Sungguh, merindukan hal-hal yang tak lagi kau miliki memang menyiksa, semuak apapun kau pada mereka.

Yah, rindu menghasilkan fantasi kusut yang hanya didesain untuk hal-hal memuakkan yang tak kaumiliki. Terbukti baru sebulan aku pulang, semua yang kurindu akhirnya kembali kumiliki tapi sensasi yang kurasakan hanya rasa kesal tak berkesudahan. Rasanya aku ingin terperangkap saja dalam fantasi kusutku, berenang-renang menyusuri setiap pojok romansanya, tenggelam erat di peluknya, hingga tak kuasa bangkit berdiri. Kupikir aku akan lebih menikmatinya.

Beberapa saat berselang, sebuah bangunan mungil bercat putih dengan papan kayu bertuliskan Resonance merebut perhatian mataku. Aku menyalakan lampu sen, lalu pria tua dengan payung dan stik merah langsung sigap membantuku memarkirkan mobil. Ia memayungiku hingga aku masuk ke dalam kafe. Di meja kasir, Zara berlari menciumku, mengelapku jaket jeans-ku yang sedikit basah dengan tisu, mempersilahkanku duduk, lalu menggenggam erat tanganku sambil tersenyum lebar sebagai ucapan selamat datang. Ia memilih meja di pojok kafe, cukup intim karena dikelilingi pembatas ruangan yang digantungi berbagai macam pot berisi tanaman obat-obatan.

"Aaah, Oyaak! Lama sekali rasanya. Tiga tahun, kan?" sapanya sebelum melepas genggamannya. Dari sekian banyak manusia yang mengenalku, hanya Zara yang memanggilku dengan nama itu. Bahkan kedua orang tuaku tak pernah memanggilku dengan nama seimut itu.

"Berapa lama ya? Aku lupa. Eh, pakai kerudung sekarang?" tanyaku sedikit terkejut melihat perubahan drastis cara Zara membungkus dirinya sekarang.

Tak langsung menjawab, Zara memalingkan muka ke arah pelayan kafe, memberi anggukan kecil, lalu merapatkan telapak tangannya ke dekat pipi kirinya yang tirus. Pelayan datang membagikan menu sambil tersenyum mempersilakan kami memilih dan berdiri menunggu di sebelah kami. Zara menyuruhnya untuk kembali ke tempatnya saja hingga kami selesai memilih pesanan. Setelah itu, ia kembali menoleh padaku.

"Beberapa bulan sebelum menikah. Satu setengah tahun lah. Yah, tak ada yang tahu kapan hidayah dari Tuhan datang padamu, kan?"

"Nggak ada yang tahu, sih. Yang jelas, Ia tak pernah datang padaku."

"Kau ini, masih sama saja."

Aku ingin menimpali seberapa banyak ia berubah tapi untungnya aku mampu menahan diri untuk menyinggung hal itu lebih jauh. Zara yang kukenal adalah Zara yang tak mengenal kata munafik dalam kamusnya. Kamus yang ia miliki penuh dengan kosa kata cemoohan dan ia fasih menggunakannya. Istilah-istilah itu pun dilontarkan dengan jujur, tanpa niat merendahkan. Ia seringkali menjadi yang terdepan dalam mengajukan pendapat, namun sayang mulut jujurnya kurang bisa ia kontrol sehingga banyak yang terluka karenanya. Aku memang tak banyak bicara, tapi aku nyaman sekali dengan cara otaknya bekerja. Hanya dengannya aku betah membuka mulutku lebih lama. Bisa jadi itu yang membuatku dekat dengannya. Bisa jadi pula, itu alasan orang-orang menjauhi kami. Atau bisa jadi, itu lah alasan mantan pacarku selingkuh dengannya.

Kami membolak-balik halaman buku menu. Ia menutup miliknya dan melambaikan tangan ke pelayan kafe. Ia pesan Hazelnut Latte, aku Cold Brew Toraja. Tak lupa, aku minta asbak dan kami berdua sama-sama mengeluarkan sebungkus rokok Marlboro merah dari tas kecil kami.

"Loh, masih merokok?"

"Memang kenapa?"

"Kupikir sebaiknya seorang ibu jangan merokok."

"Aku belum jadi ibu. Si Dhani belum mau punya anak, ingin menikmati waktu bersama sedikit lebih lama."

Aku pertama kali tahu Dhani, mantan pacarku, selingkuh dengannya beberapa bulan setelah aku meninggalkan Jakarta. Pada waktu itu, dia menelponku lewat Skype -kami rutin melakukannya dua hari sekali dan kupikir kami berdua menikmatinya. Ia mengawali pengakuannya dengan menceritakan rasa kehilangannya atas diriku. Ia bilang, aku dan dia bagai pinang dibelah dua. Dengan sifat yang sama, dengan kebiasaan yang sama. Dengan kebutuhan yang sama, dengan selera yang sama. Ia lalu bercerita saat aku pernah bilang aku suka sekali berteman dengan Zara dan akan memacari Zara andai bisa. Kalau aku saja bisa klop dengan Zara, kenapa dia tidak? Sudah sebulan berjalan, katanya. Dengan alasan seperti itu, ia minta aku memaafkannya dan Zara sekaligus. Aku hancur saat mendengarnya, tapi apa yang bisa kuperbuat? Toh, aku juga ikhlas kalau akhirnya dua orang terdekatku bisa saling membahagiakan satu sama lain.

Setahuku, mereka pacaran dua tahun sebelum menikah. Begitu lulus kuliah (keduanya lulus dan wisuda di waktu yang sama, manis bukan?) orang tua Zara mendesak Dhani untuk segera menikahi putrinya. Padahal, Zara berkali-kali menekankan bahwa ia ingin terlebih dahulu menjadi wanita yang mandiri, yang bebas, dan tak terikat oleh nilai-nilai patriarkial keluarganya. Namun apa daya, ide itu ditolak keluarganya mentah-mentah. Makanya, beruntung lah nasibnya karena Dhani akhirnya mau menikahinya. Dengar-dengar, Zara dan Dhani menikah di saat usia mereka sama-sama dua puluh dua tahun. Zara memang tumbuh di keluarga yang konservatif, tapi Zara sendiri kerap cerita betapa muak ia pada lingkungannya. Ia merasa terkekang karena ayahnya yang pemuka adat di kampung, tak ingin dianggap punya anak seorang perawan tua. Jujur saja saat itu aku tak begitu peduli dengan urusan mereka karena aku sendiri masih hancur karenanya.

Lain cerita, Dhani tumbuh bergelimang harta. Orang tuanya memiliki bisnis properti yang cukup sukses. Sebagai anak tunggal, semua keinginannya dengan mudah ia dapatkan. Seperti dua gitar Les Paul, dua amplifier Orange, dan lima perangkat gim konsol berbeda di kamarnya. Sebuah keistimewaan yang tak dimiliki kebanyakan orang, bukan? Namun sayang keistimewaan itu mahal harganya. Orang tua Dhani jarang sekali di rumah, sekalipun di rumah, setengah waktu mereka dihabiskan untuk menerima tamu dan telepon bisnis. Mereka memang memberi Dhani kebebasan yang mutlak, tapi tidak diikuti oleh kepedulian yang tulus. Kalau kau pernah nonton Richie Rich, kira-kira begitulah gambaran masa kecil Dhani.

Pernah ia bercerita tentang anak-anak sebayanya yang mengajaknya berteman hanya karena ia punya segalanya. Kalau teman-temannya mulai bosan, mereka akan meninggalkan Dhani satu-persatu. Sering Dhani merasa kesepian, dan untuk membuat teman-temannya kembali, ia mentraktir mereka jajan atau mereka tak akan kembali sama sekali. Bagaimanapun, Dhani tak pernah punya satu hal krusial yang sewajarnya dimiliki anak-anak : kasih sayang dan ikatan yang tulus dengan orang-orang sekitarnya. Bahkan setiap keluarganya rutin jalan-jalan ke luar negeri, ia terpaksa berkeliling sendirian karena orang tuanya diam-diam punya urusan bisnis di sana.

Semakin dewasa, Dhani sadar masa kecilnya telah dibarter dengan sampah-sampah mahal yang ia miliki. Ia menjadi penyendiri, sibuk dengan dunianya sendiri, enggan berbagi dengan orang lain. Ia takut orang lain hanya akan memanfaatkannya. Ia takut, orang-orang hanya akan menambah jejak buruk rekaman sejarah hidupnya.

***